
Alex tertawa keras saat mendengar keinginan Cara. Sedangkan Cara sudah menatap laki-laki itu tajam. "Ekhm …." Dengan sekuat tenaga Alex mengulum bibirnya mencoba menahan tawa.
"Aku ada ide," papar Cara. Semua mata menoleh ke arah Cara dengan pandangan was-was. Entahlah, semenjak wanita lembut itu hamil. Pemikirannya sungguh tidak masuk akal, berada di luar akal sehat. Mereka bisa menebak, jika calon anak Cara dan Geo nantinya bukanlah manusia biasa. Terbukti dari keinginannya yang lain dari pada yang lain.
Jika Geo adalah manusia yang memiliki pesona dan kekuatan lebih. Mereka yakin, jika anak pemimpin Death itu akan lebih dari sang ayah. "Bagaimana kalau Kak Alex saja yang kita buat botak?"
Duar …. Alex melotot dengan jantung berdegup kencang. Berbeda dengan Rical, laki-laki itu sudah tertawa keras sambil memegang perutnya. "Ide bagus, Ra," ucap Rical di sela tawanya.
"Jangan begitulah, Ra. Aku tadi hanya bercanda, keinginan kamu oke. Tidak aneh, akan aku carikan secepatnya orang botak, kamu tenang saja." Alex berucap gugup mencoba membujuk Cara.
Sedangkan Cara sudah menatap wajah memelas Alex dengan muka kesal. Melihat itu Alex meringis. 'Aku rasa, anak mereka ini akan lebih sensitif dari pada bapaknya,' batin Alex tidak habis pikir.
.
.
.
__ADS_1
Suasana markas Death saat ini sangat ramai dan heboh. Sesuai perintah dari Geo, Alex mengumpulkan semua anggota yang memiliki kepala plontos. Geo tidak akan memaksa mereka, tidak sedikit dari mereka yang memiliki kepala botak. Jadi, Geo bisa memberikan sebuah penawaran tanpa adanya pemaksaan.
Namun, siapa sangka hampir semua anggota Death berkepala plontos bersedia digambar kepalanya. Mereka menganggap sebuah bakti dan kehormatan bisa diperlakukan seperti itu oleh seorang Nyonya Death, wanita yang paling dijaga dan dihargai di dalam perkumpulan itu. "Kamu ingin memulai dari yang mana, Sayang?" tanya Geo.
"Mereka tidak kamu paksa kan, Kak?" tanya Cara memastikan.
"Tidak, Ra. Kamu tenang saja, Death anti yang namanya pemaksaan. Selagi dia tidak salah, kami memperlakukan anggota dengan begitu berharga," sahut Alex.
Cara tersenyum mendengar itu. "Lagi pula, mereka bersedia tanpa adanya penawaran dari Geo. Mereka mengatakan senang-senang saja dengan hal ini," sambung Rical. Alex mengangguk membenarkan.
"Jadi, aku boleh memilih mereka?" tanya Cara antusias.
"Aku ingin yang itu, dia tampan." Cara bersuara sambil menunjuk seorang laki-laki muda berkepala botak.
Sontak saja perkataan Cara itu mengundang aura lain dari tubuh Geo. Sedangkan Alex dan Rical sudah saling merapat melihat tatapan tajam Geo kepada laki-laki muda itu. "Astaga, Cara. Apa dia tidak memikirkan umur laki-laki itu?" bisik Alex kepada Rical.
"Kak, aku ingin dia," ulang Cara.
__ADS_1
"Ekhm … Ra, mungkin yang lain saja," bujuk Alex pelan.
Cara menoleh dengan pandangan bingung. "Kenapa, Kak? Bukannya mereka semua bersedia?" tanya Cara tidak mengerti.
Alex menggaruk kepala belakangnya sambil melirik Geo yang masih menatap laki-laki muda itu. Juan mendekat ke arah Cara dan mulai berbisik. "Kamu ingin laki-laki muda itu segera menghadap Tuhan? Lihatlah tatapan suamimu, Ra. Kenapa kamu memuji wajahnya? Sudah tahu suamimu pencemburu tingkat dewa," bisik Alex.
Cara terkejut mendengar perkataan Alex. Setelahnya wanita itu segera menoleh ke arah Geo yang sudah menggelap menatap laki-laki yang sempat ditunjuknya. Sedangkan laki-laki muda itu sudah bergetar saat mengetahui tatapan sang ketua mulai tidak beres kepadanya.
Tepat saat Geo akan melangkahkan kakinya ke arah sang pemuda, Cara segera menahan lengan sang suami. Geo menoleh menatap Cara dengan tatapan bertanya. "Aku ingin pulang, Kak. Aku lelah berdiri," keluh Cara.
Geo yang mendengar itu mengernyit. "Bukannya ingin menggambar kepala laki-laki tampan itu?" Geo berucap sambil menekan kata tampan di dalam kalimatnya.
Cara terkekeh bodoh menatap wajah cemburu milik suaminya. "Aku sudah tidak ingin, sekarang aku inginnya, Daddy," bisik Cara di daun telinga Geo.
Mata gelap Geo semakin berkabut mendengar itu. Tanpa aba-aba laki-laki dingin itu membawa tubuh Cara ala bridalstyle. "Kamu harus dihukum, Baby," bisik Geo rendah.
Bulu kuduk Cara berdiri mendengar suara rendah milik suaminya. 'Astaga, ini semua karena mulut tidak berperi kesuamian ini. Aku menjadi korban sekarang,' jerit Cara di dalam hati.
__ADS_1
Sedangkan di ruangan pertemuan, seluruh anggota Death dibuat bingung dengan tingkah sepasang suami istri itu. "Ck, jadi sekarang siapa yang akan menggambar kepala mereka?" gerutu Alex kesal.
"Kau saja," balas Rical santai. Alex menatap Rical malas, sedangkan Farel lebih memilih pergi dari sana begitu saja.