
"Ra," panggil Siera dari balik pintu kamarnya.
"Masuk saja, Sie," sahut Cara.
Cklek …. Cara menoleh dan melihat keberadaan Siera dan Tiara masuk ke dalam kamar utama mansion mewah itu. Cara tersenyum saat melihat kehadiran Tiara. "Mama kapan sampai?" tanya Cara.
"Baru saja, Ra," balas Tiara.
"Kita keluar, ya. Tidak enak kami masuk ke sini," tutur Siera.
Cara tertawa kecil mendengar kalimat Siera. "Kenapa tidak enak segala, kan gak ada Daddy-nya Geno," balas Cara.
"Tetap tidak enak, Ra. Ayo kita ke taman belakang saja, tadi Siera sudah meminta tolong pelayan mansion kamu untuk menyiapkannya. Biar Mama yang membawa Geno," tutur Tiara.
"Ya sudah, lagi pula di luar juga lebih adem. Geno saja suka di sana," papar Cara.
Tiara mulai mengambil alih tubuh mungil bayi tampan itu. Wanita paruh baya itu menunduk menatap bayi yang sudah dianggap sebagai cucunya itu. "Semakin tampan saja, padahal tadi siang Nenek mandikan, kamu tidak setampan ini," celetuk Tiara.
Cara tertawa mendengar kalimat Tiara yang terlalu berlebihan. Begitu pula dengan Siera yang sedang membantu Cara untuk turun dari ranjang. "Mereka akan baik-baik saja kan, Ra?" tanya Siera nampak khawatir.
__ADS_1
Cara menoleh dan tersenyum tipis kepada Siera. "Kamu tenang dan percaya saja. Mereka itu Death loh, nama yang dulu membuat kamu hampir pipis di celana," goda Cara mencoba mencairkan suasana.
Mendengar itu Tiara tertawa, sedangkan Siera sudah terkekeh kecil. "Bukan dulu, sekarang masih kok, Ra. Kepada suami kamu, aku masih sangat takut," balas Siera jujur.
Cara tertawa mendengar kalimat Siera. "Kenapa harus takut, dia setampan itu sama sekali tidak menyeramkan," papar Cara.
Siera melirik Cara dengan pandangan malas. "Memang tampan, aku akui itu. Tapi mengerikan, auranya saja sudah begitu mencekam. Tatapannya tajam seakan mampu memutuskan jari-jari tanganku," kata Siera.
Cara terkekeh kecil mendengar kalimat Siera. Apa yang dikatakan oleh Siera memang benar. Dia saja dulu juga merasa begitu takut kepada Geo. "Iya, aku tahu. Aku dulu juga takut kepadanya," ucap Cara.
"Tapi sekarang dia yang takut kepada kamu," balas Siera. Cara terkikik geli membayangkan wajah tegang Geo saat menghadapi kekesalan dirinya.
"Apa kau ingin berduel denganku?" tanya Geo datar.
Jarko terdiam mendengar perkataan Geo. Sedangkan anggota Tiger yang mendengar itu sudah sangat terkejut. Melihat keterdiaman Jarko, Geo menoleh ke arah Romy yang kembali terkesiap. "Dia panglima perang Tiger, bukan? Bagaimana kalau dia saja yang maju berduel denganku?" sambung Geo.
Romy yang mendengar kalimat Geo itu sudah menegang ditempat. Wajah laki-laki itu sudah memucat. 'Kenapa aku?' batin Romy panik.
Geo masih menatap Romy dengan tatapan dinginnya. Sedangkan Romy masih diam ditempat merasa kakinya begitu berat. Melihat itu Geo menyeringai iblis, sehingga membuat Jarko yang berada begitu dekat dengannya, sudah merinding. "Kenapa kalian semua malah diam?" tanya Geo.
__ADS_1
"Kalau ingin perang, maka kita langsungkan sekarang saja," sahut Jarko membuka suara.
Geo menoleh dan menatap Josua dengan tatapan datarnya. "Tapi aku sedang ingin berduel," balas Geo santai.
Jarko mengepalkan tangannya mendengar kalimat Geo. Tanpa aba-aba laki-laki itu kembali maju dan mulai menyerang Geo. Geo tersenyum miring, laki-laki itu mulai menerima serangan Jarko dengan wajah nampak begitu menikmati.
Ctak … Pak … Bugh …
Semua manusia yang berada di sana nampak mulai tegang saat melihat pertempuran dua laki-laki pemimpin perkumpulan ternama itu. Beberapa menit berduel, wajah Jarko sudah tidak berbentuk. Sedangkan Geo, hanya mendapatkan satu pukulan di sudut bibir kanannya.
Ctak … Bugh … Bruk …
Jarko ambruk ke tanah dengan napas tersengal. Laki-laki itu masih bisa menahan tubuh dengan duduk sebelah kaki ke atas. Geo berdiri menatap Jarko dengan tatapan dingin seperti biasa. Setelahnya Geo menoleh ke arah Romy yang sudah menegang ditempat.
"Giliran kau," papar Geo datar.
Deg …. Napas Romy tercekat mendengar perkataan Geo. 'Josua saja kalah telak seperti itu, bagaimana dengan aku?' batin Romy cemas.
"Kau tuli?" desis Geo.
__ADS_1