
"Apa?" Tanpa basa-basi, Geo menyahut panggilan telepon mansion itu dengan nada dinginnya.
"Ma-maaf, Ketua. Di gerbang utama ada sepasang paruh baya yang ingin bertemu dengan Nyonya Vetro," balas seorang laki-laki di seberang sana.
Kening Geo berkerut mendengar kalimat itu. Geo melirik ke arah Cara yang sedang berbaring di atas kasur sambil menatapnya. Sedangkan Cara yang melihat Geo meliriknya nampak menatap bertanya sang suami. "Siapa?" tanya Geo.
"Mereka mengaku sebagai Tuan dan Nyonya Gerisam, Ketua," sahut laki-laki itu.
Geo terdiam dengan wajah datarnya, setelahnya laki-laki itu menoleh sempurna ke arah sang istri yang masih nampak bingung. "Ada apa, Dad?" tanya Cara.
"Ada Torih dan istrinya di depan gerbang, Sayang," sahut Geo.
Cara nampak terkejut mendengar perkataan Geo. Wanita itu mendudukkan tubuhnya dan menatap Geo dengan wajah serius. "Mereka ingin apa?" tanya Cara lagi.
"Kayanya mereka ingin bertemu dengan kamu," jawab Geo.
Kening Cara berkerut mendengar perkataan Geo. "Ingin apa mereka menemui aku?" gumam Cara.
__ADS_1
"Usir saja?" Suara Geo menyadarkan lamunan Cara.
"Tidak usah, Dad. Biarkan saja mereka masuk," sahut Cara.
Geo menatap Cara dengan pandangan serius. "Kamu yakin, Sayang?" tanya Geo memastikan.
"Iya, lagi pula mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa di sini kan?" balas Cara.
"Baiklah," sahut Geo.
Setelahnya laki-laki itu kembali meraih telepon mansion itu. "Biarkan mereka masuk," titah Geo.
"Baik, Ketua."
"Astaga, Mas. Ini bahkan jauh lebih besar dan lebih mewah dari kediaman Rical. Aku sudah merasa begitu kagum melihat kediaman Rical, ternyata Cara tinggal di tempat yang lebih mewah lagi," tutur Sasdia terpana dengan mewahnya mansion Vetro.
"Tentu saja, Sa. Ini kediaman Vetro, penguasa bisnis bahkan sudah tingkat internasional," balas Torih.
__ADS_1
"Tapi aku tidak menyangka akan semewah ini, Mas," sahut Sasdia.
Langkah kaki sepasang paruh baya itu terhenti saat merasa bingung harus memilih alur yang mana. Mansion itu terlalu luas sehingga membuat mereka bingung ingin masuk dari mana. "Ini masuknya dari mana, Mas?" tanya Sasdia bingung.
"Aku juga bingung, Sa," sahut Torih.
"Kalian siapa?" Suara seseorang mengejutkan sepasang paruh baya itu.
Torih dan Sasdia menoleh dan mendapati seorang pelayan berjalan dari arah timur. "Oh, maaf Mbak. Kami bingung ingin masuk melalui mana, kami ingi menemui Nyonya Vetro," tutur Sasdia.
Pelayan perempuan itu nampak menatap penampilan Torih dan Sasdia dari atas ke bawah. Sepertinya pelayan itu sedang menilai dua paruh baya itu. "Memangnya kalian siapa? Kenapa bisa dapat izin masuk? Apa lagi untuk menemui Nyonya Vetro," papar pelayan itu.
"Kami ada keperluan, Mbak," sahut Torih.
Tatapan pelayan itu nampak sinis dan memandang rendah Torih dan Sasdia. Sedangkan sepasang paruh baya itu hanya diam tidak ingin mencari keributan di kandang macan itu. Meski mereka tahu betul jika pelayan itu sedang menganggap remeh mereka.
"Ikut aku," ketus pelayan itu.
__ADS_1
Torih dan Sasdia mengikuti langkah kaki pelayan mansion itu sambil menoleh sekeliling. Dalam hati sepasang paruh baya itu, tidak berhenti memuji dan menatap kagum mansion mewah itu. 'Pantas saja Cara akan begitu bahagia. Suaminya sangat baik kepadanya dan dia tinggal di tempat semewah ini. Dia benar-benar beruntung,' batin Sasdia.
'Syukurlah, setidaknya aku bisa bernapas lega saat mengetahui kamu hidup dengan baik di sini. Dea, aku tahu aku salah, tapi setidaknya kamu sudah tenang di sana karena putri kamu sudah berada di tangan orang yang tepat,' batin Torih.