Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
132. Buka Kemeja (lb)


__ADS_3

"Cara." Cara menoleh dan tersenyum senang melihat keberadaan Siera yang datang bersama Lamira. Sedangkan di belakang dua gadis itu berjalan Alex dan Farel.


"Wah, gaun kalian benar-benar sama. Tidak adil sekali tidak mengajakku," papar Cara.


"Kami sudah berencana mengajak kamu, tapi kami segan mengganggu waktu kamu bersama Kak Geo," jelas Siera. Lamira mengangguk membenarkan perkataan Siera.


"Sayang." Cara menoleh saat suara berat Geo mengalun di telinganya.


"Iya, Kak," sahut Cara.


"Kita cari tempat duduk, tidak bagus untuk kamu berdiri lama," ungkap Geo.


"Aku sudah menyiapkan tempat duduk untuk kalian. Aku tahu Cara tidak boleh berdiri lama," pungkas Rical.


"Kakak memang perhatian." Cara mengacungkan jari jempolnya kepada Rical. Melihat itu Rical kembali terkekeh, sedangkan Geo sudah mengusap lembut rambut sang istri.


Empat pasang manusia itu berjalan ke arah depan dekat dengan podium acara. Sedangkan Torih, Jesy dan Sasdia yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka hanya diam. Keluarga kecil itu mendengar samar percakapan mereka, dan hal itu malah membuat Jesy kembali bersedih hati. "Kamu lelah, Sayang?" tanya Sasdia.


Jesy menggeleng. "Belum, Ma." Jesy tersenyum tipis ke arah Sasdia.


"Kalian tunggu di sini, aku ingin ke sana. Semoga saja ada yang bisa membantu kita." Torih menunjuk sekumpulan laki-laki paruh baya yang tidan jauh dari sana.

__ADS_1


"Semoga saja, Pa," balas Sasdia.


...*****...


"Siapa dia?" Seseorang berbisik sambil melirik ke arah Jesy.


"Entahlah, coba lihat gayanya. Astaga, padahal mukanya masih muda," balas seorang wanita.


"Kalau aku tidak salah ingat, itu hampir mirip dengan gaun milik Mamaku," tutur seorang wanita lagi.


"Benarkah? Gaun tahun berapa?"


"Entahlah, aku lupa. Yang pasti, sudah lumayan lama."


"Huh, sombong sekali."


"Biasanya orang seperti itu, adalah orang yang pura-pura kaya."


"Memang iya, kalau dia memang kaya kenapa harus pakai gaun orang tua seperti itu?"


"Terserahku, apa masalahnya dengan kalian? Ini adalah fashionku, mau apa?" sewot Jesy tidak tinggal diam.

__ADS_1


Sekumpulan wanita itu hanya menatap sinis sekaligus mengejek ke arah Jesy dan Sasdia. "Tidak usah dihiraukan, sepertinya dia salah masuk gedung," ucap salah satu dari mereka.


"Sudah, Sayang. Tidak usah didengarkan, kamu bisa tertekan nantinya," bisik Sasdia.


"Mereka menyebalkan sekali, Ma. Cantik juga tidak," tutur Jesy kesal.


...*****...


Cara yang sedang asik bercengkrama bersama bersama tiga teman wanitanya, tidak sengaja menggerakkan tangannya. Hal itu membuat air yang berada di tangan wanita itu tumpah mengenai bajunya. "Aah …." Cara sedikit terpekik karena terkejut.


Sedangkan Geo yang melihat itu, segera mendekat dan mengusap gaun Cara yang sudah basah. Tidak jauh dari sana, Jesy tersenyum bahagia melihat kejadian itu. "Mampus kau," gumam Jesy senang.


Cara yang masih menunduk, sibuk dengan gaunnya tidak menyadari pandangan mendamba yang ditujukan para wanita untuk suaminya. Sebab, tanpa berpikir panjang, laki-laki dingin itu sudah membuka kemejanya sehingga membuatnya bertelanjang dada. Cara terkejut saat dengan tiba-tiba Geo menyampirkan kemeja biru muda ke tubuhnya.


Cara mendongak dan melotot melihat tubuh bagian atas Geo tanpa sehelai benang pun. Delapan kotak kesukaannya terpampang nyata dengan ukiran tato di perut kanan sang suami. Cara mengedar, wanita itu dapat melihat semua mata wanita sudah melotot menatap pemandangan indah itu.


Dengan gerakan cepat, Cara memeluk tubuh Geo guna menutupi badan atletis itu. "Apa yang Kakak lakukan? Ingin tebar pesona?" geram Cara.


Geo menunduk dengan kening berkerut tidak mengerti. "Lihatlah, semua wanita di sini hampir mimisan," ketus Cara.


Geo mengedarkan pandangannya, setelahnya laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya. "Ck, kau benar-benar Tuan Vetro. Mentang-mentang tampan, kau melakukan segalanya semaumu." Rical mendengus kesal sambil menutup mata Lamira yang sempat ikut melotot kagum.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan Farel dan Rical yang ikut menutup mata gadis mereka masing-masing. Sedangkan Jesy ditempatnya masih ternganga dengan mata yang hampir keluar dari porosnya. "Ya ampun, Cara benar-benar beruntung," gumam Jesy tanpa sadar.


__ADS_2