Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
257. Senja (lb)


__ADS_3

"Jesy," panggil Rian. Wanita yang dipanggil oleh laki-laki itu menoleh ke arah Rian dengan tatapan kosongnya. Meski demikian, melihat Jesy menanggapi panggilannya, itu sudah menjadi sebuah kemajuan.


Rian tersenyum ke arah Jesy yang nampak masih memperlihatkan wajah tidak berekspresi. "Sebentar lagi orang tua kamu pasti akan segera sampai ke sini. Kira-kira apa keinginan kamu dan harapan kamu? Sesuatu yang mungkin kamu harapkan untuk dibawa oleh kedua orang tua kamu saat ini. Apa ada?" tanya Rian.


Jesy hanya diam dan tidak menyahut pertanyaan dari Rian. Wanita itu masih menatap wajah laki-laki di sampingnya dengan pandangan kosong. Sedangkan Rian kembali tersenyum melihat Jesy tidak menanggapi kalimatnya. Hal itu sudah biasa bagi Rian, di mana dia akan berbicara sendiri tanpa mendapat jawaban dari Jesy.


Meski tidak pernah mendapatkan jawaban dari wanita itu. Rian tidak pernah berhenti untuk mengajak Jesy berbicara dan bercerita. Sebab memang itu adalah salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mengembalikan Jesy. "Kamu tahu senja?" ucap Rian.

__ADS_1


Masih sama, Jesy masih diam, tetapi wanita itu tetap menoleh dan menatap wajah manis Rian. "Senja adalah satu waktu di mana pertemuan dan perbenturan antara pergantian sore dan malam. Sangat banyak orang orang yang menyukai senja, karena memang dia membawa satu kesejukan dan satu ketenangan yang lain daripada yang lain."


Jesy masih diam sambil menatap wajah pria yang saat ini juga sedang menatap mata wanita itu secara intens. "Aku adalah salah satu dari banyaknya orang yang menyukai senja. Ketenangan dan kenyamanan yang di bawah dan diberikan oleh senja itu sangat membuat candu. Padahal semua orang tahu jika senja itu hanya sementara. Dengan arti lain kebahagiaan, ketenangan dan kenyamanan yang dibawa oleh senja itu juga hanya sementara. Tapi orang-orang masih bersedia menunggu dan menyukai senja."


Ada pergerakan kecil dari tatapan kosong wanita di samping Rian. Bola mata itu sedikit bergerak saat mendengar kalimat lembut dari Rian. Melihat itu Rian kembali tersenyum tipis merasa senang dengan tindakan kecil wanita di sampingnya itu. Merasa Jesy menunggu sambungan kalimatnya, Rian kembali melanjutkan kalimatnya itu.


Rian terkejut saat melihat bola mata Jesy bergerak lebih cepat dari biasanya. Jika tadi laki-laki itu hanya melihat pergerakan kecil dari bola mata itu. Saat ini Rian dapat melihat Jesy nampak melirik ke kiri dan ke kanan seakan tengah berpikir. 'Kemajuan,' batin Rian senang.

__ADS_1


Laki-laki itu tersenyum saat melihat Jesy kembali menatap ke arahnya. Mungkin wanita itu sudah merasa penasaran dan ingin Rian memberitahu jawaban dari pertanyaannya tadi. Meski Jesy masih enggan mengeluarkan suaranya, pergerakan itu bisa masuk ke dalam catatan perkembangan besar pada hari ini.


"Intinya setiap orang memiliki pendapat dan penilaian yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki tolak ukur kebahagiaan yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki cara dan jalan keluarnya sendiri untuk mengatasi masalah. Setiap orang memiliki tempat atau pun sesuatu untuk mereka mengurangi beban dan pikiran," ungkap Rian.


Jesy masih terdiam menatap wajah Rian yang saat ini sedang menghentikan kalimatnya sejenak. Rian memang sengaja menghentikan kalimatnya untuk melihat reaksi Jesy lagi. Kali ini wanita itu nampak diam menunggu kelanjutan suara Rian.


"Sama seperti kedua orang tua kamu. Mereka memiliki tolak ukur yang berbeda tentang kebahagiaan dari pada orang lain. Melihat kamu seperti ini saja sudah mampu membuat mereka senang. Mengetahui kamu mendapat kemajuan sedikit saja sudah membuat mereka senang. Cara kedua orang tuamu untuk melepaskan beban pikiran dan melepaskan masalah juga berbeda dari orang lain. Cukup dengan melihat kamu ke sini, beban kedua orang tua kamu akan menghilang. Apalagi jika mereka bisa membawa pulang kamu dari sini."

__ADS_1


Rian menatap intens wajah Jesy yang saat ini nampak terlihat murung. Apa mungkin kata kedua orang tua yang sempat diucapkan Rian mampu memberikan sedikit efek kepada Jesy. Buktinya wanita itu saat ini sudah mengalihkan wajahnya dan menunduk menatap rerumputan di bawah kakinya.


__ADS_2