
"Sudah syukur aku bersedia menikahimu bukan?" ejek Rical.
"Aku ingin ada pesta besar Rical, aku ingin menikah lebih mewah dari pada pernikahan wanita sialan itu," ucap Jesy.
Rical tertawa keras mendengar itu. "Kau benar-benar wanita rakus ya, kalau kau ingin ada pesta pernikahan yang mewah. Maka kau nikahi laki-laki konglomerat yang juga mencintaimu. Kalau aku, semua mimpimu itu akan tetap menjadi mimpi. Kau paham? Lagi pula, siapa laki-laki di negara ini yang levelnya lebih tinggi dari Tuan Vetro. Tidak ada Nona Gerisam," ledek Rical.
Jesy terdiam, apa yang dikatakan oleh Rical ada benarnya. Geo Vetro adalah laki-laki terkaya di negara ini dan beberapa negara lainnya. "Setidaknya pesta yang sama dengan mereka," ujar Jesy lagi.
Rical kembali tertawa. "Aku tidak sudi menghabiskan uangku untuk perempuan tidak penting seperti dirimu. Memangnya siapa kau berani meminta pesta mewah kepadaku? Aku nikahi saja kau sudah beruntung." Rical tersenyum miring kepada Jesy yang sudah mengepalkan tangannya.
...*****...
Cara tersenyum miring saat melihat hasil rekaman yang dikirimkan Alex kepadanya. Interaksi antara Rical dan Jesy begitu jelas terlihat di layar laptop milik wanita itu. Tidak sampai berapa lama tiba-tiba ponsel Cara berdering nyaring. Nama Alex terpampang di sana membuat Cara meringis. 'Astaga, aku lupa mengabarinya. Bersiap-siaplah wahai telinga,' batin Cara.
"Halo Kak," sapa Cara pelan.
"Halo Kak." Terdengar suara meledek kesal dari seberang telepon Cara. Hal itu membuat Cara meringis.
__ADS_1
"Nanti kalau sudah sampai aku kabari." Alex melanjutkan aksi menyindir Cara.
Cara menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Maaf Kak, aku ketiduran. Pas bangun ternyata udah ada di dalam kamar Kak Ge, aku malah tadi mikirnya diculik," ucap Cara.
Cara mendengar jelas Alex mendengus kesal. "Ketiduran? Tetapi bisa kabari Farel begitu? Aku dilupakan," kesal Alex.
"Bukan begitu Kak, Kak Farel baru aja chat aku sambil ngirim video seru. Aku aja baru ini cek ponsel." Cara menjawab mencoba menjelaskan kepada Alex.
"Ck … ya sudah, yang penting kamu baik-baik saja sampai di sana. Aku pikir kamu melupakan aku karena mulut sok manis laki-laki es itu," ujar Alex.
"Aku sudah kenyang bersamanya sedari kecil. Ditambah dengan sepupunya yang sebelas duabelas itu, kalau bersama mereka aku jadi menggigil. Belum lagi mulutku yang sering berbusa karena jadi juru bicara mereka selama ini. Padahal mereka punya mulut, tetapi aku selalu berpikir positif saja. Mungkin suara mereka disewakan kepada orang lain," ucap Alex dengan nada kesal.
Cara terbahak mendengar gerutuan kesal dari Alex. Laki-laki tegas itu memang selalu sukses membuat Cara tertawa. Entahlah, jika sedang menjabat sebagai wakil Death, aura Juan begitu berwibawa. Namun, jika sudah bersama Cara, laki-laki itu tidak ada bedanya dengan kakak laki-laki pada umumnya. "Kakak sabar sekalinya selama berapa tahun ini," puji Cara.
"Jelas, kalau tidak aku tidak akan setampan ini. Wajah tampanku ini karena aku begitu sabar selama ini menghadapi mereka," canda Alex. Cara tertawa, awal bertemu Alex memang sudah memberikan kesal hangat untuk Cara. Namun, siapa sangka kalau laki-laki itu malah semakin hari semakin narsis jika bersama Cara. Sangat terlihat rasa sayang Alex dan Farel kepada Cara, mungkin mereka sudah lama menginginkan adik perempuan.
Cklek …. Geo keluar dari kamar mandi dan mengernyit saat melihat sang istri sedang tertawa lepas sambil menelepon. Geo mendekat dan mengambil pelan telepon genggam dari tangan Cara. Geo menatap malas nama orang yang sedang menelepon istrinya itu. "Jangan ganggu bulan maduku," ujar Geo datar.
__ADS_1
Alex sempat terkejut mendengar suara lembut Cara tiba-tiba berubah menjadi suara berat nan dingin itu. "Ck … aku tidak mengganggu Anda Tuan Vetro, aku hanya sedang menelepon adik perempuanku. Aku ingin menanyakan kabarnya, apakah dia baik-baik saja di sana. Apakah kau memperlakukannya deng …."
"Berisik." Geo memotong kalimat Alex dan memutuskan sambungan telepon itu begitu saja.
Hal itu membuat Cara melotot terkejut. "Ih, kok Kak Ge begitu? kasihan Kak Alex," ujar Cara.
"Tidak perlu dikasihani Sayang, dia sudah biasa seperti itu." Geo mengecup pelan bibir sang istri.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain Alex sudah melotot saat menyadari sambungan telepon itu sudah terputus. "Laki-laki es bangsat!" umpat Alex kesal.
Alex menatap tumpukan map di atas meja kerjanya dengan pandangan malas. "Setelah dia melimpahkan semua pekerjaan kepadaku, sekarang dia tidak mengizinkan aku untuk berbicara sebentar dengan adikku. Ck … sayang sekali aku tidak bisa melawan kembaran malaikat maut itu," sambung Alex kesal.
__ADS_1