
Sasdia dan Torih berjalan mendekat ke arah Jesy yang saat ini sedang duduk di kursi biasa. Setiap sekitaran jam empat sore, Jesy pasti akan diajak untuk duduk di taman oleh perawatnya. Sebab itu Sasdia dan Torih selalu menghampiri sang putri di jam tersebut. "Permisi, Mbak," sapa Sasdia kepada perawat Jesy.
Perawat itu tersenyum ramah kepada Sasdia dan Torih. "Selamat sore Bu, Pak," balas perawat itu.
"Sore, Mbak," sahut Sasdi dan Torih serentak.
"Saya ingin memberi tahu sesuatu, yang mungkin bisa dikatakan sebagai kemajuan kecil. Tadi Nona Jesy sempat bergumam kecil," ucap perawat itu.
Sasdia dan Torih saling tatap dengan pandangan terkejut. Setelahnya sepasang paruh baya itu kembali menoleh ke arah perawat dengan pandangan penasaran. "Anak kami menggumankan apa, Mbak?" tanya Sasdia penasaran.
"Aku ingin bahagia … Nona Jesy menggumankan itu, Bu," ungkap perawat wanita itu.
Napas Sasdia dan Torih tercekat mendengar perkataan perawat itu. Sedangkan perawat itu hanya bisa tersenyum tipis. "Memang kalimat yang diucapkan Nona Jesy terdengar menyakitkan. Tapi, ini adalah suatu kemajuan. Selama ini Nona Jesy selalu diam, tanpa mengeluarkan sedenting suara pun. Jadi saat dia sudah bersuara seperti tadi, itu bisa dikatakan sebagai sedikit kemajuan," jelas perawat wanita itu.
Sasdia dan Torih menunduk menatap wajah Jesy yang selalu terlihat tidak ada semangat hidup. Tatapan mata Jesy yang menatap kosong ke depan. "Iya, Mbak. Kami senang akhirnya ada sedikit kemajuan. Nanti kami akan mencoba mengajak dia untuk berbicara. Semoga saja dia mau mengeluarkan suaranya lagi. Aku … sudah begitu merindukan suaranya," lirih Sasdia.
Perawat wanita itu menatap wajah sedih Sasdia dengan pandangan simpati. "Semoga saja, Bu. Tapi jangan dipaksa ya, Bu, Pak. Takutnya nanti Nona Jesy marah dan mengamuk," balas perawat itu.
Sasdia mengangkat kepalanya dan menatap perawat itu dengan senyum tipis. "Iya, Mbak. Terima kasih," tutur Sasdia.
__ADS_1
"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu, Pak. Nanti saya akan kembali satu jam lagi, seperti biasa," pamit perawat itu.
"Iya, Mbak," balas Sasdia dan Torih.
...*****...
"Ma, kenapa Mama harus memasak sebanyak ini? Nanti Mama kelelahan," kata Cara kepada Tiara.
Tiara tersenyum menanggapi perkataan Cara. "Tidak apa-apa, Ra. Lagi pula Mama tidak memasak sendirian. Mama dibantu Lamira dan Helen, terus beberapa pelayan bagain dapur di sini. Mereka bahkan lebih banyak dari pada karyawan Mama di kafe." Tiara berucap sambil terkekeh kecil.
"Aku cuma bantu menyusun saja, Kak." Lamira menambahkan sambil tertawa bodoh.
"Helen tuh, pintar juga dia masak," ucap Tiara.
"Iya, Siera juga sempat bercerita. Dia nampak telaten, Mama juga sempat mencicipi masakannya tadi. Memang enak," tambah Tiara.
"Untung Kak Helen tidak mengerti, ya. Kalau dia tahu kita sedang memujinya, pasti sekarang sudah terbang dia," celetuk Lamira.
Cara dan Tiara terkekeh kecil mendengar perkataan Lamira. Mereka menoleh ke arah Helen yang masih nampak diam, sibuk dengan Geno. "Dia nampaknya memang begitu menyukai bayi," ucap Cara.
__ADS_1
"Sayang." Cara menoleh saat mendengar suara sang suami memanggilnya lembut. Nampak Geo berjalan mendekat dengan Farel dan Siera di belakangnya.
"Sudah siap semua, Daddy?" tanya Cara.
"Sudah, sekarang ayo kita makan," balas Geo.
"Iya, Kak Alex dan Kak Rical mana? Mereka pasti juga lapar," ucap Cara.
"Biarkan saja mereka, tidak usah dipikirkan," tutur Geo.
"Ish, tidak boleh begitu, Sayang," kata Cara.
"Tahu kau, sahabat durhaka," cetus Juan yang baru saja datang bersama Rical.
"Papa tadi mana, Ma?" tanya Cara kepada Cara.
"Dia sedang di belakang, biar Mama panggil dulu. Kalian mulai saja," papar Tiara.
"Baby, ayo duduk di sini. Aku suapi." Geo menepuk pahanya dan berniat menarik tubuh Cara.
__ADS_1
"Tidak usah, Sayang. Aku bisa sendiri, kok. Kamu makan saja, pasti sudah sangat lapar. Mama ada memasak dendeng basah kesukaan kamu," tolak Cara.
"Tidak, aku maunya menyuapi kamu. Ayo ke sini." Geo tidak menghiraukan pandangan mata manusia lainnya yang saat ini sudah menatap mereka iri. Sedangkan ada dua laki-laki yang sudah mendengus kesal menatap Geo. Geo tetap mengangkat tubuh Cara dan meletakkan tubuh sang istri di atas pangkuannya. Sedangkan Cara hanya bisa pasrah menerima perlakuan sang suami.