Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
65. Terdengar Romantis (lb)


__ADS_3

"Lepaskan … shhh," Jesy meringis kesakitan. Sedangkan Cara yang melihat itu tertawa sinis.


"Kau berani sekali ya, mencoba menyentuh Nyonya Vetro? Kau bosan hidup?" ejek Siera.


Jesy menatap tajam Cara dan Siera bergantian. "Kau sendiri juga sangat berani berurusan dengan Nyonya Carves. Kau hanya anak pemilik kafe, tidak usah sok berkuasa," papar Jesy.


Siera tertawa mendengar itu. "Ya ampun, aku sama sekali tidak takut dengan statusmu sebagai istri Tuan Carves. Kalau kau bisa membawa Tuan Carves ke sini untuk membantumu, aku akan bersujud untuk meminta maaf kepadamu. Bagaimana?" ledek Siera.


Sedangkan Jesy terdiam. 'Mana mungkin Rical mau ke sini hanya untuk hal ini,' batin Jesy.


"Kenapa diam? Tidak bisa ya? Sepertinya Tuan Carves tidak seperhatian itu ya," ejek Siera.


Cara tertawa mendengar itu, sedangkan Jesy menatap benci dua perempuan itu sambil meringis. Pergelangan tangannya masih saja ditahan dan digenggam erat oleh Siera. "Lepaskan tanganku bangsat," teriak Jesy.

__ADS_1


"Aku hanya memegangmu sedikit saja, mau saja yang terlalu lebay," ledek Siera.


'Sedikit katanya? Aku jamin tanganku akan membengkak setelah ini,' batin Jesy marah.


"Lepaskan saja Al, kasihan ibu hamil," papar Cara santai.


"Baiklah, karena Nyonya Vetro memintaku untuk melepaskanmu. Jadi aku lepaskan, padahal enak loh bergenggaman tangan seperti ini denganmu," ucap Siera.


Cara kembali terbahak, bukannya mengatakan tidak sengaja. Siera malah dengan jujur mengatakan kalau dia sengaja membuat pergelangan tangan Jesy seperti itu. "Sudah, ayo kita pulang. Suamiku pasti sudah menunggu di parkiran," ajak Cara.


Baru saja Cara dan Siera akan melangkah, Cara kembali menoleh ke arah Jesy yang masih meringis. "Oh iya Nyonya Carves, sepertinya kita akan sering bertemu ke depannya. Bukan hanya di kampus, tapi … di mana saja kau berada … di situ akan ada aku. Terdengar romantis sekali bukan?" Cara tersenyum jahat.


Sedangkan perasaan Jesy sudah was-was mendengar perkataan Cara. 'Apa lagi yang dia rencanakan?' batin Jesy.

__ADS_1


Jesy mengernyit saat melihat Cara kembali berbalik badan. "Apa lagi?" ucap Jesy sinis.


"Aku melupakan sesuatu." Cara berucap sambil terus mendekat ke arah Jesy.


"Aku paling tidak suka jika sesuatu terjadi setengah-setengah. Berhubung tamparanmu tadi masih setengah jalan, jadi izinkan aku untuk menyelesaikannya," ucap Cara.


Jesy mengernyit tidak mengerti. "Apa maks …."


Plak …. Kalimat Jesy terputus saat dengan tiba-tiba Cara menampar pipi kirinya. Kepala Jesy tertoleh ke kanan, wanita itu meringis merasakan perih di pipi kirinya. Dengan gerakan cepat Jesy menatap tajam ke arah Cara. "Done, berarti semuanya sudah selesai bukan? Hatiku menjadi lega sekarang, kalau begitu sampai bertemu lagi Adikku tersayang." Cara tersenyum miring, setelahnya wanita itu meninggalkan Jesy dengan setumpuk kemarahan.


"Wanita brengsek, aku akan membalas semua ini bangsat!" Jesy beteriak histeris, dadanya bergemuruh menahan amarah yang memenuhi ruang hati dan jiwanya.


Sedangkan Cara dan Siera yang mendengar teriakan Jesy sudah tertawa puas. Bahkan Siera mengangkat jari tengahnya untuk Jesy tanpa membalikkan badannya. Hal itu semakin memancing amarah Jesy. "Lihatlah, akan aku buat kau berteriak minta ampun di bawah kakiku Cara. Aku harus segera membuat Rical melirikku, aku sudah tidak tahan dengan ini semua," gumam Jesy.

__ADS_1


__ADS_2