Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
231. Mematahkan (lb)


__ADS_3

Elzar menyenggol siku Romy menyadarkan laki-laki itu. Romy terkesiap, laki-laki itu menatap Geo dengan pandangan ragu. Secara perlahan kaki laki-laki itu mulai melangkah mendekat ke arah pemimpin mafia itu. 'Semoga aku pulang masih dengan nyawa,' batin Romy ketakutan.


"Tidak melamun saja, kau belum tentu bisa menyerangku. Apa lagi dengan melamun seperti itu." Suara berat Geo mengejutkan Romy.


"Serang aku," sambung Geo datar.


Meski dengan keraguan, Romy mulai memasang kuda-kuda. Setelah beberapa detik menenangkan diri, Romy mulai menyerang Geo. Sedangkan Geo saat ini hanya menghindar dan menahan pukulan yang dilayangkan Romy kepadanya.


Bugh … Brak …


"Uhuk …." Romy terjungkal ke tanah saat Geo memukul perutnya. Bahkan laki-laki itu terbatuk dan mengeluarkan darah.


"Serahkan dia kepadaku, panglima perang … lebih sah berduel dengan panglima perang juga, bukan?" Suara Rical mengalihkan perhatian semua orang.


Rical mulai berjalan mendekat ke arah Geo. Namun, wajah Rical saat ini terlihat sangat berbeda. Raut kelam dan tatapan tajam nan begitu menusuk. Mungkin ini yang dimaksud oleh Rical, jika Rical sedang dikuasai emosi. Maka laki-laki itu akan terlihat seperti kembaran Geo, gila dan ganas.


Sedangkan Geo yang melihat Rical ingin mengambil alih. Memilih mundur, mengalah dan memberi akses kepada sang panglima tempur Death itu. "Jaga emosi," peringat Geo kepada Rical.

__ADS_1


Rical menatap Romy yang saat ini masih terduduk di atas tanah. "Berdirilah," ucap Rical datar.


Romy yang mendengar itu dengan segera berdiri dan menatap Rical dengan pandangan yakin. Jujur saja sudah dari lama laki-laki itu ingin mencoba berduel dengan Rical, sang panglima perang Death itu. Sampai sekarang, Romy merasa kesempatannya tiba.


Rical tersenyum miring saat melihat wajah serius milik Romy. Dia merasa senang karena lawannya nampak juga berambisi. "Kau duluan," cetus Rical.


Mendengar itu, tanpa menyahut, Romy mulai bergerak menyerang Rical. Duel pun terjadi, panglima perang gengster ternama dengan panglima perang mafia ternama. Sungguh malam ini akan menjadi sejarah paling mengesankan bagi Tiger. Sebab ini adalah duel terpanas yang pernah mereka lihat.


Pak … Bugh …


Bugh … Bugh … Krak …


"Akkhhh." Romy menjerit kesakitan kala Rical baru saja mematahkan tulang tangannya.


Semua anggota Tiger yang melihat itu nampak mulai heboh. Begitu pula dengan Jarko dan Elzar yang saat ini sudah melotot menatap Rical dengan pandangan marah. "Kau …."


Teriakan Jarko terhenti saat Geo mengangkat tangan kanannya ke udara. Pemimpin Death itu mulai berjalan mendekat ke dalam pusat kepanasan itu. Romy masih nampak kesakitan di atas tanah dengan tangan sudah membengkok. "Ini bukan duel yang seharusnya, sedari awal memang kalian nampaknya yang ingin perang," desis Jarko.

__ADS_1


Geo tersenyum miring mendengar kalimat Jarko yang nampak sudah terpancing emosi. "Bukan kami, tapi dia dan saudara sepupunya." Geo menunjuk Romy yang saat ini nampak terkejut.


Sedangkan kening Jarko saat ini sudah berkerut tidak mengerti dengan kalimat Geo. "Kau benar-benar teledor dengan begitu gampangnya ditipu bahkan oleh orang kepercayaan sendiri. Dan kau … sang ahli IT yang begitu tidak jeli."


Geo bersuara menatap Josua dan Elzar bergantian. "Apa maksudmu?" tanya Jarko tidak sabar.


"Fel." Bukannya menyahut pertanyaan Jarko, Geo malah memanggil nama Farel. Sedangkan Farel dengan santai menekan ikon di layar tabletnya.


Ting …. Ponsel milik Elzar berbunyi, dengan segera laki-laki itu mengambil benda pintar itu dan melihat apa yang baru saja masuk. Melihat nama si pengirim, Elzar melirik ke arah Farel yang masih nampak tenang dengan wajah datarnya.


Klik …. Elzar memencet ikon buka, Jarko yang ikut penasaran, melirik layar ponsel Elzar sambil sesekali menoleh Geo dan Elzar. Beberapa menit melihat layar ponsel itu, mata Jarko dan Elzar melotot tidak percaya. Dua laki-laki itu menatap tajam ke arah Romy yang saat ini sudah pucat karena menahan sakit bercampur panik.


"Kau membohongi kami?" desis Jarko tidak percaya.


"Maafkan aku, aku sebenarnya juga dijebak sepupuku sendiri. Aku minta maaf," balas Romy kehilangan akal.


"Sh**!" umpat Jarko marah.

__ADS_1


__ADS_2