
"Aku ingin makan omelet saja Kak," sahut Cara.
Jesy terkejut saat Geo mengambilkan sepotong omelet untuk Cara. Sebegitu dimanjakah Cara olehnya? Sedangkan Cara dengan segera mengambil piring kosong. Sudah menjadi sebuah rutinitas bagi sepasang suami istri itu bertukar makanan. Geo akan mengambilkan makanan untuk Cara begitu pun sebaliknya, Cara akan mengambilkan makanan untuk Geo.
Jesy yang baru sadar bahwa dirinya masih berdiri, wanita itu menarik sebuah kursi di samping Rical. Melihat itu Cara segera menatap sinis ke arah Jesy. "Mau apa kau?" tanya Cara.
Suara itu membuat Jesy terkejut. "Tentu saja duduk," sahut Jesy malas.
"Jangan duduk di sini, aku tidak berselera jika makan satu meja bersamamu," tutur Cara.
Jesy melotot mendengar itu, ingin sekali wanita itu membalas kalimat Cara. Namun, akal sehatnya masih berfungsi kala mengingat keberadaan Geo. Dia jelas tahu bagaimana liarnya pemimpin Death itu melenyapkan musuh. Jesy menoleh ke arah Rical seakan meminta pembelaan. "Kau makan di belakang sana, atau ke kamarmu saja" ujar Rical santai.
Untuk kesekian kalinya Jesy melotot tidak percaya. Dengan terpaksa wanita itu berjalan menjauh dari sana dengan keadaan marah. Sedangkan Cara yang melihat itu sudah tersenyum puas. "Setelah ini semua selesai, nanti kau aku panggil untuk membersihkan meja makannya," celetuk Cara sedikit berteriak.
__ADS_1
Jesy yang mendengar itu mengepalkan tangannya marah. "Dia pikir aku pelayannya?" gumam Jesy benci.
.
.
.
"Kamu ingin di sini, Sayang?" tanya Geo.
Geo mengangguk singkat. "Kalau sampai mereka menyentuhmu, aku tidak akan diam Baby," ujar Geo.
"Iya Kak, Kak Ge sana Kak Rical pergi saja. Aku akan baik-baik saja di sini," balas Cara.
__ADS_1
"Aku akan menyuruh pengawal dan pelayan memantau kegiatan kalian. Kau tenang saja, aku jelas tidak akan membiarkan mereka menyakiti Cara," tukas Rical.
"Kalau sampai istriku kenapa-kenapa, mansionmu ini aku ratakan," tutur Geo datar.
Rical melotot terkejut, setelahnya laki-laki itu mendengus kesal. "Kau pikir membangun mansion ini cukup dengan uang dua ribu rupiah?" papar Rical kesal.
Sedangkan Cara sudah terkekeh mendengar itu semua. "Aku tidak akan apa-apa Kak, pergilah," ujar Cara meyakinkan.
Geo mengusap lembut rambut sang istri sambil memeluknya posesif. Sedangkan Rical kembali mendengus sambil memutar bola matanya kesal. "Benar kata Alex, mereka benar-benar tidak tahu tempat. Ck … lebih baik aku pergi dari sini, aksi mereka membuat pedangku menegang. Andai aku masih ada sedikit waktu untuk bermain bersama Melani." Alex menjauh dari sepasang suami istri itu sambil melihat keberadaan pelayannya yang bernama Melani.
Rical melirik singkat ke belakang, di sana Geo dan Cara masih saja bermesraan. Melihat itu Erick tersenyum senang, dengan langkah lebar laki-laki itu mendekat ke arah Melani yang sedang membersihkan meja makan bersama pelayan lainnya, termasuk Jesy yang ikut berada di sana. Melani terkejut saat dengan tiba-tiba Rical menarik tangannya dan mencubunya mesra.
Sedangkan Jesy yang sempat terkejut sudah melotot tidak percaya. Dia melihat sendiri suaminya mencubu wanita lain bahkan tepat di depan matanya. Tangan Jesy terkepal melihat itu semua, belum lagi tatapan mengejek yang diberikan pelayan lainnya untuk Jesy. "Rical!" teriak Jesy marah.
__ADS_1
Rical yang sedang mencumbu bibir dan meraba tubuh Melani hanya melirik Jesy tanpa menghentikan kegiatannya. Hal itu malah membuat Jesy semakin emosi. Dada Jesy naik turun merasa tidak terima diperlakukan rendah oleh Rical.