
"Sekarang saatnya mandi, Sayang," ucap Geo kepada Cara.
"Tapi aku ingin melihat Geno mandi, Dad," balas Cara.
Geo menatap kepergian Tiara dan Siera yang sedang membawa tubuh mungil putranya. Tiara akan segera memandikan putra tunggalnya itu di kamar mandi di kamar Geno. "Ya sudah, setelah itu kamu juga segera mandi. Kamu harus segera sarapan dan minum obat," tutur Geo.
"Iya, Sayang. Ayo cepat kita ikut." Cara menarik tangan Geo dan menyusul langkah kaki Tiara dan Alisa.
"Iya, Baby. Pelan-pelan saja, nanti luka kamu terbuka," peringat Reo. Cara menoleh dan terkekeh kecil menanggapi perkataan Geo. Wanita itu memelankan langkah kakinya, tidak ingin membuat suaminya itu kesal lagi.
Sepasang suami istri itu terus berjalan ke dalam kamar Geno. Dua pasang kaki itu terus melangkah ke arah pintu kamar mandi. Dalam kamar mandi itu terlihat Tiara sedang melucuti seluruh pakaian Geno. "Kamu tidak mandi, Ra?" tanya Siera kepada Cara.
"Aku ingin melihat Geno mandi dulu," sahut Cara.
Siera mengangguk mendengar jawaban Cara. "Sie, tolong kamu pegangkan dulu handuknya," pinta Tiara.
"Apa Geno mandi pakai air hangat, Ma?" tanya Cara.
"Iya, Ra. Kalau air dingin, bayi rentan terkena flu dan masuk angin," jawab Tiara. Cara mengangguk mendengar perkataan Tiara.
Sedangkan Geo terus menatap pergerakan bayi kecil itu yang saat ini sudah berada di dalam air hangat itu. Sudut bibir Geo tertarik membentuk senyum tipis saat melihat pergerakan kaki bayi kecil itu. Nampaknya Geno begitu menikmati sentuhan air hangat di tubuhnya. Melihat itu, membuat hati Geo ikut menghangat.
__ADS_1
"Lihat, Dad. Dia sangat senang bermain air," ucap Cara kepada Geo.
"Iya, Sayang. Sepertinya aku harus membuatkan kolam kecil khusus untuknya nanti," ujar Geo.
"Ide yang bagus itu, Dad," balas Cara.
Beberapa menit melihat Tiara memandikan tubuh Geno. Sekarang Cara dan Geo sudah berada di dalam kamar mereka. Laki-laki tampan itu sedang membantu sang istri membuka bajunya. "Angkat tangannya pelan-pelan saja, Sayang. Nanti jahitan kamu menegang," ucap Geo.
"Iya, Dad," balas Cara. Wanita itu memang nampak begitu perlahan mengangkat tangannya. Sedangkan Geo bertugas melucuti seluruh pakaian sang istri.
"Apa kita mandi bersama saja, Baby? Supaya tidak terlalu lama," papar Geo.
"Aku terserah kamu saja, Sayang," balas Cara.
Cara menoleh dan tertawa mendengar perkataan Geo. Wanita itu mencubit pipi sang suami begitu gemas. "Lagi pula, tubuh kamu masih kekurangan darah. Jadi tidak boleh terlalu lama terbuka. Kamu bisa menggigil kedinginan nanti," sambung Geo.
Cara tersenyum mendengar perkataan sang suami. Geo memang paling tahu segala hal tentang dirinya. Bahkan lebih tahu semuanya dari pada diri dia sendiri. "Love you, Daddy," ucap Cara.
Geo menoleh menatap wajah Cara yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya. "Perlu aku jawab, Sayang?" papar Geo.
Cara tertawa mendengar tanggapan Geo. "Tidak usah, aku tahu jawabannya," sahut Cara percaya diri.
__ADS_1
Geo ikut tertawa mendengar perkataan Cara. "Apa memangnya?" tanya Geo memancing sang istri.
"Love you more Mommy, begitu kan?" tutur Cara.
Geo terbahak melihat wajah cantik sang istri saat mengucapkan kalimat itu. "Yes, bahkan lebih dari apa pun," kata Geo membenarkan.
"Sudah, sekarang ayo kita mandi." Geo mengangkat tubuh Cara perlahan dan membawa tubuh polos sang istri ke dalam kamar mandi.
"Untung aku sedang dalam mode menahan diri sekarang, Sayang. Kalau tidak, kamu sudah aku terkam," bisik Geo.
Cara kembali tertawa mendengar perkataan Geo. "Sabar ya, Dad," goda Cara.
"Iya, kasihan sekali nasib si Joni," balas Geo lesu.
Cara cekikikan menanggapi perkataan Geo yang nampak begitu lucu menurutnya. "Satu bulan, setelah itu sudah bisa," tutur Cara.
"Iya, aku harus sabar," ucap Geo lesu.
"Acara Siera dan Kak Farel kan tinggal beberapa hari lagi, Dad. Nanti kita beli baju dulu, ya. Buat Geno juga, ah … dia pasti akan sangat tampan nantinya," kata Cara.
"Aku juga akan sangat tampan, Sayang," balas Geo yang nampak cemburu Cara memuji anaknya tetapi tidak memuji dirinya.
__ADS_1
Cara mendongak dan tertawa kecil melihat wajah murung milik suaminya. "Kalau kamu sudah tidak diragukan, Daddy. Laki-laki yang sampai saat ini berhasil bertengger diperingkat satu di beberapa negara. Tapi, Daddy tunggu saja tanggal mainnya. Di mana posisi itu nanti akan direbut oleh putra sendiri." Cara berucap sambil terkekeh kecil.