Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
59. Sabar (lb)


__ADS_3

"Aku ini istrimu Rical, bukan pembantumu. Seharusnya aku penghuni kamar utama, bukan kamar tikus seperti ini," protes Jesy.


"Aku lupa, ternyata aku sudah punya istri. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu Jesy. Aku menikahimu karena paksaan dari dirimu sendiri, jadi … jangan mengharapkan perlakuan baik dariku. Bukankah aku sudah memperingatkan kamu sebelumnya? Sekarang nikmati saja, kalau kau tidak suka … silakan kau kembali ke rumah orang tuamu itu," ucap Rical santai.


Jesy mengepalkan tangannya marah. "Setidaknya beri aku kamar yang lebih layak dari ini Rical, aku tidak biasa tinggal di kamar jelek seperti ini," papar Jesy.


"Kalau kau masih ingin tinggal di mansionku, maka tinggal saja di sana. Atau kau ingin pindah ke kamar pelayan sesungguhnya?" sahut Rical.


"Kau benar-benar brengsek Rical, mansionmu ada tiga lantai. Pasti masih banyak kamar tamu yang lebih layak dari ini, setidaknya beri aku satu kamar di lantai dua," tawar Jesy.


"Aku tidak ada banyak waktu untuk meladeni ocehanmu, jika kau tidak suka kamar itu. Silakan kau kembali ke rumah orang tuamu," ujar Rical.


Napas Jesy memburu. 'Jika aku kembali ke rumah, Papa pasti akan marah besar,' batin Jesy frustasi.

__ADS_1


Jesy menatap kamar kecil yang ada dihadapannya itu dengan pandangan marah. 'Sabarlah Jesy, sekarang kamu harus mencoba betah dulu di sini. Ada pepatah, bersakit-sakit dahulu nanti senang kemudian. Aku yakin, nanti ada masanya Rical akan menggilaiku,' sambung Jesy membatin.


"Sudah bukan? Aku masih ada urusan, jangan ganggu aku lagi kau mengerti," tutur Rical.


"Tapi kenapa ini tidak dibersihkan Rical, apa saja kerja para pelayanmu itu?" balas Jesy kesal.


"Pelayan? Mereka aku gaji hanya untuk melayaniku, bukan untuk melayanimu. Jadi apa pun itu kau kerjakan saja sendiri, mereka tidak ada tanggung jawab kepada dirimu," sahut Rical.


Jesy dapat mendengar suara tawa di seberang telepon. "Nyonya? Apa kau sedang bermimpi? Bangunlah, sebelum aku yang membangunkannya. Jangan berkhayal terlalu tinggi Nyonya Jesy," ejek Rical.


Baru saja Jesy ingin menyahut perkataan Rical, wanita itu terdiam saat mendengar suara wanita di seberang telepon. Jesy melotot saat mendengar suara kecupan yang mungkin berasal dari pergelutan antara bibir manusia. "Rical!" teriak Jesy.


"Oh … astaga, aku lupa kalau kau masih hidup. Maksudku, sambungan teleponnya masih hidup. Sudah ya, aku ada urusan. Jangan ganggu aku," papar Rical.

__ADS_1


"Apa yang akan kau lakukan Rical? Kenapa aku mendengar suara perempuan dan suara laknat itu?" desis Jesy.


"Aku? Seperti biasa, ini jam bergeludku," balas Rical santai.


"Kau tidak memikirkan aku? Kau sudah punya istri Rical," geram Jesy.


Rical terkekeh sinis di sana. "Terus kenapa kalau aku sudah menikah? Aku bukan laki-laki yang akan cukup dengan satu wanita saja, asal kau tahu itu. Jadi, tidak usah mengaturku. Kau memang sudah sah menjadi istriku, tapi itu hanya di atas kertas. Aku … masih menganggapmu sebagai wanita hiburanku," tekan Rical. Setelah mengucapkan itu Rical memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Napas Jesy memburu, wanita itu mengepalkan tangannya merasa begitu marah. "Aku harus tahan untuk sekarang, sabarlah Jesy," gumam Jesy mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Namun, siapa sangka jika di dalam hati. Jesy sudah menangis merasa begitu terluka. Pernikahan dirinya dengan Rical bahkan baru hitungan jam, tetapi laki-laki itu malah bermain bersama wanita lain. "Aku ingin bersama Mama sekarang," sambung Jesy.


Jesy menoleh ke samping, wanita itu sudah tidak menemukan keberadaan pelayan yang mengantarnya tadi. Sepertinya dia memang harus membersihkan kamar itu sendiri. "Ck … percuma saja aku jadi istri Rical kalau akan menjadi babu di sini. Aku harus mencari mereka, enak saja mereka senang-senang membiarkan aku membersihkan tempat ini sendiri," gerutu Jesy. Setelahnya wanita itu bergerak berniat mencari para pelayan mansion.

__ADS_1


__ADS_2