
"Jadi kamu sudah mengerti?" tanya Geo.
"Mengerti, Daddy," balas Geno.
Saat ini sepasang ayah dan anak itu sedang berada di dalam ruangan kerja Geo. Jika biasanya mereka selalu berdebat dan terlibat cekcok aneh. Maka berbeda dengan sekarang, dua laki-laki itu nampak serius dengan wajah datar mereka masing-masing.
"Nanti malam akan ada pertemuan, kamu sebagai ahli tempur Death harus ikut," ucap Geo.
"Tiga manusia itu juga ikut?" tanya Geno dengan nada datarnya.
"Ck, mereka saudara-saudara kamu, Geno," celetuk Geo.
"Iya, mereka ikut?" balas Geno.
"Tentu saja, kalian calon penerus Death. Meski kamu masih memegang jabatan ahli tempur dan mereka masih anggota. Tetap saja kalian perlu bersiap. Jika kalian bisa menyelesaikan misi dari Daddy, maka kalian akan segera resmi menjabat sebagai inti Death. Kecuali kalau kalian bermain-main dan tidak ingin mengambil alih Death," ujar Geo.
__ADS_1
"Hitungan bulan, misi ini akan segera selesai. Jadi, Daddy bersiap saja lengser dari jabatan pemimpin Death." Death berucap sambil tersenyum miring ke arah Geo.
Geo ikut tersenyum miring mendengar kalimat putranya. "Daddy tunggu, Taros," balas Geo.
...*****...
End
Boleh mampir juga ke cerita aku yang satunya ya. judulnya iblis penguasa zero, masih di NT.
Wajah Gieno memang tidak disiarkan di televisi, itu semua keinginan Gieno. Sebab laki-laki itu ingin memberi kejutan kepada keluarga Barka. Namun, meski begitu dengan sekali lihat pun siapa saja akan tahu siapa Gieno dari tato berukiran De Larga di leher sang ketua gengster itu. Selain itu, tatapan elang milik Gieno saja sudah mampu membuat orang bertekuk lutut. Gieno membuka pintu kamar bernomor 445.
Dor …. Tepat saat pintu itu terbuka Gieno langsung mendapat serangan dari beberapa orang. Gieno yang memang begitu lihai dengan mudahnya menghindar dari peluru musuh. Gieno berlari sambil tersenyum miring. "Jebakan yang lumayan mengasikkan."
Gieno bergumam di sela larinya. Laki-laki itu terus memacu langkah dan menghindar dari tembakan peluru musuh. Lorong hotel yang tadinya begitu sunyi, sekarang sudah penuh dengan sahutan tembakan yang begitu mengerikan.
__ADS_1
Dor … dor … dor …
Dari sekian banyaknya tembakan yang diarahkan kepada Gieno, tidak satu pun peluru mereka berhasil menembus daging Gieno. Bahkan hanya untuk sekedar menggores kulit putih laki-laki itu. Gieno masuk ke dalam sebuah kamar berniat bersembunyi di sana. Ternyata di dalam kamar itu sedang ada seorang gadis yang sepertinya sedang melakukan sebuah penilaian kamar. Terbukti dari kertas jurnal yang ada di tangannya.
Tanpa basa-basi Gieno menggendong gadis itu dan membawanya ke atas kasur. Sang gadis sudah berteriak karena terkejut, teriakannya berlanjut saat Gieno menutup seluruh tubuh mereka dengan selimut hotel itu. Gieno mengungkung tubuh sang gadis yang hendak protes. "Diam dan ikuti perkataanku kalau kau masih ingin hidup," ucap Gieno datar.
Sang gadis yang awalnya ingin protes terurungkan saat mendengar sahutan langkah kaki yang begitu memekakkan telinga. "Ke mana dia?" suara seorang laki-laki terdengar oleh mereka.
"Mendesahlah," ucap Gieno.
"A-apa?" tanya gadis itu bingung.
"Kau masih ingin hidup bukan?" tanya Gieno.
"Ta-tapi … hmmpp." Kalimat gadis itu terhenti saat dengan tiba-tiba Gieno membungkam mulutnya dangan bibir laki-laki itu. Sang gadis melotot terkejut. Setelahnya Gieno bergerak naik turun sehingga mereka terlihat sedang melakukan hubungan panas di balik selimut.
__ADS_1
Brak …. Suara pintu dibuka kasar mengejutkan sang gadis. "Ck … brengsek, malah melihat yang seperti ini," umpat seorang laki-laki. Setelahnya beberapa laki-laki itu pergi dari sana sambil tertawa meninggalkan sepasang manusia yang berada di balik selimut.