
Pintu ruangan rawat Cara kembali terbuka. Geo mendekat dengan wajah tegang, takut mendapatkan berita buruk. "Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Geo tidak sabar.
Dokter wanita itu tersenyum tipis kepada Geo dan yang lainnya. "Keadaan Nyonya Vetro sudah normal, Tuan. Sekarang Nyonya sudah sadar, silakan masuk tapi jangan terlalu membuat Nyonya Vetro kelelahan. Untuk masalah ASI, saya rasa Nyonya Vetro sudah bisa memberikan ASI nanti setelah Nyonya Vetro meminum obat," jelas dokter panjang lebar.
Semua mata orang yang mendengar perkataan dokter wanita itu berbinar bahagia. "Terima kasih, Dok," sahut Alex.
Sedangkan Geo sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan inap itu dengan wajah tidak sabar. Geo menatap ke arah ranjang di mana istrinya berada. Mata Geo menatap sendu Cara yang saat ini sedang tersenyum manis ke arahnya. Geo berjalan cepat ke arah sang istri dengan mata berkabut. "Mommy," lirih Geo.
Cara tersenyum manis ke arah Geo, wanita pucat itu menatap wajah Geo yang saat ini sudah basah karena air mata. Cara terkekeh melihat wajah datar itu sekarang malah sedang terisak. "Kakak lucu kalau sedang menangis," ucap Cara gemas.
Geo yang mendengar itu segera mendekat. Secara perlahan laki-laki itu mulai mendaratkan ciuman rindunya di setiap jengkal wajah Cara. Hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan itu, sebab semua orang sengaja ingin memberikan waktu kepada Geo.
Cara yang mendapat serangan bertubi-tubi dari sang suami hanya bisa tertawa geli. Cara menahan wajah Geo dengan tangannya saat merasakan bulu-bulu halus di wajah sang suami menusuk kulit wajahnya. "Kakak tidak cukur kumis dan jenggot?"
Geo menghapus jejak air matanya dan meringis saat melihat tatapan tajam yang sudah begitu dirindukannya. Laki-laki itu menggaruk kepala belakangnya bingung harus menjawab apa. "Dia bahkan tidak mau mandi dan melakukan apa pun, Dek."
__ADS_1
Suara Alex mengalihkan perhatian sepasang suami istri itu. Alex dan beberapa orang lainnya mulai masuk satu per satu ke dalam ruangan Cara. "Iya, dia sudah menjadi kembaran orang gila karena kamu masih belum sadar," tambah Rical.
"Aku tidak menyangka kalau aku tidak sadar sudah tiga hari lamanya," balas Cara.
"Kami semua di sini merindukan kamu," cetus Farel tulus.
Cara yang mendengar itu tersenyum penuh haru. Dia merasa senang karena benar-benar merasakan memiliki sebuah keluarga. "Ra," panggil Siera.
Cara menoleh dan menatap wajah merah Siera yang nampak sedang menahan tangis. Cara tersenyum manis ke arah Siera yang saat ini sudah menangis tersedu-sedu. "Kamu jahat … hiks."
Cara terkekeh melihat wajah merah Siera yang masih tersisa sedikit segukan kecil. "Sekarang aku sudah bangun, berarti tidak jadi kena marah," balas Cara mencoba mencairkan suasana haru itu.
Oek … oek … oek …
Cara terkejut mendengar suara tangis itu. Setelahnya Cara menunduk guna melihat perutnya. Wanita itu baru menyadari jika dirinya sudah tidak memiliki perut buncit lagi. Cara menoleh ke arah Geo dengan pandangan tidak sabar. "Apa itu anak kita, Kak? Mana dia?" ucap Cara tidak sabar.
__ADS_1
"Sayang." Cara menoleh dan melihat sosok Tiara sedang menggendong seorang manusia mungil.
"Mama," balas Cara. Mata wanita itu tertuju kepada si bayi kecil yang saat ini sedang ditepuk-tepuk pelan oleh Tiara.
"I-ini …." Cara menatap Geo yang saat ini sudah tersenyum sambil mengangguk pelan.
Mata Cara berembun melihat Geo mengangguk pelan. Wanita itu menatap bayi kecil yang sedang berada digendongan Tiara. "Kak, bantu aku duduk. Aku ingin menggendongnya," pinta Cara.
"Tapi hanya sebentar, Sayang. Kata Dokter, kamu tidak boleh terlalu lelah dulu," balas Geo.
"Iya, aku hanya ingin menyapa anak kita," tutur Cara.
Secara perlahan Geo membantu Cara untuk menaikkan kepala ranjang supaya wanita itu bisa sedikit terduduk. "Tolong ya, Ma," ucap Cara kepada Tiara.
Tiara mulai mendekat dan memindahkan bayi mungil itu ke pelukan Cara. Setelah sang anak berada di dalam pelukannya, Cara menunduk dengan mata penuh haru. Bayi kecil itu nampak memejamkan matanya. "Kamu tidur, Sayang. Ini Mommy," bisik Cara.
__ADS_1