Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
221. Menggigit (lb)


__ADS_3

"Jadi?" Siera menatap wajah Farel dengan pandangan menyelidik.


Farel yang melihat wajah Siera, terkekeh kecil merasa lucu dengan ekspresi calon tunangannya itu. "Kenapa tertawa?" ketus Siera kesal.


Farel menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi wajah Siera. Bukannya terlihat menyeramkan, Siera malah tampak lucu di mata Farel. "Ekhm … aku tadi sedang di markas, Sie," ucap Farel.


Mata Siera memicing menatap wajah Farel. "Bohong atau jujur?" tanya Siera.


"Ya jujur, masa orang bohong harus mengaku?" celetuk Farel.


Mata Siera melotot mendengar kalimat Farel. "Oh jadi Kakak aslinya berbohong begitu?" teriak Siera.


Farel terkejut mendengar suara teriakan Siera. "Eh, bukan begitu, Sie. Maksud aku, aku itu jujur dan sama sekali tidak berbohong," ujar Farel cepat.


"CK, membuat kesal saja," gerutu Siera.


"Maaf, Sie. Tadi aku begitu sibuk, aku ingin cepat menyelesaikannya supaya bisa cepat pulang. Aku memang salah karena tidak sempat mengabari kamu," ungkap Farel.


"Memang, lain kali apa pun itu, harus kabari aku. Meski itu hanya satu pesan, tidak tahu kalau aku khawatir apa?" celoteh Siera kesal.


Farel tersenyum tipis mendengar perkataan Siera. "Iya, aku minta maaf, ya." Laki-laki itu menarik telapak tangan Siera dan mengusapnya lembut.


Siera hanya bisa menghela napas pelan mendengar perkataan Farel. Gadis itu sama sekali tidak bisa marah terlalu lama kepada sang calon tunangannya itu. "Baiklah, aku maafkan," sahut Siera.


Sudut bibir Farel tertarik membentuk senyum tipis mendengar kalimat Siera. "Tapi dengan satu syarat," sambung Siera.

__ADS_1


Raut wajah Farel berubah saat mendengar sambungan kalimat Siera. "Apa?" tanya Farel penasaran.


"Belikan aku bakso gunung meletus," ucap Siera.


Mulut Farel ternganga mendengar perkataan Siera. "Bakso gunung meletus? Kamu tidak sedang bercanda kan, Sie?" ujar Farel bingung.


"Tidak, Kak. Kakak pesan sekarang, aku ingin nanti sudah sampai. Aku ingin tidur siang dulu." Siera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sedangkan Farel masih nampak bingung dengan nama makanan yang baru saja diucapkan sang kekasih. "Bakso gunung meletus." Farel mengeja, laki-laki itu mencari nama makanan yang Siera sebutkan.


Setelah sebuah gambar keluar, mata laki-laki itu melotot melihat bentuk makanan itu. "Jadi benar ada bakso gunung meletus? Pantas saja namanya itu, memang seperti gunung meletus. Mana besar lagi, ini sih bisa untuk ratusan orang," gumam Farel berbicara sendiri.


Sedangkan Siera sedari tadi sudah menahan tawa mendengar gumaman laki-laki itu. 'Ingin sekali aku menggigitnya,' batin Siera merasa gemas.


"Kirimkan ini kepadanya, setelah itu kau langsung pergi saja," ucap Rizal kepada seseorang.


"Jadi aku hanya melakukan itu kan?" tanya laki-laki dihadapan Rizal.


"Iya, setelahnya kau boleh pergi," balas Rizal.


"Baiklah, ini hal gampang," balas laki-laki itu.


"Bagus, pastikan besok kau memberikannya langsung. Jangan lewat perantara juga dan jangan kau buka!" peringat Rizal.


"Aku mengerti," balas laki-laki itu lagi.

__ADS_1


"Kau boleh pergi, upah selebihnya aku kirimkan besok setelah kau menyelesaikan tugasmu," tutur Rizal.


"Baiklah." Setelah menyahut, laki-laki itu pergi dari sana meninggalkan Rizal yang nampak tersenyum penuh arti.


"Berani sekali mereka menangkap dan mengurungku. Dipikir aku akan takut kepada mereka, dengan ini malah aku semakin ingin mencari urusan dengan para bedebah itu," gumam Rizal.


"Rizal!" Rizal menoleh saat mendengar suara seseorang memanggil namanya. Laki-laki itu melihat keberadaan Romy yang mendekat bersama beberapa anggota Tiger.


"Kenapa?" tanya Rizal.


"Kalian tunggulah di sana," titah Romy kepada anggota Tiger lainnya.


"Baik," sahut mereka.


Melihat lima anggota Tiger itu menjauh, Romy mulai bersuara. "Tiger belum mengetahui siapa dalang dibalik penyerangan virus IT. Apa menurutmu ini benar-benar ulah Death?" ucap Romy dengan nada pelan.


"Tentu saja, siapa lagi. Memangnya kalian ada musuh selama ini?" balas Rizal santai.


"Yah, aku sebenarnya juga yakin kalau ini ulah Death. Orang-orang di markas juga menebak ini ulah Death. Sebab hanya mereka yang akan mampu melakukan serangan sekuat ini. Hanya saja mereka sedang menebak-nebak, kenapa Death melakukan itu kepada Tiger. Aku semakin tidak tenang," ungkap Romy.


"Jadi kau belum memperlihatkan benda yang aku berikan tadi kepada Jarko?" tanya Rizal.


"Belum, kalau aku berikan sekarang, mereka pasti akan curiga. Aku sekarang sedang ditugaskan untuk pantau area luar. Jika nanti mereka sudah tahu jika Death benar-benar dalangnya, maka baru aku perlihatkan ini. Karena pasti Elzar akan mengatakan kepada Jarko, jika aku menyuruhnya mengganggu sistem pertahan Death tadi malam," jelas Romy.


Rizal mengangguk pelan pertanda mengerti. "Baiklah, terserah padamu. Kau lebih pandai membaca situasi," sahut Rizal.

__ADS_1


__ADS_2