
Alex menatap wajah Lamira yang sedang tertunduk dihadapannya. "Ayo," ajak Alex.
Lamira masih menunduk sambil memilin jari tangannya. "Aku, tidak ingin pulang, Bang," cicit Lamira.
Alex menghela napas mendengar suara kecil Lamira. "Kamu tetap harus pulang, aku tidak ingin dikira menculik anak gadis orang. Sudah hampir satu minggu, Mor," balas Alex.
"Aku tidak ingin menikah dengan laki-laki itu," lirih Lamira.
Alex menatap mata Lamira yang mulai berkaca-kaca. Laki-laki itu mengalihkan wajahnya sambil memijit keningnya yang terasa berdenyut. "Aku hanya akan mengantarmu, aku akan pantau dari jauh. Kalau Papamu itu masih memaksamu untuk menikah, aku akan turun tangan," balas Alex serius.
Lamira mendongak menatap wajah tampan laki-laki dihadapannya. Wajah serius Alex mampu membuat hatinya sedikit lega. "Benar, Bang?" tanya Lamira memastikan.
"Iya, cepatlah," ucap Alex.
.
.
.
Lamira menatap wajah Alex ragu. "Aku akan masuk, terus Abang liat dari mana?" tanya Lamira.
Alex mengangkat layar ponselnya yang menampilkan keadaan di dalam ruangan kerja Istak Laksa. Lamira melotot merasa terkejut melihat itu. "Hal seperti ini sangat mudah bagi Farel, kau masuklah," papar Alex.
__ADS_1
'Aku melupakan kalau mereka inti Death,' batin Lamira.
"Abang, menunggu di sini?" tanya Lamira.
"Iya, cepatlah," balas Alex.
...*****...
"Kak, aku mandi, ya. Sudah lengket sekali," bujuk Cara.
Geo menunduk menatap wajah memelas sang istri. Laki-laki itu terkekeh melihat wajah Cara yang begitu menggemaskan di matanya. Geo mengecup pipi Cara yang tampak semakin berisi. "Kalau begitu, ayo kita mandi," tutur Geo.
"Kak Ge juga?" tanya Cara.
"Tapi, mungkin lebih baik kita bergantian saja mandinya, Kak," cicit Cara.
Kedua alis Geo menukik bingung. "Kenapa?" tanya Geo.
"Nanti malah lama," balas Cara.
Geo terbahak mendengar perkataan sang istri. Setelahnya jiwa jahil Geo mampir ke tubuh kaku itu. Geo tersenyum nakal ke arah sang istri. "Apa salahnya kalau lama, Sayang?" bisik Geo.
Cara melotot dan menggigit telinga sang suami gemas. "Akkh … sakit, Baby," ucap Geo sambil meringis.
__ADS_1
"Tidak boleh lama-lama, Kak Farel dan Kak Alex akan ke sini. Sudah, aku mandi lebih dulu." Setelah mengatakan itu, Cara beranjak dari sana.
"Memangnya kenapa kalau mereka akan ke sini, biarkan saja," pungkas Geo.
"Mereka bisa menunggu lama, mereka juga punya kesibukan," tutur Cara.
"Kalau sudah tahu ada kesibukan, kenapa malah ke sini? Mengganggu saja," ketus Geo.
Sring …. Cara menatap tajam Geo yang sudah melotot terkejut. Glek …. Laki-laki dingin itu menelan ludahnya kasar merasa begitu terintimidasi oleh tatapan Cara. Seekor singa buas itu tiba-tiba saja bisa berubah menjadi seekor anak kucing. 'Astaga,' batin Geo terkejut.
Setelahnya Cara masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Geo menatap kepergian sang istri dengan pandangan ngeri sambil mengusap telinganya yang memanas bekas gigitan sang istri. "Kalau sedang sangar seperti itu, dia sungguh terlihat menakutkan," gumam Geo meringis.
Cklek …. Geo mengernyit kala melihat kepala sang istri keluar dari pintu kamar mandi. "Kak," panggil Cara pelan.
"Kenapa? Cepat sekali mandinya," tutur Geo.
"Anu, itu … aku lupa membawa handuk," cicit Cara.
Geo tersenyum nakal mendengar perkataan Cara. Laki-laki dingin itu mendekat ke arah pintu menatap Cara yang sedang bergidik ngeri. "Bajunya sudah kamu tanggalkan?" tanya Geo.
"Sudah, sudah masuk kantong kotor juga," balas Cara pelan.
Geo menyeringai nakal, setelahnya laki-laki itu membuka pintu kamar mandi begitu saja sehingga membuat Cara memekik terkejut. "Ayo mandi bersama," tutur Geo.
__ADS_1