Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
26. Ragu (LB)


__ADS_3

"Jadi bagaimana Mas?" tanya Sasdia.


"Entahlah, aku pusing," sahut Torih.


"Kita tidak usah pergi saja Mas, untuk apa kita ikut dipernikahan anak gembel itu," ucap Sasdia kesal.


"Tidak semudah itu Sasa, apa kau tidak ingat perkataan Cara waktu itu? Sepertinya dia tidak main-main, lagi pula ini juga menyangkut nama Tuan Vetro. Kita tidak bisa menyepelekan ini," papar Torih.


"Terus kita harus bagaimana?" tanya Sasdia.


Torih menghela napas panjang. "Sebenarnya bagus untuk kita bisa masuk ke dalam pesta besar itu. Aku jamin isi tamunya adalah pengusaha ternama, dengan begitu kita bisa mencari gandengan untuk perusahaan. Tapi …." Torih menggantung kalimatnya membuat Sasdia dan Jesy mengernyit bingung.


"Tapi apa Mas?" tanya Sasdia.


"Tapi aku takut kalau Cara mempunya rencana terselubung, kalau tidak untuk apa dia mengundang kita datang ke pesta pernikahannya," jelas Torih.


Sasdia dan Jesy terdiam, apa yang dikatakan oleh Torih ada benarnya. "Terus kita harus bagaimana Pa?" tanya Jesy.

__ADS_1


"Yang aku khawatirkan itu kalian, otak kalian itu terlalu dangkal. Sehingga dengan mudahnya dimanfaatkan oleh Cara. Aku sudah katakan untuk diam dan berpikir sebelum bertindak, tapi kalian malah batu," geram Torih.


Sasdia dan Jesy kembali terdiam, memang selama ini perbuatan merekalah yang menjadi pokok terjadinya masalah kepada mereka. Sifat sombong dan angkuh sepasang ibu dan anak itu merusak segalanya. "Kali ini kami akan mencoba diam Pa," tutur Jesy sedikit ragu.


"Kalian sangat gampang menjawab, tetapi nanti malah berbuat bodoh lagi. Jika kali ini Cara benar-benar membuat rencana, kita bisa benar-benar hancur," papar Torih.


"Aku tidak pernah berpikir kehidupan kita akan jadi seperti ini, padahal selama ini baik-baik saja," keluh Jesy.


"Ini semua karena anak sialan itu, seharusnya aku memang tidak membiarkannya hidup," geram Sasdia.


"Tidak usah banyak omong, ini semua berawal dari ulah bodohmu itu Sasa. Membawa masuk gembel ke dalam rumah, hal itu saja sudah membawa kesialan bagi kita. Sekarang lihatlah ulah putrinya, sialan," umpat Torih marah.


"Iya, aku tidak menyangka teman-teman yang dulunya terlihat begitu baik. Sekarang malah menghujat kita, lihat saja kalau keuangan kita sudah membaik. Aku balas mereka," geram Sasdia.


Torih hanya diam sambil menatap anak dan istrinya itu malas. Setelahnya laki-laki itu berdiri dan pergi begitu saja dari sana. "Kamu ke mana Mas?" teriak Sasdia.


Namun, Torih tidak menjawabnya membuat wanita paruh baya itu mendengus kesal. "Bahkan Papamu sekarang sudah benar-benar berubah, ck …," Sasdia berdecak kesal.

__ADS_1


...*****...


Cklek …. Rical menoleh saat mendengar pintu ruangan kerjanya dibuka. Laki-laki itu tersenyum miring saat melihat seorang wanita seksi mendekat ke arahnya. "Rical, aku merindukanmu." Wanita itu duduk dipangkuan Rical sambil mengusap dada bidang laki-laki itu menggoda.


"Merindukan aku, atau adikku?" Rical kembali tersenyum miring.


Wanita itu tertawa lembut. "Keduanya," sahut wanita itu.


"Aku lihat kau semakin berisi Mona." Rical memukul bokong wanita yang dipanggil Mona itu keras, sehingga membuat Mona me****ah.


"Aku rindu pukulanmu Rical." Mona berucap lembut sambil mencium bibir Rical rakus. Wanita itu dengan sengaja menggeliat di atas pangkuan Rical.


"Ahh …." Mona mengerang kesenangan saat Rical mulai menggerayangi setiap jengkal tubuhnya. Laki-laki itu menjilat, menggigit bahkan menyedot sang gunung besar milik Mona.


"Aku suka, ternyata dia semakin besar." Mona berucap sambil menatap berbinar ke arah adik kecil Rical yang sudah menegang. Perlahan Mona menyentuh itu membuat Rical mengerang tertahan.


Mona mendongak menatap wajah merah milik Rical saat laki-laki itu melepas kesenang dunia setelah beberapa saat yang lalu wanita itu memanjakan adik kecil Rical di dalam mulut hangatnya. Rical mengangkat tubuh Mona tidak sabar dan meletakkannya di atas meja kerja. "Kau ingin kasar atau lembut Baby," bisik Rical.

__ADS_1


"Kasar Sayang," sahut Mona berbinar.


"Permintaanmu terkabul Sayang." Setelahnya Rical memulai aksi panas mereka. Ruangan kerja itu secara tiba-tiba berganti fungsi, suara erangan kesenangan dari mulut Rical dan Mona bersahutan di dalam sana.


__ADS_2