
Bruk …. Tubuh berotot itu jatuh ke lantai sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring. Perawat wanita itu terkejut dan menoleh ke belakang. Mata perawat itu melotot saat melihat laki-laki yang menemaninya tadi sudah tidak sadarkan diri di atas lantai rumah sakit. "Hei, Tuan," panggil perawat itu panik.
Perawat itu mendekat dan memeriksa pembuluh darah laki-laki itu. "Dia pingsan, kenapa bisa tiba-tiba?" gumam perawat itu.
Mata perawat itu terkejut saat melihat sepasang kaki berdiri dihadapannya. Perawat itu mendongak dan mengernyit melihat seorang laki-laki berpakaian perawat seperti dirinya sedang tersenyum manis ke arah dirinya. "Mas, tolong … Tuan ini tiba-tiba saja pingsan. Entah karena apa," papar perawat wanita itu.
"Kau tahu di mana keluarganya?" tanya Bima.
"Simpang lorong itu, nanti belok kiri," jelas perawat wanita.
"Begini saja, kau panggilkan saja keluarganya sekaligus para perawat lain ke sini. Aku tidak kuat jika harus memapahnya sendiri, biar aku yang berjaga di sini," ucap Bima.
Perawat itu nampak bingung. "Kau tenang saja, aku jaga mereka di sini. Bayi ini ingin di bawa ke mana? Biar aku antar nanti," ujar Bima.
"Oh, tidak perlu, Mas. Biar nanti aku saja, aku panggil dulu perawat untuk menjemput Tuan ini. Tolong jaga dulu ya, Mas. Aku hanya sebentar," tutur perawat itu.
"Baiklah, pergilah cepat," ucap Bima.
Setelah kepergian perawat itu, seorang laki-laki mendekat ke arah Bima dengan raut kesal. "Bukannya perawat itu jatahku? Kenapa kau malah keluar dan menghampirinya?" cetus Bimo kesal.
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara kau, cepat baca kabur bayi ini. Kita tidak punya banyak waktu." Bima mendorong kereta bayi itu dengan gerakan cepat.
Sedangkan Bimo hanya bisa mendengus kesal merasa keinginannya untuk bercinta harus tertunda. "Kau sudah siapkan mobilnya?" tanya Bima.
"Tentu saja," sahut Bimo malas.
"Tidak usah seperti babi kehilangan induk wajahmu itu. Membuat kau semakin jelek saja," hina Bima.
"Apa perlu aku ingatkan kalau kita ini kembar identik?" ketus Bimo. Bima hanya tersenyum miring menanggapi perkataan Bimo.
...*****...
"Terus di mana dia sekarang?" tanya Alex.
"Di lorong dekat kamar yang dipesan Tuan Vetro, Tuan," sahut perawat wanita itu.
"Keponakanku sudah kau antar? Apa kau meninggalkannya sendirian?" tanya Alex lagi.
"Belum saya antar, Tuan. Saya menitipkannya kepada salah satu perawat laki-laki. Saya ke sini ingin mengabarkan ini, terus memanggil perawat lain untuk menjemput Tuan yang pingsan itu," jelas perawat.
__ADS_1
Alex menoleh ke arah Farel dan Rical, setelahnya laki-laki itu berdiri. "Antarkan aku," pinta Alex.
"Mari, Tuan." Perawat wanita itu berjalan lebih dulu menuntun langkah kaki Alex.
Tepat saat mereka berada di persimpangan lorong. Mata perawat itu melotot saat matanya hanya menangkap satu laki-laki yang masih tergeletak di sana. Namun, dia tidak menemukan perawat laki-laki dan bayi yang dibawanya tadi. Mata perawat wanita itu semakin membola saat matanya baru menangkap sebuah jarum kecil di leher laki-laki tidak sadarkan diri itu.
"Ja-jadi, dia dibius?" gumam perawat wanita itu mulai takut.
Sedangkan Alex masih menatap datar perawat itu yang kini nampak pucat. "Di mana keponakanku?" desis Alex.
"Sa-saya, mereka di sini tadi, Tuan. Ah … tunggu sebentar, mungkin Mas tadi sudah mengantarkannya ke dalam ruangan bayi." Perawat itu berjalan cepat ke arah sebuah ruangan.
Perawat itu bergerak cepat mencari kereta bayi yang berbeda dari pada kereta pada umumnya di rumah sakit ini. 'Tidak, tidak mungkin Mas itu menculik bayi itu kan? Kalau iya, tamat sudah riwayatku. Bagaimana ini?' ucap perawat wanita itu di dalam hati.
Bruk …. Perawat itu menjatuhkan tubuhnya saat merasa jika dia sudah melakukan sebuah kesalahan besar. "Tu-tuan, saya … tidak bermaksud," lirih perawat itu ketakutan.
Alex hanya diam dengan wajah datarnya. Laki-laki itu mengangkat ponselnya dan menghubungi seseorang. "Bagaimana?" tanya Rical.
"Turun!" titah Alex tegas.
__ADS_1