Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
186. Rencana (lb)


__ADS_3

Satu minggu yang lalu.


"Dua laki-laki kembar yang sakit jiwa. Mereka mengambil semua job tanpa melihat salah atau benarnya," tutur Alex.


"Ya, makanya mereka cukup berbahaya. Jika kita tidak bertindak dengan cara pintar, mereka bisa memanipulasi kita," tambah Rical.


Geo tersenyum miring mendengar perkataan dua sahabatnya. "Sepintar apa pun mereka, jika sudah ketahuan oleh Death … tetap saja bodoh," ucap Geo sinis.


"Jadi apa yang akan kau lakukan?" tanya Alex.


"Aku jamin dia akan menargetkan Cara atau mungkin calon anakku. Sebab untuk menembak aku langsung, mereka pasti tidak akan berani. Jadi, mereka mencari umpan dulu," jelas Geo.


"Benar, sebab itu penjagaan Cara harus semakin ketat," papar Rical.


"Mereka sudah bergerak beberapa bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang masih belum mendapat cela untuk masuk. Sepertinya bagus kalau kita yang memberi mereka cela." Geo berucap sambil tersenyum miring.


"Maksudmu?" tanya Alex.


"Sekitar satu minggu lagi, Cara akan melahirkan. Aku rasa mereka akan mengambil waktu di sana. Baca situasi, dan pantau mereka. Jika ada kesempatan, berikan mereka cela, biarkan mereka merasakan bagaimana bermain dengan Death," desis Geo.


.

__ADS_1


.


.


Beberapa menit setelah anak Geo lahir dan selesai dibersihkan di dalam ruangan operasi. Seorang dokter nampak memasukkan sang bayi ke dalam sebuah keranjang dan bersiap membawa keranjang itu keluar. "Tunggu dulu," cegah Geo.


Dokter itu menoleh ke arah Geo dengan pandangan bertanya. "Maaf, Tuan?" tanya dokter tersebut.


"Apa anakku akan aman jika tetap berada di ruangan ini?" tanya Geo.


Kening dokter itu berkerut tidak paham. "Maksud Anda?" tanya dokter.


"Biarkan anakku tetap di sini, sampai aba-aba dariku. Dia akan tetap baik-baik saja jika berada di dalam ruangan ini, bukan?" ungkap Geo seraya bertanya diakhir kalimatnya.


"Bagus, tolong bawakan ke sini keranjang baru dan satu buah boneka. Jangan sampai terlihat oleh orang lain," pinta Geo. Sang dokter yang nampaknya paham dengan situasi mengangguk patuh. Ketegangan di dalam kehidupan Geo, sang pemimpin mafia bukanlah hal baru. Jadi, dokter itu paham jika sang bayi pasti sedang berada di dalam bahaya.


...*****...


"Benar, bagaimana rasanya bermain bersama Death?"


Bimo dan Bima melotot saat melihat keberadaan Alex dan Rical di belakang tubuh mereka. Belum lagi dengan puluhan anggota Death sudah mengelilingi tempat sepasang laki-laki kembar itu. "Bangsat! Kita dijebak," umpat Bima.

__ADS_1


Rical tersenyum miring mendengar suara kesal Bima. "Sepertinya kali ini otak cerdas kalian kalah saing dengan calon korban. Atau mungkin otak cerdas kalian yang sudah lari dari tempat?" ejek Rical.


Bima dan Bimo mengepalkan tangannya merasa terhina dengan kalimat Rical. "Ingin pergi secar baik-baik, atau ingin bermain sebentar?" tawar Alex.


"Huh, tidak usah sombong kalian," balas Bimo.


"Terserah kita," sahut Rical.


"Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu untuk bermain sekarang. Aku ingin segera kembali untuk melihat keponakanku yang sesungguhnya," sindir Alex.


Bima dan Bimo menggertakkan giginya merasa marah. "Maju kalian bangsat!" murka Bima.


"Baik." Rical melangkah satu langkah ke depan. "Seperti ini?" tanya Rical mencoba mempermainkan sepasang laki-laki kembar itu.


...*****...


Farel dan tiga orang gadis berdiri saat melihat pintu ruangan operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar dari dalam ruangan itu. "Bagaimana kondisi adik saya, Dok?" tanya Farel.


Dokter perempuan itu menghela napas pelan, setelahnya dokter itu tersenyum tipis. "Nyonya Vetro termasuk baik-baik saja, hanya saja dia masih belum sadarkan diri. Untuk keadaannya, sejauh ini tidak ada yang fatal kecuali kekurangan darah," jelas dokter.


"Tapi, dia akan baik-baik saja kan, Dok?" tanya Siera cemas.

__ADS_1


Dokter itu kembali tersenyum tipis. "Doakan saja, ya," balas dokter.


__ADS_2