Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
120. IYA (lb)


__ADS_3

"Bagaimana? Nyaman tidur di mansionku?" tanya Rical.


Torih terdiam mendengar pertanyaan Rical. Dia tidak tahu ingin menjawab seperti apa. Kalau ditanya nyaman, jelas saja dia lebih nyaman tinggal ditempat kediamannya dahulu. Rical hanya memberikan satu kamar kecil lagi untuk Torih dan Sasdia. Kamar kecil yang berdekatan dengan kamar kecil Jesy.


Melihat keterdiaman Torih, Rical tersenyum miring. "Kalian sudah membagi jadwal? Aku ingin mansionku selalu bersih, aku tidak suka bau busuk dan kotor," papar Rical.


"Baik, Tuan Carves," balas Torih.


"Bagus, ternyata kamu lebih sopan dari pada anak dan istrimu itu. Kamu lebih tahu diri dengan posisi dan keadaanmu di sini," ejek Rical.


Sasdia dan Jesy terdiam mendengar penuturan Rical. Saat ini mereka sedang berada di ruangan makan. Rical sudah duduk di kursi utama, sedangkan tiga manusia itu masih berdiri tidak jauh dari tempat Rical. "Sudahlah, cepat persiapkan segalanya. Setelah itu silakan pergi dari sini, calon Nyonya Carves akan segera datang ke sini," tutur Rical.


Deg …. Kalimat Rical itu mampu membuat hati Jesy berdenyut. Jelas saja calon Nyonya Carves yang dimaksud laki-laki itu adalah Helen, bukan dirinya. Sasdia dan Torih tidak jauh berbeda. Mereka jelas begitu terkejut dengan kalimat Rical. Sepasang suami istri itu menoleh cepat kepada Jesy yang sedang memegang dadanya sambil tersenyum miris ke arah orang tuanya.


Torih menatap sendu sang putri yang tampak begitu menahan sesak di dadanya. "Cepatlah!" Suara Rical menyadarkan tiga manusia itu.


"Baik, Tuan," sahut Torih cepat.


"Aku lupa mengatakan ini, adikku akan ke sini nanti siang. Jaga sikap dan kelakuan kalian, aku rasa kalian juga tidak akan berani macam-macam. Jangan membuat moodnya buruk, dia sedang hamil, jadi moodnya sangat mudah naik turun. Paham?"


Kalimat Rical kali ini mampu membuat Torih terkejut. Laki-laki itu memang belum mengetahui satu fakta ini. 'Anak itu hamil?' batin Torih.


Sedangkan Jesy kembali merasakan sesuatu menggores relung hatinya. 'Apa dia tidak sadar kalau aku juga sedang hamil? Dia seharusnya juga mengerti aku,' batin Jesy sakit.


"Sayang, kamu aman? Kamu pucat, ayo kita ke kamar," bisik Sasdia.

__ADS_1


"Paham tidak?" ulang Rical sedikit meninggi.


"Paham, Tuan." sahut Torih cepat.


"Bagus, pergilah!" balas Rical.


"Maaf, Jesy sepertinya sakit. Dia begitu pucat, tidak bisakan panggil dokter?" tutur Sasdia cemas.


Rical menoleh dan melirik Jesy sekilas. "Tidak usah manja," cibir Rical.


Sasdia melotot mendengar perkataan Rical. Pergerakan wanita paruh baya itu terhenti oleh tangan Jesy. "Aku tidak apa-apa, Ma. Ayo kita pergi," tutur Jesy.


"Tapi …."


"Sudah, Kak," Helen menjawab lembut sambil tersenyum manis ke arah Rical.


Sedangkan Jesy yang melihat kedatangan Helen sudah mengepalkan tangannya sambil menatap tajam Helen. 'Wanita penggoda,' batin Jesy marah.


...*****...


"Baby, aku ingin bubur kacang hijau," rengek Geo.


Cara mendongak menatap Geo dengan kening berkerut. "Bubur kacang hijau?" tanya Cara.


"Iya, aku ingin pakai durian." Geo mendongak dengan mulut sedikit terbuka membayangkan benda yang disebutkannya.

__ADS_1


Sedang Cara yang melihat tingkah aneh Geo sudah menganga tidak percaya. Setelahnya wanita itu menunduk dan mengusap perut ratanya. 'Astaga, Sayang. Lihatlah Daddy kamu, ke mana sifat dingin dan sangarnya itu?' batin Cara meringis.


"Baby." Lamunan Cara terputus saat Geo kembali memanggilnya sambil menarik-narik lengannya seperti anak kecil.


"Iya, Kak. Aku pesan dulu, ya," ucap Cara lembut.


"Pakai durian, ya," ucap Geo.


"Iya, nanti aku pesan yang pakai durian," balas Cara.


"Yang kental, ya," tutur Geo lagi.


"Iya, nanti aku minta yang kental."


"Yang pakai nasi gepengnya, ya."


"Iya, Kak."


"Yang ada sedotannya, ya."


"Iya, Kak."


"Yang …."


"Iya Kak, iya. Astaga, semuanya iya …." Cara menjerit memotong celotehan Geo yang entah kenapa tiba-tiba menjadi begitu cerewet seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2