
"Kak Rical, Kak Rical …." Cara berteriak keras di dalam mansion Rical.
"Tidak usah berteriak, Sayang. Rical akan segera datang," ucap Geo.
Cara mendongak menatap wajah Geo, kemudian tersenyum bodoh. "Aku sudah tidak sabar, Kak. Nanti keburu Kak Rical menyebar undangan," papar Cara.
Sedangkan Jesy, Sasdia dan Torih yang sedang berada di ruangan makan sempat terkejut mendengar suara teriakan Cara. "Siapa yang berteriak-teriak tidak jelas di sini," ucap Sasdia.
"Dari suaranya, itu milik suara wanita kurang ajar itu, Ma," balas Jesy.
"Benarkah? Huh, jika sudah keturunan gembel memang akan terus seperti gembel," ejek Sasdia.
"Jaga kalimat kalian, kita bisa habis jika ada yang mendengarnya," peringat Torih was-was.
"Memang begitu, Mas. Meski sudah bersuami kaya, dia tetaplah anak dari keturunan gembel. Dia hanya beruntung saja bisa mendapatkan Tuan Vetro," balas Sasdia.
"Arggg …." Sasdia berteriak saat dengan tiba-tiba rambutnya ditarik kasar oleh seseorang.
Wanita paruh baya itu menoleh dan terkejut melihat keberadaan Cara di belakang mereka. Jesy sudah menatap was-was ke arah Cyra yang sedang tersenyum licik. "Kau benar-benar bukan manusia, ya. Sudah seperti ini kehidupan kalian, masih berani membicarakan aku?" desis Cara marah.
__ADS_1
Keinginan wanita itu untuk mencari keluarga kecil itu tidak berakhir sia-sia. Siapa sangkan Cara malah mendengar makian Sasdia di belakangnya. "Sshh, lepaskan. Sakit." Sasdia menahan tangan Cara di rambutnya.
Sedangan Jesy ikut mendekat ke arah Sasdia yang tampak kesakitan. "Lepaskan Mamaku, Cara. Dia kesakitan," pungkas Jesy.
Namun, Cara hanya memberikan senyum licik ke arah sepasang ibu dan anak itu. Setelahnya Cara menoleh ke arah Torih yang terdiam dengan wajah kaku. "Kenapa, Ayah? Tidakkah kamu ingin membantu istrimu?" tutur Cara sinis.
Torih hanya diam tidak menyahut, laki-laki itu melirik wajah Sasdia yang tampak memerah menahan sakit. "Cara lepaskan," ulang Jesy.
Sret … brak …
"Arghh …."
"Mama tidak apa-apa?" tanya Jesy khawatir. Sedangkan Sasdia sudah meringis memegang rambut bergantian dengan pinggungnya yang sempat terkena sudut meja.
"Punggung Mama perih, Sayang," ringis Sasdia.
Torih mendekat dan membantu Sasdia berdiri. Sedangkan Jesy sudah menatap tajam ke arah Cara yang sedang berdiri santai memperhatikan mereka. "Kau benar-benar keterlaluan, Cara. Tidak punya sopan santun, dia lebih tua darimu," geram Jesy.
Cara tertawa sinis. "Memangnya aku peduli? Aku tidak menganggap kalian itu manusia, jadi … hal seperti ini, tidak memerlukan sopan santun," sahut Cara santai.
__ADS_1
"Kau!" Jesy menatap tajam Cara, tatapan penuh kebencian.
Jesy bergerak berniat mendekat ke arah Cara dengan langkah kemarahan. "Jesy," tegur Torih cemas.
"Touch her, you die."
Langkah kaki Jesy terhenti saat mendengar suara berat nan rendah itu. Mereka menoleh dan terkejut melihat keberadaan Geo sedang berjalan mendekat dengan wajah dinginnya. Jesy mematung di tempat, sedangkan Torih dan Sasdia menatap cemas ke arah putri mereka.
Glek …. Jesy menelan salivanya susah payah kala Geo berdiri di depannya dengan tatapan mengintimidasi. "Kak, jangan sentuh dia. Aku tidak ingin kamu terkena virus."
Cara bergerak ke arah Geo dan memeluk lengan suaminya. Wanita itu tersenyum sinis saat melihat wajah pucat milik Jesy. Belum lagi dengan keringat dingin yang sudah membasahi wajah pucat itu. Sedangkan Geo masih menatap Jesy dengan tatapan menusuk. "Kamu mengerti tidak dengan kalimat singkat suamiku tadi? Aku takut kamu tidak mengerti karena kamu terlalu bodoh," celetuk Cara.
Jesy masih menunduk, tidak berani menyahut perkataan Cara. Kakinya mulai bergetar, dia tidak menyangka. Hanya dengan tatapan mata saja, Geo sudah mampu membuatnya ketakutan sampai seperti itu. "Satu, hanya tersisa satu kesempatan kalian. Setelahnya, bersiap-siaplah sengsara menuju neraka," desis Geo.
Glek …. Jesy, Sasdia dan Torih menelan salivanya susah payah. Sedangkan Cara sudah menatap wajah pucat tiga manusia itu dengan pandangan remeh. "Seperti perkataan suamiku, jika kalian masih sok berani kepadaku, atau membicarakan aku di belakang. Bahkan sampai membawa nama mendiang Bundaku. Bersiap-siaplah menjadi tahanan Death, sebab mulai saat itu, aku akan menyerahkan kalian kepada suamiku," tambah Cara.
Bruk …. Tepat saat kepergian Cara dan Geo, Jesy terjatuh saat kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya. "Sayang." Sasdia dan Torih mendekat ke arah Jesy yang tampak masih bergetar.
"Kamu tidak apa-apa, Jes?" tanya Torih.
__ADS_1
"Bahkan dia belum menyentuhku, tapi … dia sudah mampu membuat aku seperti ini. Kakiku sedari tadi bergetar, dia mampu menekan tubuhku tanpa disentuh. Sepertinya kita memang harus menjaga jarak dengan Tuan Vetro, Ma, Pa. Dia sungguh berbahaya," cicit Jesy. Sedangkan Sasdia dan Torih terdiam mendengar suara pelan Jesy.