Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
123. Mengumpat (lb)


__ADS_3

"Apa kamu ingat, dia mengatakan apa?" tanya Cara penasaran.


Helen nampak terdiam, seakan sedang mengingat sesuatu. "Aku tidak bisa mengingat semuanya. Tapi … ada satu kata yang sepertinya enak diucapkan," papar Helen.


Cara mengernyit. "Apa?" tanya Cara lagi.


"Bangsat." Helen mengucapkan itu dengan senyum lebar dan wajah cerianya.


Sedangkan Cara dan Geo sempat terkejut mendengar intonasi lembut dari mulut Helen saat mengucapkan kalimat umpatan itu. Belum lagi dengan aksen amerika gadis itu saat berucap. Cara meringis sambil menggaruk pipinya melihat senyum Hesy. 'Astaga, Jesy sudah mencemari otak gadis polos ini,' batin Cara.


"Kamu hanya mengingat itu?" tanya Cara.


"Iya, aku ingin tahu artinya. Apa artinya, Kak?" tanya Helen penasaran.


Cara melirik Geo yang juga sedang menatapnya. Cara kembali menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal. "Jangan ucapkan itu lagi, ya," tutur Cara.


Helen mengernyit bingung. "Kenapa, Kak? Padahal enak menyebutnya," ungkap Helen.


"Itu kata-kata kasar, Sy," terang Cara.

__ADS_1


Mata Helen melotot mendengar kalimat Cara. "Benarkah? Apa itu umpatan?" tanya Helen terkejut.


Melihat Cara mengangguk kecil, mata Helen semakin melebar. "Berarti baru saja aku mengumpat?" ucap Helen lesu.


Cara yang melihat wajah lesu Helen, tertawa kecil. Ternyata hati gadis itu benar-benar lembut. Bahkan sampai merasa begitu berdosa setelah mengucapkan kata yang tidak dimengertinya. "Sudah, kamu kan tidak tahu," papar Cara.


"Tapi … berarti Kak Jesy mengumpat waktu itu? Apa dia sedang marah kepadaku?" ujar Helen.


"Tidak usah dipikirkan, dia memang begitu," balas Cara.


Senyum di wajah Cara memudar kala melihat sesosok yang begitu dikenalinya. Senyum manis itu kini berganti menjadi senyum miring. Sedangkan Torih yang melihat keberadaan Cara sempat terkejut. Laki-laki paruh baya itu menghentikan langkahnya yang berniat membersihkan area ruangan tamu. "Kenapa berhenti, Mas? Ayo, sebelum Rical kembali," papar Sasdia.


"Hai … ke sinilah. Kalian ingin bersih-bersih, ya?" Suara Cara mengejutkan sepasang suami istri itu.


Torih dan Sasdia saling pandang sebelum akhirnya mereka berjalan mendekat ke sana dengan gerakan kaku. "Bersihkan saja, tidak apa-apa. Aku mengerti kalian takut dimarahi majikan kalian kalau mansion ini belum bersih setelah kepulangannya, bukan?" sambung Cara.


Dengan gerakan kaku, Torih dan Sasdia mulai membersihkan ruangan tamu itu. Cara memperhatikan pergerakan mereka dengan senyuman miring. "Ma, Pa!" Cara menoleh saat mendengar suara Jesy memanggil kedua orang tuanya.


Tidak lama kemudian, Cara dapat melihat keberadaan Jesy yang baru datang dari arah belakang. Sedangkan Jesy terkejut, melihat keberadaan Cara dan Geo yang sedang duduk santai di atas sofa. Sangat berdekatan dengan Sasdia dan Torih yang sedang membersihkan ruangan itu.

__ADS_1


"Hai, Jesy," sapa Cara.


Jesy mendekat dan menatap datar ke arah Cara. Wanita itu memberikan minuman dingin kepada Sasdia dan Torih yang tampak begitu kelelahan. "Minum dulu, Ma, Pa," ucap Jesy.


"Ternyata kamu anak yang begitu perhatian, ya. Tapi … kenapa kamu tidak ikut bersih-bersih?" ejek Cara.


"Jesy sedang hamil, jadi dia tidak boleh kelelahan," sahut Sasdia cepat.


Cara terkekeh mendengar itu. "Benar juga ya, kamu kan sedang hamil," papar Cara.


"Kak Rical menyuruh aku untuk ke kantornya, tidak apa-apa, Kak?" Suara Helen mengalihkan perhatian Cara.


Wanita itu tersenyum ke arah Helen yang tampak tidak enak menatapnya. "Tidak apa-apa, pergilah," sahut Cara.


"Maaf ya, Kak. Aku pergi dulu." Setelah mengucapkan hal itu Helen pergi dari sana.


"Helen gadis yang sangat patuh, ya Kak. Langsung berangkat saat Kak Rical menyuruhnya ke kantor. Sifatnya itu sangat sesuai dengan Kak Rical yang begitu egois. Sepertinya Kak Rical juga mulai serius dengan wanita," ucap Cara sengaja ingin memanasi Jesy.


"Iya, Sayang. Kamu juga patuh." Geo mengecup pelan kening sang istri sambil tersenyum kepada Cara.

__ADS_1


Sedangkan tiga orang manusia yang melihat itu sempat terkejut. Jesy mengepalkan tangannya saat mengetahui maksud kepergian Helen. 'Jadi Rical menyuruhnya ke kantor? Aku tidak bisa biarkan ini, gadis gatal itu harus segera aku singkirkan,' batin Jesy marah.


__ADS_2