
"Aku tidak tahu jika Romy memiliki sepupu awalnya. Tapi dua bulan yang lalu, dia mengatakan kalau dia punya sepupu dan dia ingin data-data sepupunya itu ikut disembunyikan," jelas Jarko.
"Iya, kami waktu itu jelas tidak punya rasa curiga. Karena kami memang tidak pernah bertemu langsung dengan laki-laki bernama Rizal itu," tambah Elzar.
"Rizal itu gila, memang mentalnya yang tidak beres," cetus Alex.
"Tapi dia tidak sampai melakukan itu kepada gadisnya Tuan Carves kan?" tanya Alex ingin memastikan.
"Untungnya belum, kami datang tepat waktu. Tapi tetap saja, dia sudah melakukan hal binatang. Bagi seorang perempuan, tubuh mereka sangat berharga. Helen sekarang merasa sangat ternoda dan kotor," sahut Alex.
Jarko dan Elzar mengangguk pelan, apa yang dikatakan Alex ada benarnya. Meski Rizal baru sampai pada tahap mencium dan merobek baju. Tetap saja bagi setiap perempuan yang menjaga kehormatannya, itu adalah suatu keburukan yang begitu berpengaruh.
"Bye the way, tidak usah memanggil secara formal seperti itu. Panggil saja nama panggilan kami. Aku merasa sedang membahas masalah bisnis di kantor," sambung Alex.
Jarko dan Elzar terkekeh kecil mendengar kalimat Alex. "Benar juga, tapi aku tidak menyangka ternyata kamu orangnya begitu humbel juga. Selama ini yang aku tahu kamu hampir sama dengan dua laki-laki ini," papar Jarko.
"Aku? Sama seperti mereka yang irit bicara ini? Oh, tidak mungkin. Aku sehari saja tidak bersuara, rasanya sudah tidak bernyawa. Mulutku ini akan terkena sariawan kalau tidak berceloteh dalam sehari," kata Alex dengan majas hiperbolanya.
Empat manusia yang berada di sana tertawa mendengar kalimat Alex. Tentu saja tidak dengan Geo dan Farel yang masih nampak diam dengan wajah datar mereka. Melihat itu membuat Cara merasa gemas dengan suaminya itu. "Senyumlah, Daddy."
Cara menarik ujung bibir Geo dan memaksa laki-laki itu untuk tersenyum. Bukannya jadi terpaksa, Geo malah benar-benar tersenyum karena ulah Cara. "Nah, seperti itu," kata Cara merasa puas melihat senyum suaminya.
Sedangkan Jarko dan Elzar hanya diam melihat perlakuan Geo kepada Cara yang jelas begitu hangat. "Maklum saja, ya. Mereka memang begitu, bermesraan tanpa melihat tempat," celetuk Alex.
__ADS_1
Jarko dan Elzar menoleh dan terkekeh mendengar kalimat Alex. Mata Jarko saat ini sedang tertuju ke arah bayi kecil yang sekarang berada di gendongan Siera. "Apa dia bayimu?" tanya Jarko kepada Cara.
"Iya, Kak," sahut Cara.
Jarko tersenyum melihat Geno dengan pandangan berbinar. Sepertinya laki-laki itu adalah tipe laki-laki penyuka anak kecil. "Kakak suka anak kecil? Ingin menggendongnya?" sambung Cara.
Mata Jarko membulat saat mendengar kalimat Cara. "Benarkah? Boleh aku menggendongnya?" tanya Jarko terkejut.
Cara tertawa kecil melihat raut bahagia laki-laki itu. "Tentu saja," papar Cara.
Secara perlahan, Cara mengambil alih Geno dari Siera. Kemudian wanita itu berniat memberikan Geno kepada Jarko. Namun, pergerakannya terhenti oleh suara Geo. "Stop, Baby. Biar aku saja," ucap Geo.
Cara terkekeh melihat Geo nampaknya tidak ingin dirinya bersentuhan dengan laki-laki lain. Geo dengan cepat mengambil alih Geno, kemudian memberikan bayi tampannya itu kepada Jarko yang nampak sudah begitu senang. "Astaga, matanya biru laut?" tutur Jarko begitu terkejut.
"Aku menjadi tidak sabar menunggu kelahiran anakku. Mungkin besok mereka akan menjadi teman," celetuk Jarko.
"Istrimu sedang hamil?" tanya Alex.
"Iya, sudah tujuh bulan," sahut Jarko.
"Wah, benarkah? Sesekali ajaklah dia bermain bersama kami. Boleh main ke mansion," tutur Cara.
"Eh, boleh?" tanya Jarko ragu.
__ADS_1
"Boleh, kasihan kalau dia terus Kakak kurung sendirian. Apa lagi dia sebentar lagi akan melahirkan, dia akan menjadi teman sepantaran bagi Geno besok," balas Cara.
"Kalau anakku perempuan, aku jodohkanlah dengan anakmu. Pasti dia akan sangat tampan nantinya," celoteh Jarko. Sedangkan Cara hanya tertawa kecil mendengar kalimat laki-laki itu.
...*****...
"Kamu sudah baik-baik saja, Len?" tanya Cara kepada Helen.
"Iya, Kak. Aku ingin pulang," balas Helen lembut.
Cara tersenyum mendengar kalimat Helen. "Iya, sabar dulu ya. Kak Rical sedang mengurus semuanya supaya kamu bisa pulang hari ini," sahut Cara.
"Kalau aku tetap di sini, berarti besok aku tidak bisa hadir ke pesta pertunangan Kak Siera. Aku kan juga ingin ikut, baju sudah dibeli. Sayang kalau tidak dipakai," ucap Helen polos.
Cara tertawa kecil mendengar kalimat Helen. "Iya, kamu pasti pulang hari ini. Kamu tenang saja, tidak usah khawatir," kata Cara.
"Aku juga sangat rindu menggendong Geno. Kalau di sini, aku tidak bisa bergerak karena selang infus ini. Ingin aku lepaskan saja rasanya, menghambat saja," celetuk Helen.
"Eh, jangan. Tunggu Dokter dulu, nanti juga bisa menggendong Geno lagi. Makanya cepat sehat, Geno juga sudah merindukan Maminya," tutur Cara.
"Benarkah, Kak?" tanya Helen.
"Iya, makanya cepat sehat," jawab Cara.
__ADS_1