
Alex mendekat ke arah Istak yang sudah terdiam kaku. "Bang." Suara Lamira menghentikan langkah kaki laki-laki itu.
Alex mendekat ke arah Lamira dan membantu gadis itu berdiri. Darah Alex kambali mendidih saat melihat pipi lebam Lamira dan sudut bibir gadis itu mengeluarkan darah. Dada Alex naik turun, laki-laki itu mendongak sejenak. Setelahnya Alex berbalik menatap tajam Istak yang kembali terkesiap. "Kau berani menyentuhnya?" desis Alex.
"Di-dia putriku, Tuan," sahut Istak gugup.
Alex terkekeh sinis mendengar perkataan itu. "Putri? Masih ada muka kau memanggilkan putri, bangsat? Laki-laki sepertimu tidak pantas dipanggil Papa," geram Alex.
Derap langkah bersahutan menyapa indera pendengaran empat manusia yang berada di sana. Dua orang laki-laki yang berstatus sebagai satpam perusahaan Laksa datang terburu-buru. "Mana, Tuan?" tanya salah satu satpam kepada asisten Istak.
Asisten Istak menunjuk ragu ke arah Alex yang sedang menatap mereka datar. "Dia?" tanya seorang satpam lagi. Asisten itu mengangguk kaku.
"Mundur, jika kalian tidak ingin berurusan dengan Death," desis Alex.
__ADS_1
Deg …. Dua satpam yang berniat bergerak itu terhenti saat mendengar nama Death. Mereka menoleh ke arah asisten Istak yang sudah mengangguk kaku. Melihat itu dua laki-laki itu memilih dia, menuruti perintah Alex.
"Dan kau, mulai hari ini … Lamira aku ambil, kau jangan sekali-kali berani mengusiknya lagi," ucap Alex rendah.
Istak terkejut mendengar perkataan Alex. "Tapi kenapa, Tuan?" tanya Istak tidak mengerti.
"Kau tidak berhak tahu, ikuti saja perkataanku." Kalimat Alex kali ini seakan membalikkan perkataan Istak tadi kepada Lamira.
"Tuan." Suara seseorang mengalihkan perhatian semua orang. Empat pasang mata melotot melihat keberadaan laki-laki bersetelan khas Death.
Laki-laki yang merupakan salah satu anggota Death itu mendekat ke arah Alex dan memberikan sebuah koper kecil kepada Alex. Setelahnya Alex membuka koper kecil itu dan melemparkannya ke arah Istak. Lembaran kertas berwarna merah berhamburan di atas lantai. Semua mata melotot, tidak terkecuali dengan Lamira.
"Itu adalah uang untuk ganti rugi kau membesarkan Lamira, seperti yang kau bahas tadi. Jika kurang … kau boleh mengunjungiku ke markas Death. Aku akan memberikan lebih kepadamu." Setelah mengatakan hal itu, Alex menarik tangan Lamira dan membawa gadis itu pergi dari sana.
__ADS_1
...*****...
"Sayang …." Cara menoleh saat mendengar suara Geo memanggilnya.
Seorang laki-laki tampan nan kekar itu berjalan mendekat ke arah sang istri yang sedang menyiapkan sarapan. Geo memeluk tubuh mungil istrinya dan mencium tengkuk Cara hangat. Sedangkan wajah Cara sudah memerah karena malu, Geo melakukannya dihadapan para pelayan yang sedang ramai. "Kak, malu," bisik Cara.
Geo menoleh dan melihat seluruh karyawan tampak mengalihkan pandangan merasa canggung. Laki-laki itu menghiraukannya, Geo memilih berjongkok di depan istrinya berniat menyapa calon anak mereka. "Hai, anak Daddy. Sudah semakin besar belum di sana?" Geo mencium perut rata sang istri pelan dan memeluk pinggang Cara hangat.
Cara yang melihat itu tersenyum manis. "Tentu, Daddy. Aku akan semakin besar nantinya," sahut Cara menirukan suara anak kecil.
Geo mendongak dan terkekeh, setelahnya laki-laki itu berdiri dan mencium puncak kepala sang istri. "Hari ini ingin makan apa, Mommy?" tanya Geo lembut.
"Aku ingin makan sop ayam," balas Cara.
__ADS_1
Geo mengangguk kecil kemudian membawa tubuh istrinya ke atas kursi. Setelahnya laki-laki itu ikut duduk di kursi utama meja makan itu. Baru saja Cara ingin menyendokkan sop ayam ke dalam piring sang suami, Geo sudah membekap mulutnya. Setelahnya laki-laki itu berlari cepat ke arah westafel. Cara yang melihat itu menatap kepergian Geo khawatir.