
"Posisinya sudah sangat bagus sekarang, sepertinya dia sudah bersiap untuk segera menghirup udara," ucap seorang dokter wanita ramah.
Cara menatap Geo dan tersenyum senang mendengar perkataan dokter itu. "Bayinya sehat?" tanya Geo.
Dokter wanita itu tersenyum ramah. "Bayinya sehat, malah dia terlihat sangat aktif. Apa Nyonya sering merasakan pergerakannya?" sahut dokter wanita itu.
"Iya, Dok. Bahkan saat aku tertidur jadi terbangun karena pergerakannya sangat kuat. Aku kadang malah merasa sedikit ngilu, Dok," balas Cara.
"Sepertinya dia memang sangat aktif, pertumbuhannya juga bagus. Saya perkirakan mungkin dalam minggu ini, Nyonya Vetro sudah bisa melahirkan," ungkap dokter.
Mata Cara berbinar mendengar perkataan itu. "Benarkah, Dok?" tanya Cara.
"Iya, Nyonya. Membahas masalah melahirkan, saya ingin memberikan bayangan proses melahirkan nanti kepada Tuan dan Nyonya Vetro," tutur dokter.
__ADS_1
"Silakan, Dok," sahut Cara.
"Dalam peninjauan, fisik Nyonya cukup lemah … tapi dalam laporan Dokter Fendra, Nyonya masih bisa melahirkan secara normal. Namun, ini tidak bisa dipastikan karena masih ada kemungkinan lain nantinya. Sebab saat proses melahirkan itu terjadi, jelas kita akan melihat kondisi pasien saat kejadian bukan kondisi di dalam laporan. Saya mengatakan ini, supaya Nyonya bersiap-siap dengan kemungkinan itu. Sejauh ini, kami masih menyimpulkan Nyonya bisa melakukan proses melahirkan secara normal," jelas dokter wanita itu.
"Berarti, masih ada kemungkinan untuk saya melahirkan ceaser. Begitu, Dok?" tanya Cara.
"Benar, Nyonya. Kita tidak bisa memastikan seperti apa kondisi nantinya. Tapi tentu saja kita ingin semuanya tetap baik-baik saja," ucap dokter.
Dokter wanita itu tersenyum mendengar perkataan Cara. "Normal atau tidak, kita sebagai wanita tetap akan menjadi wanita sesungguhnya. Bukan berarti dengan kita melahirkan ceasar, maka kita belum menjadi wanita sesungguhnya. Itu tidak benar, dimata Tuhan kita tetaplah seorang wanita yang berjuang dengan jalan dan cara yang berbeda-beda. Malah di dalam dunia kedokteran, persentase kematian lebih banyak untuk orang yang melahirkan ceasar dari pada orang yang melahirkan normal," jelas dokter panjang lebar.
Cara yang mendengar perkataan dokter wanita itu, terdiam sejenak. Sepertinya satu hal baru berhasil dia dapatkan hari ini. "Benar juga, Dok. Sepertinya selama ini persepsi saya salah." Cara tersenyum tipis ke arah dokter wanita itu.
Dokter wanita itu membalas senyum Cara dengan senyum keibuan. "Jadi tidak usah dipikirkan, Nyonya. Takutnya nanti berakibat kepada bayi di dalam perut Nyonya," ucap dokter wania itu.
__ADS_1
"Iya, Dok. Terima kasih atas pencerahannya," balas Cara tulus.
"Sama-sama, Nyonya. Em … tapi, saya ingin memberi tahu sesuatu kepada Tuan Vetro tentang proses melahirkan normal nanti," tutur dokter.
Kening Cara berkerut melihat nada kaku yang dilontarkan oleh dokter wanita itu. "Ada apa, Dok?" tanya Cara penasaran.
Dokter wanita itu menoleh ke arah Cara sambil melirik singkat ke arah Geo yang masih nampak diam dengan wajah datarnya. "Begini, proses melahirkan nanti akan diambil alih oleh Dokter Fendra. Jika nanti Nyonya melahirkan secara normal, maka akan ada suatu surat izin untuk Dokter Fendra kepada Tuan Vetro," jelas dokter wanita itu kaku.
Cara dan Geo yang tidak mengerti hanya bisa mengerutkan keningnya bingung. "Maksudnya apa, Dok? Kami tidak mengerti," tanya Cara bingung.
"Ekhm … begini, biar saya perlihatkan gambar ilustrasi proses melahirkan normal." Dokter wanita itu nampak mengotak-atik telepon genggamnya. Sedangkan Cara dan Geo diam menunggu aksi sang dokter.
"Seperti ini, Tuan. Silakan dilihat." Dokter wanita itu menyodorkan telepon genggamnya kepada Geo.
__ADS_1