Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
261. Alter Ego (lb)


__ADS_3

"Jadi apa sebenarnya yang terjadi dengan putraku?" tanya Geo.


"Begini, Tuan Vetro. Jika dilihat dari gejala dan tanda-tandanya, sebenarnya ini masih berada di antara kepribadian ganda dan alter ego. Sebab jika dikatakan sebagai kepribadian ganda, dia masih sadar dengan siapa pemilik tubuh aslinya. Tapi kalau disebut sebagai alter ego, dia juga masih bisa mengendalikan tubuhnya. Ditambah lagi dengan gelagat tubuh dan bola mata yang ikut berubah. Saya hanya bisa mengatakan hal seperti ini, Tuan. Bisa dikatakan alter ego tapi dengan gejala yang berbeda."


Geo diam mencerna kalimat dari seorang laki-laki di depannya. Setelahnya Geo menoleh ke samping dan menatap raut wajah sang istri. Laki-laki itu menyentuh telapak tangan istrinya sambil tersenyum tipis ke arah wanita itu.


"Ini aman kan, Dok? Maksud saya, Geno tidak akan melukai dirinya sendiri kan?" tanya Cara.


"Sejauh yang saya lihat kemungkinan tidak, Nyonya. Tapi saya juga tidak bisa memastikan, karena orang yang memiliki gejala seperti itu, biasanya pemikiran dan perasaannya tidak stabil. Tapi seperti yang saya katakan tadi, Tuan Muda Vetro, dia memiliki gejala yang berbeda. Jiwa lain di dalam tubuhnya itu keluar di saat dia merasa marah dengan sesuatu yang mungkin mengancam dirinya, atau mengancam orang di sekitarnya. Jadi jika saya menyimpulkan, saya rasa jiwa lain dari Tuan Muda Vetro ini tidak berbahaya untuk dirinya sendiri. Malah sepertinya jiwa lain dari Tuan Muda Vetro ini adalah pelindung untuk Tuan Muda Vetro sendiri."

__ADS_1


Cara sedikit bernapas lega mendengar penjelasan dari dokter sekaligus psikolog di depannya itu. Geo narik tangan sang istri kemudian mengusap punggung tangan wanita itu lembut. "It's okey, Baby. Aku yakin Geno akan baik-baik saja. Aku juga melihat jika jiwa lain Geno yang mengaku sebagai Taros itu, bermaksud baik untuk tubuh Geno sendiri," ucap Geo.


"Aku hanya takut, jika Geno kenapa-napa, Dad," papar Cara nampak begitu khawatir.


"Tidak, Geno adalah anak kita yang kuat. Aku yakin dia akan baik-baik saja," balas Geo.


...*****...


"Mama baru saja membelikan kamu ini. Kamu suka ini kan?" Sasdia memberikan sepotong semangka kepada putrinya itu.

__ADS_1


Jesy meraih semangka itu setelahnya tersenyum tipis ke arah Sasdia. Satu tahun yang lalu Jesy sudah diizinkan untuk keluar dari rumah sakit jiwa. Perkembangan wanita itu cukup bagus meski Jesy masih enggan mengeluarkan suaranya. Sasdia dan Torih tidak masalah dengan hal itu selagi mereka masih bisa melihat dan menatap wajah dan senyum dari Jesy.


"Hari ini anak Mama ingin makan dengan apa?" tanya Sasdia lembut.


Jesy menatap sepotong semangka berwarna merah di tangannya. Setelahnya secara perlahan Jesy menggigit sepotong semangka itu. "Tahu," celetuk Jesy pelan.


Sasdia tersenyum tipis mendengar suara pelan dari putrinya. Seperti itulah Jesy, jika ditanya dia hanya akan menjawab dengan jawaban yang begitu singkat dan pelan. Namun, meski begitu Sasdia dan Torih sudah sangat senang.


"Selamat sore." Suara berat seseorang mengalihkan perhatian Sasdia dan Jesy. Sasdia tersenyum tipis ke arah seorang laki-laki yang saat ini sedang berjalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Selamat sore juga, Nak Rian," balas Sasdia ramah.


Meski sudah tidak lagi menjadi dokter untuk Jesy. Rian masih berkomunikasi dengan Sasdia, Torih dan Jesy. Laki-laki dewasa itu hampir setiap hari mengunjungi kontrakan keluarga kecil itu. Tidak jarang juga Rian membawa makanan yang disukai Jesy.


__ADS_2