Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
57. Pipis di celana (lb)


__ADS_3

Siera berjalan santai ke arah gerbang kampus, gadis itu menatap dua laki-laki yang masih saja mengikuti langkah kakinya. Siera menghela napas berat. "Kalian pulanglah, aku hanya tinggal mencari taksi dan pulang ke rumah. Beres bukan?" ujar Siera.


"Tidak Nona, seperti biasa kami akan mengantarmu sampai ke rumah," sahut satu laki-laki.


Siera memutar bola matanya kesal. "Terserah kalianlah," gerutu Siera.


Brum …. Siera terkejut saat dengan tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di dekatnya. Saat Siera ingin melanjutkan kembali langkahnya, suara seseorang mengejutkannya. "Ayo," ucap orang itu.


Siera terkejut, gadis itu menoleh dan melotot sambil menelan ludahnya kasar. 'Astaga, dia lagi,' batin Siera gugup.


Laki-laki yang berada di dalam mobil itu keluar saat melihat Siera masih saja diam dengan wajah pucatnya. Laki-laki itu mendekat dan membukakan pintu penumpang. "Masuklah," ucap laki-laki itu.


Siera tersadar, gadis itu menatap pintu mobil yang dibuka oleh laki-laki itu. "Kakak berbicara kepadaku?" tanya Siera bodoh.


"Hemm," deham laki-laki itu.


"Ta-tapi aku bisa pulang sendiri," balas Siera gugup.


"Kau tidak membawa mobil," ujar laki-laki itu.


"Aku, bisa menggunakan taksi," sahut Siera lagi.


"Cara akan marah kalau tahu aku membiarkanmu menggunakan kendaraan umum," sahut laki-laki itu.


Siera menelan salivanya susah payah. 'Lagi-lagi Nyonya Vetro itu lagi … hah,' batin Siera kesal.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih Kak." Siera yang tidak ingin membuat laki-laki itu menunggu lama memilih masuk ke dalam mobil.


Laki-laki itu menoleh ke arah dua laki-laki penjaga Siera. "Kalian kembali ke markas, Siera bersamaku," ucap laki-laki itu.


"Baik Tuan," sahut dua laki-laki serentak.


.


.


.


Siera duduk kaku di kursi penumpang. Laki-laki di sampingnya itu sungguh irit bicara, hal itu membuat ketakutan dan tingkat kegugupannya bertambah. 'Ya ampun, aku benar-benar kehilangan oksigen rasanya berada didekatnya seperti ini. Kenapa harus dia lagi, lebih baik dua laki-laki tadilah. Aku ingin pingsan saja, bisa tidak ya?' batin Siera frustasi.


Siera tidak berani mengeluarkan suara. Dia hanya berani bergumam di dalam hati. 'Kenapa juga Cara menyuruh laki-laki datar ini?' sambung Siera membatin.


Siera terlonjak saat pikirannya masih bertempur di dalam hati, tiba-tiba ponselnya berbunyi memekakkan telinga. Siera melirik kaku ke arah laki-laki yang masih fokus menyetir mobil. "Angkatlah," ucap laki-laki itu.


Siera mengangkat panggilan telepon dengan pergerakan gugup. "Halo," sapa Siera.


"Ada apa dengan suaramu? Kau sedang menahan BAB? Atau kotorannya susah keluar?" tanya Cara.


Siera mengumpati Cara di dalam hati, gadis itu melirik sekilas ke arah laki-laki yang sepertinya tidak terganggu. "Nyonya Vetro, Anda benar-benar seperti peramal." Alisa menekan suaranya yang ingin mengumpat kesal kepada Cara.


Siera mendengus tertahan saat mendengar suara tawa Cara. "Coba aku tebak, kau sedang bersama kakakku bukan?" ucap Cara.

__ADS_1


"Aku pikir kamu benar-benar peramal," ejek Siera.


Cara kembali tertawa. "Apa dia mencuekimu lagi? Ya ampun, kakakku yang satu itu benar-benar irit bicara ya," papar Cara.


"Ekhm … sepertinya Anda melupakan suami Anda Nyonya," sindir Alisa.


Cara terkekeh bodoh di seberang telepon. "Coba berikan ponselnya kepada kakakku itu," ucap Cara.


Siera melotot. "Nanti aku telepon kembali yah Nyonya," ujar Siera tidak sesuai.


"Hei, aku katakan berikan ponselnya. Apa kau takut hanya untuk mengatakan aku ingin berbicara Nona Alisa. Wah … ternyata Nona Alisa yang begitu pemberani ini bisa takut juga ya," goda Cara.


Siera menghela napasnya berat mencoba menahan umpatannya yang benar-benar sudah berada di ujung bibir. Siera melirik ke samping sedikit kaku. "Maaf Kak, Cara ingin berbicara." Siera menyodorkan ponselnya kepada laki-laki itu.


"Tolong loudspeaker," sahut laki-laki itu.


Siera dengan segera mengaktifkan mode loudspeaker dipanggilan itu. "Halo," sapa laki-laki itu.


"Halo Kak, kakak sedang membawa mobil?" tanya Cara.


"Iya, kenapa?" tanya laki-laki itu.


"Tidak, aku hanya ingin Kak Farel jangan perlihatkan wajah menyeramkan. Kasihan Siera jadi ketakutan," ucap Cara.


Siera melotot sambil mengumpat di dalam hati. Sedangkan laki-laki itu melirik singkat ke arah Siera yang sudah mengalihkan wajahnya karena malu. "Aku menyeramkan?" tanya Farel dengan nada datar khas miliknya.

__ADS_1


"Mungkin saja … aku takutnya Siera pipis di celana nanti." Siera kembali melotot, dengan gerakan cepat gadis itu menarik ponselnya dan menonaktifkan mode loudspeaker dipanggilan itu.


"Maaf Kak, sepertinya Cara sedang sangat butuh istirahat," ucap Siera kaku. Sedangkan di seberang telepon, Cara sudah tertawa keras saat mendengar perkataan Siera kepada Farel.


__ADS_2