
Torih dan Sasdia terdiam kaku saat melihat kedatangan Geo yang sedang menggendong bayi kecil dan Cara memeluk erat lengan kekar pemimpin mafia itu. Geo menatap datar sepasang paruh baya yang sedang berdiri di dekat sofa ruangan utama itu. Sedangkan Cara menatap penampilan sederhana Torih dan Sasdia dari atas sampai bawah.
'Sepertinya mereka hidup lebih baik dari yang aku bayangkan,' batin Cara.
"Duduklah, Sayang," ucap Geo kepada Cara. Laki-laki itu selalu mempersilakan sang istri untuk duduk terlebih dahulu dibanding dirinya.
Torih dan Sasdia yang melihat kejadian itu, tentu saja merasa terkejut sekaligus iri. 'Dia benar-benar begitu dimanja oleh Tuan Vetro. Andai Jesy bisa mendapatkan suami yang seperti ini,' batin Sasdia sendu.
'Setidaknya aku senang, kamu baik-baik saja dan terlihat bahagia. Ayah minta maaf,' ucap Torih di dalam hati.
"Kenapa kalian hanya berdiri, Tuan dan Nyonya Gerisam? Silakan duduk." Suara lembut Cara mengejutkan sepasang paruh baya itu dari lamunan mereka masing-masing.
Torih dan Sasdia mengangkat kepala mereka dengan gerakan kaku. Mereka melihat Cara sedang tersenyum ke arah mereka, sedangkan Geo nampak sibuk dengan bayi kecil itu. 'Itu, bayi mereka?' batin Torih dan Sasdia bersamaan.
__ADS_1
"Kami berdiri saja, Nyonya Vetro," balas Torih.
Cara terdiam mendengar suara lembut yang begitu terasa lain di telinga Cara. Suara Torih yang biasanya terdengar angkuh dan begitu arogan berbicara kepadanya. Kini terdengar begitu lembut dan hangat, nampak tulus. "Tidak baik begitu, bagaimana pun kalian adalah tamu di sini. Aku sebagai tuan rumah akan terkesan tidak sopan jadinya," papar Cara.
"Kalau istriku mengatakan duduk, ya duduk." Torih dan Sasdia terkejut saat mendengar suara berat yang dingin itu. Mereka menoleh melihat keberadaan Geo yang berbicara sambil terus sibuk dengan bayi kecil mereka.
Secara spontan, sepasang paruh baya itu dengan cepat mendudukkan tubuh mereka di atas sofa empuk itu. Sedangkan Cara yang melihat itu sudah terkekeh kecil menoleh ke arah sang suami. Setelahnya wanita itu menoleh ke arah sepasang paruh baya yang sedang terduduk kaku di depannya.
Torih dan Sasdiaia terdiam beberapa detik sampai akhirnya mereka saling pandang. Mereka nampak bingung ingin memulai percakapan dari mana. Apa lagi dengan keberadaan Geo di sana membuat mereka semakin terlihat gugup. Cara yang mengerti dengan isi pikiran dua manusia di hadapannya itu, kembali bersuara.
"Maaf, seharusnya aku menawarkan kalian minuman lebih dulu. Kalian sudah jauh-jauh datang ke sini, tetapi aku malah menyambutnya seperti ini. Kalau begitu kalian ingin minum apa?" tanya Cara lagi.
"Eh, bukan begitu, Nyonya. Tidak apa-apa, tidak perlu repot-repot. Kami ke sini hanya ingin mengucapkan sesuatu yang penting," balas Torih cepat.
__ADS_1
"Tidak masalah, seperti yang aku katakan tadi, kalian itu adalah tamu di sini. Jadi sudah menjadi kewajibanku untuk melayani kalian sebagaimana tamu pada umumnya. Aku rasa kalian masih menyukai teh hijau. Jadi aku hidangkan teh hijau saja, bagaimana?"
Torih dan Sasdiia kembali saling pandang sejenak. Setelahnya mereka menghela napas pelan tidak mampu menolak lagi perkataan Cara. Mereka juga tidak ingin Geo kembali angkat bicara. "Iya, Nyonya," sahut Torih.
Beberapa menit setelah minuman Torih dan Sasdiia datang. Sepasang paruh baya itu juga sudah meneguk setengah dari teh hijau yang dihidangkan oleh pelayan Cara. "Mungkin kami langsung saja kepada intinya, Nyonya," tutur Torih tiba-tiba.
Cara yang mendengar kalimat Torih, menoleh dan menatap laki-laki yang merupakan ayah kandungnya itu. Cara melihat Torih dan Sasdia kembali saling tatap sejenak. Seakan sepasang paruh baya itu sedang saling berbicara melalui mata batin.
"Jadi, kami ke sini ingin meminta maaf kepada kamu. Meminta maaf atas semua yang sudah terjadi dan yang sudah kami lakukan kepada kamu selama bertahun-tahun," tutur Sasdia.
Cara terdiam mendengar kalimat Sasdia yang nampak begitu tulus. Meski di dalam hatinya, wanita itu masih menyisakan beberapa rasa dendam dan rasa sakit yang sampai saat ini belum terhapus sempurna. Melihat keterdiaman Cara, Torih ikut berbicara.
"Kami tahu kamu tidak akan semudah itu untuk memaafkan kami. Kami tahu jika perbuatan kami dulunya sudah begitu kelewatan. Apalagi aku yang merupakan ayah kandungmu sendiri. Kami ke sini bukan untuk mendengar jawaban atas kamu menerima maaf kami. Tapi kami hanya ingin mengungkapkan perasaan yang selalu menjadi beban bagi kami selama ini. Kami tidak menuntut kamu untuk memaafkan kami, karena kami memang pantas untuk dibenci. Hanya saja kami ingin mengungkapkan ini, sebelum semuanya kembali terlambat. Setidaknya dengan ini, beban yang selama ini kami akan berkurang sampai kamu benar-benar bisa memaafkan kami ke depannya."
__ADS_1