
Alex membuka pintu mobilnya dan bersiap untuk masuk. Namun, pergerakannya terhenti kala sebuah botol bekas melayang tepat di kepala belakangnya. Bukk …. "Bangsat!" umpat Alex.
Laki-laki itu mengusap kepala belakangnya sambil menoleh ke belakang mencari si pelaku. Laki-laki itu mengernyit kala melihat seorang gadis sedang berlari mendekat ke arahnya. "Sorry, Bang. Tapi tolong saya dulu." Gadis itu bersuara sambil mendekat ke arah Alex.
Alex masih menatap bingung gadis yang tidak dikenalnya itu. "Hei, apa-apaan ini." Alex protes kala gadis itu mendorongnya masuk ke dalam mobilnya sendiri.
"Bawa mobilnya, Bang. Please." Alex ternganga kala melihat gadis itu sudah duduk di bangku penumpang sambil menatapnya memohon.
"Nona." Alex melirik kaca spion mobilnya, di luar sana ada sekelompok laki-laki sedang berlari ke arah mereka.
"Ayo, Bang." Gadis itu menoleh panik ke belakang mobil. Sedangkan Alex hanya menatap datar gadis yang kini juga sedang menatapnya.
"Bang, aduh … nanti saya bayar. Lajuin dulu mobilnya," pinta gadis itu.
Alex masih diam sambil melipat tangannya di depan dada. "Astaga!" teriak gadis itu frustasi.
Tanpa aba-aba, gadis itu berdiri dari duduknya dan berpindah ke atas pangkuan Alex sehingga membuat Alex melotot terkejut. "Apa yang kau lakukan, bangsat?" teriak Alex terkejut.
"Abang pindah ke sana, biar saya yang bawa mobilnya," papar gadis itu santai.
__ADS_1
"Ini mobil saya, jangan seenaknya. Minggir!" geram Alex. Tubuh laki-laki itu sudah terdiam kaku dengan keberadaan gadis itu di atas pangkuannya.
"Ya sudah, saya tidak punya banyak waktu sekarang Bang. Jadi … maafkan saya ya." Setelah mengucapkan itu, gadis itu menghidupkan mesin mobil Alex dan mulai melajukannya.
Bagaimana dengan Alex? Laki-laki itu sudah meneguk ludahnya kasar sambil mengangkat kedua tangannya ke atas supaya tidak menyentuh tubuh gadis di depannya. 'Gadis gila,' umpat Alex di dalam hati.
Alex melotot kala laju mobil bertambah berkali lipat. "Woi, turunkan lajunya. Kau ingin mati?" teriak Alex.
"Tenang saja, Bang," sahut gadis itu santai.
"Tenang katamu? Kau memang gadis gila, kalau kau ingin mati, ya mati saja sendiri. Jangan mengajakku, aku masih ingin menikah," tutur Alex asal. Laki-laki itu sudah melupakan posisi duduk mereka karena terlalu panik dengan aksi gila gadis itu.
"Ya sudah, kalau begitu nanti kita menikah," balas gadis itu ringan.
"Banyak yang mengataiku seperti itu, sih," balas gadis itu acuh.
"Itu di depan ada tong sampah, belok kiri bangsat!" Alex berteriak.
"Lah, kaki saya keram, Bang," keluh gadis itu.
__ADS_1
"Sh**," umpat Alex. Laki-laki itu dengan segera mengambil alih setir mobil dan mencoba membelokkannya. Namun, karena keberadaan tubuh gadis itu dia sedikit kesulitan.
Brak … trang … tang … tang …
Bunyi memekakkan telinga akibat peraduan tong sampah dengan mobil berlanjut terhempas ke jalanan aspal. Alex menghela napas panjang kala mobilnya berhenti dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Seluruh isi tong sampah itu sudah berhamburan ke badan mobil tanpa terkecuali. Alex menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil memijit keningnya kesal.
Sedangkan gadis itu sudah meringis melihat keadaan mobil Alex. 'Mampus,' batin gadis itu.
"Kau tidak ingin minggir?" Suara berat Alex mengejutkan gadis itu.
"So-sorry, Bang," ucap gadis itu. Setelahnya dengan perlahan gadis itu berdiri berniat pindah ke kursi penumpang.
Namun, karena kakinya tersangkut membuat gadis itu oleng dan jatuh ke tubuh Alex. Duk …. "Shhh …." Secara bersamaan Alex dan gadis itu meringis saat kepala mereka saling beradu.
Alex menghela napasnya berat mencoba mengontrol emosi. Sedangkan gadis tadi sudah memegang keningnya sambil meringis. "Kepalamu keras sekali, Bang," papar gadis itu.
"Minggirlah," geram Alex.
Dengan gerakan cepat gadis itu segera berpindah tempat dengan hati-hati. Setelahnya Alex keluar dari mobil dan meringis melihat keadaan mobilnya. "Ck …," decak Alex kesal.
__ADS_1
Laki-laki itu mengambil ponselnya dan berniat menghubungi seseorang. Sedangkan gadis tadi ikut keluar dengan wajah bingung. 'Ah, masalah baru.' Gadis itu membatin sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Bawakan mobil ke sini, cepat!" titah Alex tegas.