
Farel tersenyum miring saat melihat virus IT yang dia kirimkan sudah sampai di tempat tujuan. "Sudah kau kirim?" tanya Alex.
"Sudah sampai, pas sekali di sana sedang ada Jarko. Ternyata mereka memakai teknologi yang hampir sama dengan Death. Tapi, jelas saja punya mereka masih kalah jauh dari Death," ungkap Farel.
"Jelas saja, sebab di negara ini belum ada yang bisa menyamai Death. Jadi mereka belum tahu?" tutur Alex.
"Belum, tunggu lima menit lagi," sahut Farel.
Cklek …. "Aku sudah menangkap pengkhianat itu." Rical baru saja masuk dan langsung bersuara.
"Kau apakan dia?" tanya Alex penasaran.
"Aku hanya membuatnya sedikit patah tulang," balas Rical santai.
"Apa kata sedikit yang kau maksud itu, ujungnya di ruangan operasi?" papar Alex.
"Aku masih baik dengan membiarkannya tetap hidup sekarang. Aku masih belum puas," ujar Rical.
Alex yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jika sifat Geo dan Rical sangat bertolak belakang. Namun, jika sedang berada di puncak kemarahan. Dua laki-laki itu seakan anak kembar, sama-sama gila. Bedanya, Geo sangat pintar mengontrol emosi, berbeda dengan Rical yang begitu gampang tersulut emosi dan lepas kendali.
"Bagaimana dengan Tiger?" sambung Rical bertanya.
__ADS_1
"Satu menit lagi," balas Farel.
"Wah, ada Jarko. Sepertinya ini akan menarik." Rical tersenyum miring menatap pemandangan di layar laptop milik Farel.
Tiga laki-laki itu begitu serius melihat kegiatan anggota Tiger di dalam layar laptop Farel. "Tiga …." Farel mulai menghitung mundur seakan semuanya akan segera dimulai.
"Dua."
"Satu."
Wuing … Wuing … Wuing …
"Kalau alarm sudah berbunyi seperti ini, itu menandakan penyerang bukan dari orang biasa. Ini peringatan tingkat tinggi," sambung Jarko serius.
Sedangkan Elzar nampak sibuk dengan layar komputer di depannya. Kening laki-laki itu nampak berkerut sambil terus mengotak-atik keyboard komputer. "Panggilkan anggota inti IT, semuanya!" teriak Elzar kepada salah satu anggota IT di dalam ruangan itu.
Mendengar itu, Jarko nampak semakin serius. "Apa separah itu?" desis Jarko.
"Ini bukan penyerang biasa, aku tidak bisa menanganinya sendiri. Data-data kita bisa bobol jika aku nekat, tapi kalau kita terlambat, juga bisa bahaya," jelas Elzar.
"Sh**! Siapa yang berani menyerang Tiger? Apa mereka sudah bosan hidup?" desis Jarko.
__ADS_1
"Fu**! Pengirimnya hanya satu orang, gila!" ucap Elzar nampak terkejut.
Kening Jarko berkerut mendengar kalimat Elzar. "Satu orang? Bagaimana bisa?" balas Jarko ikut terkejut.
"Aku juga tidak tahu, jika seperti ini … bisa aku pastikan dia pemilik lencana tingkat A," sahut Elzar.
"Apa? Siapa di Indonesia ini pemilik lencana tingkat A? Setahuku, kau adalah pemilik lencana tertinggi di setiap perkumpulan di Indonesia. Kecuali …." Jarko menggantung kalimatnya sambil menatap Elzar dengan pandangan serius. Sedangkan Elzar juga nampak terdiam dengan wajah pucatnya.
"Tidak mungkin Farel Jhons, kan? Hanya dia pemilik lencana tingkat A di Indonesia ini. Apa lagi dia lencana A+. Tapi kita tidak ada masalah dengan Death," sambung Jarko.
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku butuh bantuan. Kau bisa mengambil alih komputer itu kan?" Elzar menunjuk satu komputer yang berada di samping kanannya.
"Ke mana anggotamu? Kenapa lama sekali?" geram Jarko. Laki-laki itu dengan cepat mengambil alih komputer di samping Elzar dan mulai terlihat sibuk dengan keyboard itu.
Sedangkan tiga laki-laki yang sedari tadi melihat kehebohan itu sudah tersenyum miring. "Ayo pergi, mereka tidak akan menemukan akunku sebelum aku sendiri yang membuka aksesnya."
Alex dan Rical mendongak menatap Farel yang sudah berdiri dari duduknya. Dua laki-laki itu menatap kagum ke arah Farel yang begitu luar biasa dalam hal IT. "Benar-benar gila keahlianmu, kasihan sekali mereka," cetus Rical.
"Ck, gara-gara ini aku menjadi tidak sempat menghubungi Siera. Aku yakin dia pasti sudah marah besar kepadaku." Farel menatap layar ponsel di tangannya dengan pandangan ngeri.
Merasa penasaran, Alex dan Rical ikut melihat layar ponsel itu. Beberapa detik membaca dan memahami isinya, dua laki-laki itu terbahak keras. "Ya ampun, rasakan saja amukan Siera nanti. Kau tahukan bagaimana mengerikannya kemarahan seorang perempuan?" tutur Rical menakuti Farel.
__ADS_1