Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
111. Disita (lb)


__ADS_3

"Kak, mual lagi?" tanya Cara khawatir.


Geo membasuh mulutnya dengan wajah memelas menatap sang istri. "Sayang, aku tidak suka mencium bau sop ayam," tutur Geo pelan.


Cara menatap Geo kasihan, setelahnya wanita itu mengusap pipi sang suami pelan. "Ya sudah, kalau begitu Kak Ge ingin makan apa?" tanya Cara lembut.


"Bukannya kamu ingin makan sop ayam? Kamu saja, aku menunggu di ruang tamu," tutur Geo.


Cara menggeleng pelan. "Kakak juga harus makan, inginnya makan apa?" balas Cara.


"Aku rasanya ingin makan sate ampela," tutur Geo.


Cara menganga mendengar perkataan Geo. "Kami yakin, Kak?" tanya Cara memastikan.


Geo mengangguk. "Iya, sudah dari semalam aku ingin memakan itu," sahut Geo.


Cara meringis mendengar itu. 'Apa Kak Ge sedang mengidam, ya? Dia kan paling tidak menyukai ampela,' batin Cara bingung.


"Ayo, Baby. Kamu makan, aku juga akan makan setelah ini. Kita cari sate ampelanya di jalan," ucap Geo menyadarkan lamunan Cara.


"O-oh … iya, Kak," balas Cara.


...*****...


Cara menganga melihat sang suami yang begitu lahap memakan sate ampela di depannya. Glek …. 'Sudah dua piring,' batin Cara meringis.


"Ekhm … enak ya, Kak?" tanya Cara pelan.

__ADS_1


Geo mendongak dan mengangguk cepat. "Iya, kamu mau? Kita pesan lagi," jawab Geo.


Cara terkekeh melihat wajah tampan sang suami yang sudah sedikit kotor di ujung bibirnya. "Tidak, makan saja. Aku sudah kenyang." Cara mendekat dan menyeka ujung bibir Geo yang terkena kuah sate.


"Pelan-pelan saja makannya, Sayang. Belepotan begini, loh," tutur Cara lembut.


Geo menoleh dan tersenyum ke arah Cara. Mereka tidak menyadari kalau sedari tadi sepasang suami istri itu sudah menjadi bahan perhatian pungunjung lainnya. "Katanya hari ini Kak Rical pulang, benar begitu, Kak?" tanya Cara.


"Iya, nanti malam dia sampai," balas Geo.


Cara mengangguk pelan. "Bagusnya kapan aku buat Gerisam Group jatuh, Kak?" tanya Cara.


"Terserah kamu saja, Sayang. Jika ingin sekarang, juga tidak masalah," jawab Geo.


"Besok saja, kebetulan hari ini Kak Rical pulang kan," ujar Cara. "Nanti kita jalan-jalan yuk, Kak," sambung Cara.


"Aku ingin jalan-jalan malam," kata Cara.


"Angin malam tidak baik untuk kamu, Sayang," ucap Geo.


Cara mengerucutkan bibirnya, sedangkan Geo yang melihat itu sudah menghela napas berat. "Sebentar saja, ya," bujuk Geo.


Cara yang mendengar itu tersenyum senang sambil mengangguk cepat. "Nanti kita jalan di area taman utama. Aku dengar di sana sedang ada bazar besar, aku ingin belanja di bazar," tutur Cara antusias.


Geo tersenyum melihat wajah bahagia milik istrinya. "Iya, Baby," balas Geo.


...*****...

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" Torih melempar sebuah map ke lantai dengan begitu kasar.


"VT Group mulai mengurangi persentase bantuannya, Tuan. Saya rasa, jika sudah VT Group yang bergerak, perusahaan ini tidak akan tertolong lagi," jelas seorang laki-laki.


"Jaga mulut kau, Bangsat. Lakukan saja cepat kerja kau itu," murka Torih.


"Saya sudah tidak bisa, Tuan. Sudah hampir satu tahun, tapi semuanya tidak ada kemajuan. Saya sudah lelah bertahan di sini. Saya mengundurkan diri, Tuan. Teman saya baru saja menawarkan pekerjaan yang lebih menjamin," tutur laki-laki itu.


"Apa katamu?" bentak Torih.


"Beberapa bulan ini, aku bekerja bak kuda. Tapi kau menggajiku bahkan semakin kecil. Mana ada yang akan bertahan dengan semua ini, Tuan. Saya jamin perusahaan Anda ini tidak akan bertahan lama lagi. Saya juga butuh uang untuk anak istri saya. Saya permisi." Setelah mengatakan itu, laki-laki itu pergi dari sana meninggalkan Torih dengan kemarahan yang memuncak.


"Brengsek!" murka Torih. Laki-laki paruh baya itu menggila. Semua barang di atas meja kerja itu berhamburan ke lantai. Torih berlaku bak setan gila, seakan manusia yang sedang kerasukan.


"Kenapa menjadi semakin kacau?" teriak Torih menggila.


Tring … tring … tring …


Torih melirik telepon genggamnya dan mengangkat panggilan itu malas. "Halo," sahut Torih.


"Dengan Tuan Torih Gerisam?" ucap seseorang di seberang telepon.


Torih mengernyit. "Iya, Anda siapa?" tanya Torih.


"Saya Berta, dari Ajungan Company. Saya ingin memberitahukan, jika batas waktu pengembalian dana sudah habis dua hari yang lalu. Sesuai dengan perjanjian kedua, rumah Anda akan kami sita. Kami memberi Anda waktu sampai besok untuk melunasi, atau segera kosongkan rumah itu. Terima kasih."


Bruk …. Torih menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi dan memijit keningnya frustasi. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam laki-laki paruh baya itu lesu.

__ADS_1


__ADS_2