Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
237. Datang (lb)


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Helen, Kak?" tanya Cara kepada Rical.


Laki-laki itu menghela napas pelan sebelum menyahut pertanyaan Cara. "Sudah lebih baik, tapi dia masih sering tidak tenang dalam tidurnya," jelas Rical.


Cara menatap wajah Helen dari luar kamar. Saat ini gadis itu sedang diperiksa oleh dokter. Kebetulan sekali Cara dan Geo baru datang untuk mengunjungi Helen. "Jelas saja, karena itu bukanlah hal sepele yang mudah untuk dilupakan," balas Cara.


"Kau sudah mengambil keputusan?" tanya Geo.


Rical menoleh menatap wajah Geo sejenak. Setelahnya laki-laki itu kembali menghela napas pelan. "Sudah," sahut Rical pelan.


"Jadi?" tanya Geo lagi.


"Mungkin memang lebih baik aku menikahi Helen. Tidak ada juga yang perlu ditunda," balas Rical.


Cara dan Geo saling pandang dan tersenyum mendengar jawaban Rical. "Bagus, ingin aku bantu mengaturnya?" tanya Geo.


"Aku juga akan siap sedia membantu, ah … bagaimana kalau acara lamarannya saat acara pertunangan Siera dan Kak Farel nanti?" usul Cara.


"Aku lupa ternyata Farel dua hari lagi akan bertunangan. Apa Helen akan baik-baik saja sampai hari itu?" balas Rical.


"Nanti tanya kepada Dokter," sahut Geo.


"Aku harap bisa, sekalian saja kan. Tidak perlu ditunda terlalu lama lagi, tidak baik," tutur Cara.


...*****...

__ADS_1


Geo berjalan pelan menuju markas Death. Laki-laki itu tidak sendiri melainkan bersama sang istri dan juga anak bayinya. Geo saat ini berjalan dengan membawa tubuh kecil Geno di dalam gendongannya. "Ingin langsung ke kamar, Sayang?" tanya Geo.


"Aku ingin di sini dulu, Dad. Malas kalau harus di dalam kamar, di sini cukup ramai," balas Cara.


Geo menoleh sekeliling, banyak anggota Death yang sedang berada di sana. Semua anggota Death itu nampak menunduk saat Geo menoleh ke arah mereka. "Tidak apa-apa?" tanya Geo lagi.


"Tidak apa-apa, Daddy pergi saja. Kan aku masih di sini, lagi pula Siera juga ikut bersama Kak Farel ke sini. Aku tinggal menunggu dia datang," ungkap Cara.


"Baiklah kalau begitu, kalau ingin apa-apa, katakan saja kepada mereka. Mereka pasti akan membantu kamu," tutur Geo.


"Iya, Daddy," balas Cara.


"Jaga mereka," titah Geo kepada anggota Death.


"Baik, Ketua!" sahut mereka serentak.


"Kamu ini, Dad. Anak sekecil ini sudah ingin diajarkan dunia mafia," celetuk Cara.


Geo terkekeh kecil menanggapi perkataan istrinya. "Geno adalah calon penerus Death, Sayang. Dia akan aku buat menjadi laki-laki tangguh yang ditakuti dan disegani setiap umat nantinya. Bahkan nanti dia akan mencapai puncak yang lebih tinggi dari pada aku, Daddy-nya ini," papar Geo serius.


Cara menatap Geo sambil tersenyum tipis. "Iya, Daddy. Aku tahu, sepertinya dia juga akan lebih keras dari pada kamu," sahut Cara.


"Memang, karena dia adalah perpaduan antara kita berdua. Tanpa kamu sadari, kamu juga begitu keras, Baby," balas Geo berbisik.


Cara terdiam sejenak, setelahnya wanita itu mendongak menatap wajah suaminya. "Sudah, aku pergi ya, Sayang," pamit Geo lagi.

__ADS_1


"Iya, Dad," balas Cara.


Baru saja Geo akan melangkah kakinya, sebelum suara seseorang mengalihkan perhatian Geo. Pemimpin Death itu menatap satu laki-laki yang sedang berjalan ke arahnya. "Maaf, Ketua. Di gerbang utama ada inti Tiger," ucap laki-laki itu.


Kening Geo berkerut mendengar perkataan salah satu anggota Death itu. "Apa yang mereka lakukan?" tanya Geo.


"Mereka ingin mendapatkan izin untuk masuk ke dalam markas dan menemui Anda, Ketua."


Tring … Tring … Tring …


Suara telepon genggam Geo mengalihkan perhatian. Laki-laki itu mengambil ponselnya dan menerima telepon dari Farel. "Aku di depan, ada Jarko dan Elzar. Mereka ingin masuk dengan kedamaian," ucap Farel tanpa basa-basi.


"Baiklah," balas Geo. "Buka gerbang," titah Geo kepada anggota Death tadi.


"Baik, Ketua."


"Siapa, Dad?" tanya Cara penasaran.


Geo menoleh saat mendengar suara sang istri. Laki-laki itu sempat melupakan keberadaan Cara di ruangan utama markas itu. "Inti Tiger, Sayang. Kamu masuk ke kamar?" balas Geo.


"Memangnya mereka ingin mencari masalah?" tanya Cara lagi.


"Tidak, sedari dulu hubungan Death dan Tiger baik-baik saja dan tidak ada masalah. Kejadian kemarin hanya sebuah adu domba," cetus Geo.


"Ya sudah, kalau begitu aku tetap di sini. Aku bosan dikurung di ruangan terus," celetuk Cara.

__ADS_1


Geo yang mendengar kalimat Cara, hanya mampu terkekeh kecil. "Baiklah, Mommy. Mungkin baby Geno juga ingin berada di sini," balas Geo mengalah.


__ADS_2