Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
238. Menjalin keakraban (lb)


__ADS_3

"Ra." Cara menoleh dan melihat Siera sedang berjalan bersama Farel di sampingnya. Gadis itu nampak masih kaku, karena ini adalah pertama kalinya bagi Siera mengunjungi markas Death.


Ada dua laki-laki berjalan di belakang Farel dan Siera. Cara melirik ke arah Geo yang nampak masih sibuk dengan tabletnya. Sedangkan Siera saat ini sudah duduk di samping Cara sambil menarik keranjang bayi yang berisi Geno. "Ah, putra tampan Mama mainnya ke markas Death, nih," bisik Siera membawa Geno berinteraksi.


"Ada apa?" Cara melotot mendengar kalimat Geo kepada dua laki-laki yang tidak dikenalnya itu. Sedangkan Farel saat ini sudah duduk di sofa yang tidak jauh dari Siera.


"Daddy, kenapa begitu? Tidak baik, bagaimana pun mereka itu tamu, loh," tegur Cara. "Maaf, ya. Silakan duduk dulu," ucap Cara kepada dua laki-laki itu.


Jarko dan Elzar terkekeh mendengar kalimat Cara. Apa lagi melihat wajah Geo yang nampak begitu patuh kepada wanita cantik itu. "Terima kasih, dia istrimu?" tutur Jarko.


"Hem," deham Geo.


Jarko dan Elzar mengangguk pelan sambil menatap Cara ramah. Namun, Geo yang merupakan tipe laki-laki posesif dan pencemburu, mengartikan pandangan itu dengan hal lain. "Mata kalian," desis Geo.

__ADS_1


Jarko dan Elzar terkejut mendengar suara rendah itu. Setelahnya mereka terkekeh kecil mengetahui sifat lain Geo. "Ternyata suami Anda sangat posesif, Nyonya Vetro," ucap Jarko kepada Cara.


Cara ikut terkekeh mendengar kalimat Jarko. Cara dapat menilai jika Jarko adalah laki-laki ramah dan humble. "Panggil saja aku Cara, tidak usah seformal itu. Masalah suamiku, dia memang seperti ini, jadi maklumi saja," balas Cara.


"Tidak usah berbicara, Baby," celetuk Geo masih nampak cemburu.


Cara terkekeh mendengar kalimat Geo. "Iya, Sayang. Aku diam," sahut Cara.


Jarko tertawa kecil sebelum kembali bersuara. "Tidak usah khawatir, Tuan Vetro. Aku akui istrimu memang cantik, tapi memang kodratnya semua wanita itu cantik, bukan? Begitu pula istriku, aku juga sudah memiliki istri," ujar Jarko.


Alex menatap Jarko sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa. Sedangkan Jarko ikut menoleh ke arah Alex sambil tersenyum tipis. "Ada sesuatu yang penting sehingga aku memilih menyembunyikannya untuk saat ini. Karena itu juga aku begitu takut dan panik saat mengetahui data-data Tiger diambil alih oleh orang lain. Beruntungnya itu kalian, aku sangat berterima kasih karena kalian mau mengambil jalan damai dari kesalahpahaman kemarin," ungkap Jarko panjang lebar.


Alex mengangguk pelan mendengar kalimat Jarko. "Tidak masalah, memang nama Death sudah begitu terdengar mengerikan di telinga masyarakat. Tapi aku rasa masyarakat juga tahu, jika motto kami adalah tidak akan mengganggu jika tidak diganggu. Juga tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah. Itu bukan hanya sekedar kata-kata, tapi benar adanya. Kami juga tahu kalau Tiger selama ini berjalan hampir searah dengan Death. Jadi tidak ada yang perlu kita pertengkaran," jelas Alex.

__ADS_1


Jarko dan Elzar menghela napas lega mendengar kalimat Alex yang saat ini berbicara sebagai wakil Death. Jika mengharapkan suara Geo, jelas itu adalah suatu hal mustahil. Beruntung juga Alex datang tepat waktu, sebab yang berada di sana adalah dua manusia kulkas.


"Terima kasih, dan sejujurnya kami ke sini ingin meminta maaf atas kejadian kemarin. Aku dan Elzar mengakui kebodohan kami yang begitu mudah ditipu karena percaya kepada orang yang disangka teman. Aku kemari benar-benar panik," papar Jarko.


"Iya, lain kali lebih teliti lagi. Bisa berakibat fatal kalau kalian salah langkah lagi. Apa lagi kalau kemarin benar-benar terjadi perang kan," balas Alex.


"Kalau memang terjadi perang, aku rasa jelas kami yang kalah. Bukan berarti aku tidak percaya dengan kemampuan anggota Tiger. Tapi jika dibanding dengan Death, aku akui Tiger masih kalah. Tuan Vetro saja, berada tiga tingkat di atasku," cetus Jarko.


"Iya, dia itu memang setan. Berada di atas siapa saja," celetuk Jarko tanpa beban.


Puk …. "Ah, sakit, Ra." Alex mengeluh saat dengan tiba-tiba sebuah bantal sofa sudah melayang ke wajahnya.


"Sembarangan mengatakan suami aku setan!" ketus Cara.

__ADS_1


Geo yang melihat itu sudah tersenyum miring menatap Alex dengan pandangan mengejek. Sedangkan Jarko yang melihat itu merasa kesal sendiri. "Huh, mentang-mentang ada yang membela," sindir Alex.


Sedangkan Jarko dan Elzar yang melihat interaksi para inti Death itu cukup terkejut. Mereka tidak menyangka jika para laki-laki yang disegani dan ditakuti di dunia luar, malah bersikap begitu hangat dan dekat. Melihat itu, ada perasaan iri dan ingin di dalam hati Josua dan Elzar. "Ekhm … apa boleh kami lebih sering main ke sini? Maksudku, membentuk keakraban antara Tiger dan Death, tidak ada salahnya kan?" tanya Jarko.


__ADS_2