Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
255. Berkumpul (pb)


__ADS_3

"Eh … kenapa, Sayang?" Lamira menatap bayi kecil yang sedang berada di gendongannya. Bayi kecil berumur satu tahun itu terus menunjuk arah Alex yang sedang duduk di atas sofa di depan Lamira.


Menoleh menatap arah tunjuk putranya itu. Nampak Alex sedang sibuk dengan telepon genggamnya. "Kenapa? Exel ingin ke tempat Ayah?" tanya Lamira lembut.


Bayi laki-laki itu terus menunjuk Alex yang masih belum menyadari jika sang putra sedang menatapnya. "Yah," panggil Lamira kepada Alex.


Alex yang sedang sibuk dengan telepon genggamnya menoleh menatap sang istri yang saat ini juga sedang menatapnya. "Exel ingin ke tempat Ayah," ucap Lamira.


Mendengar itu Alex tersenyum kemudian laki-laki itu menyimpan benda pipih di tangannya ke dalam saku celana. Setelahnya Alex bergerak ke arah sang istri sambil tersenyum ke arah putranya. "Kenapa? Exel ingin apa? Kan sudah jajan tadi bersama Papa," tutur Alex kepada putranya.


Anak laki-laki berumur satu tahun itu tidak menyahut tetapi kedua tangannya masih mengembang ingin digendong oleh sang ayah. "Sepertinya dia hanya ingin digendong, Yah," papar Lamira.


"Baiklah ayo kita naik pesawat, apa Exel ingin melihat dedek bayi?" Alex mengambil alih tubuh anak laki-laki itu dari gendongan sang istri.

__ADS_1


"Lex, katanya Jarko dan Elzar akan ke sini, kenapa masih belum sampai? Kalau begini kemungkinan Geo dan Cara akan lebih dulu sampai," papar Rical yang masih menggendong Razi.


"Aku juga tidak tahu mereka mengatakan jika mereka tadi sudah menuju ke sini. Mungkin sedang di jalan," tutur Alex. Juan berjalan mendekat ke arah bayi kecil yang baru lahir sambil membawa tubuh Exel.


"Kau sudah memberi dia nama?" tanya Alex.


"Tentu saja sudah tapi aku akan mengatakannya nanti setelah semuanya ada di sini. Agar aku tidak mengucapkannya berkali-kali," papar Rical.


Cklek …. Suara pintu ruang inap itu terbuka, mengalihkan perhatian seluruh pasang mata yang berada di dalam ruangan itu. "Nah, ini. Panjang umur," papar Rical.


"Tidak, hanya saja aku kira kalian tidak jadi ke sini," balas Rical.


"Nah, ini adalah Eza temannya Exel," celetuk Alex. Alex mendekat membawa putranya ke arah anak laki-laki yang sedang berada di gendongan Elzar.

__ADS_1


"Ayo main sana," ucap Elzar kepada putranya.


"Eh, Geo dan Cara belum sampai, ya?" tanya Jarko.


"Belum, kesulitan karena Geno dan anakmu terus berdebat," balas Rical.


Mendengar kalimat Rical, Jarko dan Marni tertawa. "Mereka itu selalu saja seperti itu. Pandi sering marah dan mengadu kepada kami, jika dia begitu kesal dengan sifat cuek Geno. Tapi esoknya, malah keras lagi ingin diantarkan ke tempat Geno," jelas Jarko.


"Ya, memang begitu. Mereka kadang akan sangat akur dan kadang malah tidak akan pernah akur. Melihat mereka itu, aku seakan melihat Geo dan Farel saat kecil dulu. Geo dan Farel saat kecil juga seperti itu. Sebelum manusia yang satu ini berubah menjadi kulkas." Alex berucap sambil menoleh ke arah Farel yang nampak masih saja memperlihatkan wajah datarnya.


Semua orang yang mendengar kalimat Alex hanya terkekeh kecil. Apalagi melihat tanggapan Farel yang masih saja nampak tidak terpengaruh. "Aku tidak menyangka jika dulu Farel adalah laki-laki yang cerewet," tutur Jarko.


"Kok lihat saja Feno, Farel kecil mirip seperti Feno," ujar Alex.

__ADS_1


Feno Jhons, anak laki-laki berusia dua tahun itu saat ini nampak sedang berceloteh dengan Razi Sunder. Feno dan Razi sepantaran, mereka sama-sama berusia dua tahun, hanya berbeda bulan saja. Dua tahun yang lalu Siera dan Helen sama-sama melahirkan di tahun yang sama. Namun, sekarang Helen sudah melahirkan kembali dan mendapatkan seorang putri cantik yang baru lahir hari ini.


__ADS_2