
Cara dan Geo saat ini sedang berjalan santai di koridor perusahaan Carves Company. Entah ada keperluan apa sang suami, sehingga mengajak Cara singgah sebentar di perusahaan yang katanya milik musuh Geo sendiri. Cara dan Geo tadinya sedang makan siang di sebuah kafe langganan mereka. Namun, tiba-tiba Geo ingin berkunjung ke Carves Company. Kebetulan jalur kafe dengan perusahaan laki-laki maniak wanita itu sama.
Seperti biasa, Geo memeluk posesif tubuh sang istri. Kedatangan mereka jelas saja menjadi tanda tanya besar di benak karyawan kantor. Sebab setahu mereka, Geo dan Rical adalah musuh. Terlepas dari itu, tidak sedikit di antara mereka yang mengagumi ketampanan Geo dan kecantikan Cara. Para karyawan menilai sepasang suami istri itu begitu serasi.
Geo menatap dingin seorang wanita yang merupakan sekretaris Rical. "Ada?" tanya Geo datar.
Sekretaris itu tampak terkejut. "A-ada Tuan. Tapi …."
Kalimat wanita itu terhenti saat Geo pergi begitu saja membawa Cara ke arah pintu besar itu. Sang sekretaris menggaruk kepala belakangnya bingung sambil meringis. "Tuan Carves sedang bergelut," sambung sekretaris itu pelan.
Cklek …
__ADS_1
Geo mendorong pintu besar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Begitu tidak sopan bukan? Namun, ini adalah Tuan Vetro yang seenaknya tanpa ada yang akan berani menegur. Tepat saat pintu terbuka, Cara melotot dengan mulut menganga begitu terkejut.
Geo dengan cepat menarik tubuh sang istri, memeluknya dan menutup telinga Cara. 'Rical bangsat,' umpat Geo di dalam hati, meski wajahnya masih terlihat datar.
Suara lenguhan dan des****n menggema di dalam ruangan itu. Cara masih dapat mendengar suara laknat meski begitu pelan. Wajah Cara sudah berada di dalam jas kantor Geo, tepat di dada bidang sang suami. 'Jesy benar-benar apes memiliki suami seperti Tuan Carves ini,' batin Cara meringis.
"Rical Carves," sapa Geo dingin.
"Ck … aku belum sampai," gerutu Rical frustasi.
Namun, apa lah daya, wanita yang sempat menjadi lawan main Rical sudah beranjak dari pangkuan laki-laki itu. Wanita itu dengan segera memunguti pakaiannya dan memakainya tergesa. Sedangkan Rical dengan malas dan terpaksa menarik resleting celananya dan memperbaiki setelan kantornya.
__ADS_1
Geo menatap dingin wanita yang masih mematung di sana. "Pergi," titah Geo.
Dengan gerakan cepat wanita itu menarik tasnya kemudian pergi dari sana. Setelah kepergian wanita itu Geo menarik tubuh sang istri dari pelukannya. Cara menoleh ke arah Rical yang sedang duduk santai di atas sofa tamu ruangan itu. "Kalau aku jadi Jesy, pasti frustasi memiliki suami seperti Tuan Carves ini," papar Cara.
Rical tersenyum miring. "Bukankah itu yang Nyonya Vetro inginkan?" sahut Rical santai.
Geo menarik pelan tangan sang istri menuju sofa ruang tamu ruangan Rical. "Ada apa Tuan Vetro yang terhormat? Kenapa kau ke sini tanpa menghubungi terlebih dahulu dan mengganggu rutinitasku yang belum selesai?" ucap Rical kesal.
"Pulau Akson," tutur Geo singkat.
Mendengar kalimat singkat itu, secara tiba-tiba wajah kesal Rical berubah menjadi begitu serius. Rical menegakkan tubuhnya menatap Geo serius. "Jadi?" tanya Rical.
__ADS_1