
Tring … tring … tring …
Suara ponsel Geo mengalihkan perhatian laki-laki itu. Wajah kusut Geo menatap malas ke arah ponsel yang tergeletak di atas kasurnya. "Hem," deham Geo menyahut.
"Manusia satu itu sudah melapor, aku sudah urus semuanya," ucap Alex di seberang telepon.
"Baiklah," sahut Geo lesu.
"Kenapa dengan suaramu itu? Sebegitu kerasnyakah kau bertempur, sampai lesu seperti itu?" Suara tawa Alex di seberang telepon membuat Geo mendesis kesal.
"Kau ingin mati?" desis Geo.
Terdengar Alex mencoba menghentikan tawanya. "Baiklah, kalau begitu kau kenapa?" tanya Alex.
"Bagaimana membujuk perempuan yang sedang merajuk?" tanya Geo.
"Apa Nyonya Vetro sedang merajuk? Kau apakan adikku itu, tidak kau beri mainan?" goda Alex.
"Alex Rowin," geram Geo.
Terdengar Alex terkekeh di sana. "Kenapa dia merajuk?" tanya Alex serius.
"Aku melupakannya karena mengurus pekerjaan …."
__ADS_1
"Astaga." Alex memotong kalimat Geo yang belum selesai.
"Sudah aku katakan kau bersantai saja dulu, lihatlah sekarang. Jelas saja Cara marah, perusahaan sudah diurus oleh Farel dan Death sudah aku tangani. Jadi kau tinggal duduk diam dan bermesraan saja dengan Cara selama satu minggu ini. Ya ampun … Tuan Vetro ini benar-benar ya, kau tidak mengerti sekali perasaan perempuan. Cara pasti menginginkan honeymoon yang romantis, tetapi dia mengerti dengan waktumu yang begitu padat. Sekarang di masion, kau malah membuatnya bosan?" ucap Alex panjang lebar.
Geo menghela napas merasa begitu bersalah, apa yang dikatakan Alex adalah benar dan Geo baru menyadari itu. "Terus aku harus bagaimana? Dia sudah terlanjur marah kepadaku, bahkan dia berniat tidur bersama temannya malam ini," papar Geo frustasi.
Geo kesal saat mendengar suara tawa dari Alex. "Ya ampun, kasihan sekali nasib pengantin baru ini. Belum satu minggu sudah diusir oleh istrinya," ejek Alex.
"Tidak bisakah kau memberi aku saran, bangsat?" umpat Geo marah.
"Kau rasakan saja sendiri, itu semua juga karena ulahmu yang terlalu gila kerja itu. Sudah ya, aku sibuk Tuan Vetro. Selamat tidur sendiri nanti malam," ejek Alex.
Geo menatap layar ponselnya marah saat Alex mematikan sambungan telepon begitu saja. "Bangsat," umpat Geo kesal.
"Ra, tidak apa-apa seperti tadi?" tanya Siera takut.
"Seperti apa?" Cara balik bertanya.
"Itu … kamu seakan mengusir Tuan Vetro di mansionnya sendiri," papar Siera.
Cara tertawa mendengar itu. "Tidak apa-apa," sahut Cara.
"Tapi … dia memang begitu penurut kepadamu Ra. Aku sangat terkejut," sambung Siera.
__ADS_1
Cara kembali tertawa. "Sudahlah, sekarang kita akan bermain apa? Ah ya ampun, aku melupakan kejadian di kampus seperti apa," tutur Cara antusias.
Sedangkan Geo yang melihat wajah bahagia sang istri dari kejauhan ikut tersenyum tipis. "Aku ikut senang melihat tawamu Baby," gumam Geo.
.
.
.
Geo mendekat ke arah dua orang gadis yang sudah tertidur pulas di dalam sebuah kamar. Pergerakan dari Siera mengalihkan perhatian Geo, tepat saat gadis itu membuka matanya Siera melotot sambil terduduk kaku. "Tenanglah, pergerakanmu bisa membangunkannya," tutur Geo datar.
Siera menunduk sambil meneguk ludahnya kasar mendengar suara berat Geo yang begitu mendominasi. "Ma-maaf," cicit Siera.
"Antar dia pulang," titah Geo kepada pengawalnya.
"Baik Tuan," sahut para pengawal itu.
"A-aku pulang sendiri saja," cicit Siera.
"Istriku bisa mengamuk jika tahu kau pulang sendiri," papar Geo.
Geo mendekat menghiraukan tubuh kaku Siera, laki-laki datar itu mengangkat tubuh Cara perlahan ke dalam pelukannya kemudian menggendong sang istri. "Silakan ikuti mereka, mereka akan mengantarmu pulang." Geo bersuara, setelahnya laki-laki itu pergi membawa tubuh Cara ke dalam lift.
__ADS_1