
Dua gadis itu nampak terlonjak kaget. "Eh, apa dia juga orang gila?" tanya salah satu gadis kepada temannya.
"Entahlah, mungkin saja," tutur satu gadis lagi.
Tangan Sasdia mengepal erat mendengar perkataan dua gadis di luar pagar itu. "Jangan melakukan apa-apa kepada anakku. Kalian benar-benar tidak punya hati. Merekam dan ingin memfoto anakku untuk dijadikan bahan gosip kampus? Di mana otak kalian?" teriak Sasdia marah.
"Sepertinya dia ibu Jesy, tapi kenapa dia berteriak tidak jelas seperti itu. Apa mereka keluarga sakit jiwa?" ejek salah satu dari gadis itu.
"Sepertinya iya, huh … rasakan, kemarin saja anaknya angkuh dan banyak gaya," tambah satu gadis lagi.
"Pergi kalian! Pergi!" jerit Sasdia lepas kendali.
"Sa, tenanglah. Kamu mengejutkan Jesy, dia bisa ikut mengamuk," tegur Torih.
Sasdia menoleh dan melihat Jesy nampak mulai tidak tenang. Wanita itu nampak berdiri dan menatap sekitar dengan pandangan tajam. "Aaaaaa …."
Semua orang terkejut mendengar teriakan Jesy. Begitu pula dengan dua gadis yang berada di luar pagar itu. Mereka nampak terkejut menatap Jesy yang masih berteriak histeris. "Sayang, tenanglah," ucap Sasdia mencoba menenangkan Jesy.
"Aaaa …." Jesy masih saja berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Melihat itu, bukannya merasa bersimpati, dua gadis di luar pagar itu malah merekam aksi Jesy itu.
__ADS_1
"Wah, ternyata dia benar-benar sudah gila. Lihatlah, wanita yang dulunya begitu angkuh, sombong dan semena-mena. Sekarang berakhir di rumah sakit jiwa," kata salah satu gadis itu di dalam videonya.
Sedangkan di dalam sana, nampak perawat Jesy berlarian mendekat ke arah pusat keributan itu. Sasdia dan Torih nampak kehilangan akal dan panik dengan keadaan putri mereka. Jesy yang mengamuk membuat beberapa petugas laki-laki harus turun tangan.
Bruk …. Tubuh Sasdia molorot ke tanah saat kakinya tidak sanggup menahan berat badannya. Dengan tiba-tiba kaki Sasdia seakan tidak bertulang melihat keadaan putrinya. "Anak kita, Mas. Hiks … kapan aku akan melihat senyumnya lagi? Kapan?" lirih Sasdia di sela isak tangisnya.
Torin mengusap wajahnya, setelahnya laki-laki paruh baya itu berjongkok dan mengusap punggung istrinya. "Tenanglah, Sa. Jesy pasti akan sembuh," tutur Torih mencoba menenangkan Sasdia. Meski sebenarnya dia sendiri tidak yakin dengan kalimatnya itu.
...*****...
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Romy.
"Tapi sebenarnya apa permasalahan kau dengan Death? Bukannya aku takut, hanya saja aku rasa mereka tidak akan menangkapmu jika kau tidak ada masalah dengan mereka. Jika urusanmu dengan mereka bukan hal biasa, aku yakin dia sekarang mereka sedang mencari informasi tentang kita," papar Romy.
Rizal tersenyum miring. "Bukannya kau sudah meminta Elzar untuk menghilangkan bukti?" cetus Rizal.
Romy menatap Rizal dengan pandangan serius. "Kau tidak tahu jika ahli IT Death jauh lebih pintar dari pada Elzar? Lencana Elzar saat ini adalah B+, sedangkan Farel adalah pemilik lencana A+ satu-satunya di dunia ini. Kau nampaknya belum paham tentang Death. Ini bisa bahaya, kita harus mencari cara supaya Josua mau membantu kita," ungkap Romy.
"Kalau begitu berpikirlah," sahut Rizal santai.
__ADS_1
"Kau belum menyahut kalimatku tadi. Kau memiliki masalah dengan siapa?" tanya Romy.
Rizal tersenyum miring menanggapi perkataan Romy. "Inti mereka," balas Rizal tanpa beban.
Mata Romy melotot mendengar jawaban Rizal. "Apa kau gila? Ah … aku lupa kalau kau memang gila. Tapi aku harap kau tidak bermasalah dengan pemimpinnya. Aku rasa kau juga tahu bagaimana tidak warasnya pemimpin Death dalam menghabisi lawan," tegas Romy berharap.
Rizal menatap saudara sepupunya itu dengan pandangan santai. "Memangnya segila apa? Aku hanya ingin sedikit bermain dengan gadisnya," celetuk Rizal.
Mata Romy kembali melotot mendengar kalimat Rizal. "Kau benar-benar gila. Sh**! Kenapa aku malah harus ikut campur seperti ini?" Romy mengusap wajahnya kasar dan berjalan dengan tidak tenang.
"Apa kau tidak tahu kalau Reo begitu meratukan istrinya? Apa kau gila! Anj***!" umpat Romy kehilangan akal. Nampaknya laki-laki itu saat ini merasa begitu menyesal membantu Rizal kabur dari penjara Death.
"Oh, jadi mereka sudah menikah?" balas Rizal tanpa beban.
"Brengsek! Bukannya kau katakan kalau mau dijebak? Kalau seperti ini, aku yang dijebak namanya." Romy terus berceloteh dengan setumpuk rasa khawatir di dalam benaknya.
"Kenapa kau nampak begitu takut? Kau adalah ketua pertahanan Tiger, gengster ternama di negara ini," cetus Rizal ringan.
"Bangsat! Kalau aku melawan musuh dengan membawa nama perkumpulan, maka aku berani. Tapi ini masalahnya pribadi, Tiger tidak ada sangkut pautnya dengan ini. Tapi karena omong kosong kau, aku membuat Tiger ikut terseret dalam masalah ini. Kalau Jarko tahu, aku bisa digantung," celoteh Romy mulai panik.
__ADS_1