Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
222. Kembar Empat (lb)


__ADS_3

"Bangsat! Kenapa ini malah semakin tidak jelas?" amuk Elzar. Laki-laki itu nampak frustasi dengan serangan virus IT itu. Sedangkan Jarko sudah mengepalkan tangannya merasa begitu marah.


"Siapa yang berani mengganggu ketenangan Tiger. Beberapa bulan ini Tiger tidak ada masalah dengan siapa pun. Apa lagi orang berpengaruh seperti ini," geram Jarko.


"Aku rasa dia sengaja menggantung kita. Aku sudah mencoba berbagai cara yang aku bisa, tapi tidak ada satu pun yang membuahkan hasil. Kita malah terus berputar di tempat yang sama," papar Elzar.


"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya seorang laki-laki.


"Kalian tetap pantau, dan kendalikan supaya virus tidak semakin masuk. Hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah mempertahankan data-data Tiger. Jangan sampai salah rumus, kalian bisa membuat Tiger dalam masalah besar. Apa lagi kalau sampai orang luar tahu, mereka bisa memanfaatkan ini untuk menjatuhkan Tiger," ungkap Jarko.


"Iya, kalian lanjutkan. Aku yang akan mencari cara, tetap jaga data-data Tiger," tambah Elzar.


"Kenapa tidak kita ambil saja semua data-data itu?" tanya seorang laki-laki.


"Tidak semudah itu, jika kita keluar dari halaman ini. Hanya ada dua kemungkinan, pertama … data kita memang bisa kembali dan diamankan. Yang kedua, data kita bisa tersebar luas tanpa pengendalian siapa pun, dan aku tidak ingin mengambil resiko itu," jelas Elzar.


Semua anggota IT yang berada di sana hanya bisa menghela napas mendengar kalimat Elzar. "Terus lanjutkan, aku juga sedang berusaha," titah Elzar.


"Baik!" sahut sekelompok anggota IT serentak.

__ADS_1


Jarko mengusap wajahnya kasar, merasa begitu kehilangan akal. "Apa ada hal lain yang masih ada kemungkinan, Zar?" tanya Jarko kepada Elzar.


"Aku tidak tahu, kepalaku rasanya ingin pecah," balas Elzar.


"Ck, aku hubungi Romy dulu. Dia sudah sampai mana," ucap Jarko.


...*****...


"Jadi?" tanya Geo.


"Rical sudah menangkap pengkhianat itu, dan Farel sudah membuat Tiger heboh saat ini," jelas Alex.


"Belum, kau tahu sendiri bagaimana ahlinya sang IT kita ini." Alex menepuk-nepuk pundak Farel yang nampak menatapnya malas.


Farel menghempaskan tangan Alex dari pundaknya dengan wajah datar. "Aku rasa mungkin sekarang mereka sudah putus asa," ujar Rical.


"Benar, karena semua kuncinya ada di sini," tambah Alex.


"Sudah, lebih baik kau buka saja lagi kuncinya. Aku sudah tidak sabar ingin segera menangkap dan menghabisi laki-laki gila itu," kata Rical.

__ADS_1


Farel menoleh ke arah Geo seakan meminta izin dan pendapat. Geo melirik singkat, kemudian laki-laki itu mengangguk pelan. Melihat Geo mengangguk, Farel segera meraih laptopnya dan mulai menghidupkan benda itu. "Aku tidak sabar ingin melihat ekspresi mereka saat tahu jika kau penyerang IT mereka," cetus Alex.


"Sudah pasti Jarko akan merasa bingung, sebab selama ini Death dan Tiger tidak ada masalah. Jadi aku lebih penasaran dengan alasan bedebah itu kepada Jarko," sambung Rical.


"Benar juga," sahut Alex.


Tap …. Farel mulai memainkan jari-jari tangannya di atas keyboard laptop. Nampak pergerakan itu begitu kencang, memperlihatkan betapa ahlinya sang kulkas berjalan itu. Mata Farel nampak serius menatap layar laptop dengan tangan yang terus bergerak cepat di atas keyboard. Tiga laki-laki lainnya hanya diam melihat dan menunggu aksi Farel.


Klik …. Layar laptop itu kini memperlihatkan pergerakan sekumpulan laki-laki yang nampak sibuk dengan komputer masing-masing. "Kasihan sekali mereka, sudah dua jam ternyata mereka masih setia di sana," ejek Rical.


"Bukalah aksesnya, Fel. Aku penasaran dengan ekspresi mereka," tutur Alex.


Mendengar itu, Farel meraih tablet yang sedari tadi dihubungkan dengan data laptopnya. Farel nampak sibuk terus mengotak-atik layar sentuh benda pintar itu. "Nah itu si bedebah, pas sekali mereka semua berkumpul di sana." Rical berucap sambil menunjuk sosok Romy di dalam layar laptop Farel.


"Mari bersiap," gumam Farel.


Klik …. Farel memencet sebuah ikon di layar tablet miliknya. Beberapa detik berselang, nampak sekumpulan laki-laki yang berada di dalam layar laptop itu mulai heboh. Pergerakan tangan mereka nampak semakin cepat. Melihat itu tiga laki-laki di samping Farel, menoleh ke arahnya. "Kau tidak membuka aksesnya?" tanya Alex.


Farel tersenyum miring mendengar pertanyaan Alex. "Memberikan sedikit permainan untuk musuh, bukanlah hal yang salah bukan. Sebelum menunjukkan jati diri, akan lebih seru kalau membuat jantung dan suasana hati musuh tidak tenang dulu. Hanya satu menit, setelah itu mereka akan tahu," papar Farel.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Farel, tiga laki-laki yang berada di sana ikut tersenyum miring. "Aku tidak menyangka, ternyata kita memang kembar empat jika masalah menghadapi lawan," celetuk Rical.


__ADS_2