
"Aku sudah lumayan bermain hari ini, jadi … tiba-tiba rasa malas untuk datang ke mansion Kak Rical sedang kambuh," ucap Cara.
Geo menoleh dan tersenyum. "Ya sudah, besok saja. Mereka juga tidak akan bisa ke mana-mana," balas Geo.
"Iya juga, biarkan saja mereka bernapas lega untuk hari ini," papar Cara.
"Jadi … sekarang ayo kita pulang." Geo tiba-tiba mengangkat tubuh istrinya dan membawa Cara ke luar ruangan.
"Tapi ini masih jam tiga Kak," ujar Cara.
"Tidak masalah, aku sudah mengatakan kepada Farel. Aku rasanya ingin sekali di dalam kamar bersamamu hari ini," bisik Geo.
Cara terkekeh kecil mendengar perkataan Geo. "Memangnya kapan kita berpisah Kak? Kamu kan tidak pernah membiarkan aku pergi," ejek Cara.
__ADS_1
Geo terkekeh kecil. "Aku bahkan merasa itu semua masih kurang. Aku inginnya mengurungmu saja di dalam kamar setiap hari," balas Geo.
Cara melotot terkejut. "Yang benar saja, bosan tahu," rajuk Cara.
Geo kembali terkekeh, laki-laki itu mengecup singkat bibir istrinya yang sedang memanjang karena merajuk. Geo benar-benar tidak memikirkan jika saat ini mereka sedang berada di lorong kantor yang masih begitu ramai. Cara menepuk bahu kekar suaminya merasa malu saat melihat para karyawan memilih mengalah dengan mengalih wajah mereka masing-masing. "Di sini ramai Kak," bisik Cara malu.
Geo melirik sekeliling, setelahnya laki-laki itu menaikkan kedua bahunya acuh. "Biarkan saja, mereka tinggal memejamkan mata kalau tidak ingin melihatnya," tutur Geo santai.
Cara menghela napas malas mendengar kalimat itu. 'Ampunilah dosa-dosa hamba dan suami hamba ini, Tuhan,' batin Cara frustasi.
Cara berjalan ke arah meja kerja suaminya. Entah kenapa selama satu minggu ini dia merasakan hal aneh di dalam tubuhnya. Cara melihat Geo sedang menelepon dengan rekan bisnisnya sambil terus fokus kepada laptop. Geo yang melihat kehadiran sang istri tersenyum tipis. Laki-laki itu merentangkan tangan kanannya sebab tangan kirinya sedang memegang telepon genggamnya.
Cara duduk di atas pangkuan Geo dan memeluk hangat tubuh kekar sang suami. Geo kembali sibuk dengan laptopnya sambil terus menelepon. "Anda bisa datang ke bagian properti untuk itu, sekarang bisa jelaskan isi formulir utamanya?" ucap Geo.
__ADS_1
"Iya, keseluruhan. Setelahnya nanti baru inti … shh." Kalimat Geo bersambung dengan sebuah lenguhan tertahan kala Cara membuka bajunya dan memainkan perut kekarnya.
"Tidak apa-apa, lanjutkan," ucap Geo. Wajah laki-laki itu sudah memerah menahan erangan kala tangan nakal Cara terus bergerilya di perutnya.
Cara yang entah sedang sadar atau tidak, sekarang membuka keseluruhan kancing piyama milik Geo. Sedangkan sang suami hanya diam menerima perlakuan sang istri sambil terus mendengarkan penjelasan seseorang di seberang telepon. Setelah seluruh kancing baju Geo terbuka, Cara menatap intens tubuh kekar yang begitu menggoda itu. Cara membaringkan tubuhnya ke dada bidang Geo sambil terus mengelus lembut leher Geo dan berlanjut ke bagian bawah.
Geo meninggalkan laptopnya dan duduk menyandar sempurna di kursi kerja itu. Kepala Geo mendongak menahan umpatan dalam mulutnya kala tangan Cara semakin nakal. "Do you want it, Baby?" bisik Geo berat.
Cara mendongak sambil tersenyum, setelahnya wanita itu terkejut kala merasakan ada sesuatu yang mulai bergerak di bawah sana. Sedangkan Geo memejamkan mata sambil menelan salivanya kasar. "Apa dia sudah bangun?" tanya Cara polos.
"Sh**," umpat Geo tertahan.
"Lanjutkan besok." Setelah mengucapkan itu, Geo memutuskan sambungan telepon begitu saja.
__ADS_1
Geo mengangkat tubuh mungil Cara dan membawanya ke dalam kamar mereka. Geo membaringkan tubuh Cara pelan di atas kasur kemudian mencium keseluruhan wajah sang istri. Cara tertawa geli mendapat serangan seperti itu dari suaminya. Geo menegakkan tubuhnya kemudian membuka bajunya dan membuang asal. "Ingin ini? Lakukanlah sepuasnya, Baby," bisik Geo.
Geo membaringkan tubuhnya dan membawa tubuh Cara ke atas perut kekarnya. Cara sudah tersenyum puas merasa mendapat izin untuk bermain. "Setelah ini, pertanggung jawabkan semua ini, Sayang," sambung Geo pelan.