Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
35. Bertanggung jawab (lb)


__ADS_3

"Sudah mereka urus semuanya dan aku juga sudah mengirim barang yang mereka minta," tutur Alex.


"Berarti kapan mereka mulai?" tanya Geo.


"Minggu besok," papar Farel.


Geo mengangguk sambil tersenyum miring. "Bulan depan aku ingin ke markas utama, tanganku sudah gatal," ucap Geo.


"Lagi pula, Gery sudah terlalu lama kau beri kesempatan untuk menghirup oksigen. Aku yakin dia sudah berdoa supaya segera dibunuh," balas Alex.


"Kau bisa atur jadwalku?" Geo menoleh ke arah Farel.


"Tanggal enam bulan depan, aku buatkan kau jadwal baru. Kau ingin pergi berapa hari?" papar Farel.


"Aku ingin bertanya kepada Cara dulu, aku pergi bukan hanya untuk ke markas. Pernikahanku dengan Cara sudah hampir tiga bulan, sedangkan aku belum memberikannya honeymoon spesial," sahut Geo.


Alex dan Farel mengangguk mengerti. "Kalau begitu Cara juga harus atur jadwal sebagai direktur utama," ujar Alex.

__ADS_1


Farel mengangguk membenarkan, Geo baru menyadari itu. Geo menatap ke arah Alex dengan pandangan intens, sedangkan laki-laki yang ditatapnya sudah memutar bola matanya malas. "Apa? Kau ingin aku menggantikan posisi Cara selagi kalian pergi?" tanya Alex malas.


"Aku memang tidak salah mengangkatmu sebagai wakil, otakmu memintasnya dengan cepat." Geo tersenyum miring, sedangkan Alex sudah mengumpat kesal.


"Tumpahkan saja semuanya kepadaku, aku memang adalah manusia baja. Ck … mentang-mentang aku jomblo selalu diperlakukan semena-mena. Aku tersiksa di sini mengurus semuanya, sedangkan kalian … malah pergi bersenang-senang," ujar Alex kesal.


"Siapa yang bersenang-senang?" Suara Cara mengalihkan perhatian tiga laki-laki itu. Cara yang baru saja datang mendengar setengah perkataan Alex.


"Tidak ada, nyamuk," sahut Alex malas.


Cara menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Geo seakan bertanya. "Tidak ada Sayang, dia hanya sadar diri kalau dia itu nyamuk di antara kita," ucap Geo santai.


Cara tertawa melihat wajah kesal Alex, setelahnya gadis itu mendekat ke arah Geo. Alex yang melihat itu dengan segera berdiri. "Tunggu!" teriak Alex kepada Cara.


Cara yang sudah hampir sampai di dekat Geo menghentikan langkahnya sambil menoleh ke arah Alex. "Kenapa Kak?" tanya Cara bingung.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin keluar dulu sebelum melihat adegan romantis kalian itu. Aku tahu kalian tidak akan memikirkan kami yang masih berada di sini bukan? Ya, memang kami ini hanyalah patung yang tak dapat melihat itu. Ayo Rel." Alex berucap sedikit mendrama sebelum pergi dari sana.

__ADS_1


Sedangkan Cara sudah menganga dengan wajah tidak percaya, setelahnya wanita itu tertawa keras. "Ya ampun, apakah itu wakil ketua Death?" Cara bersuara disela tawanya.


Geo yang melihat tawa Cara ikut terkekeh kecil. "Sudah Sayang, tidak usah hiraukan dia. Ke sinilah," ucap Geo.


...*****...


"Kau harus bertanggung jawab Rical." Jesy mendesis sambil menatap Rical tajam.


Rical menoleh dan menatap Jesy dengan pandangan dingin. "Bertanggung jawab?" Rical berdiri dari kursi kebesarannya dan mendekat ke arah Jesy.


"Kau itu tidak lebih dari wanita murahan pada umumnya, kau pikir semudah itu berurusan denganku? Kau yang datang dan mendekatiku B***h, jadi tidak usah banyak tingkah hanya karena kau sudah bercinta denganku." Rical menatap tajam Jesy yang sudah mengepalkan tangannya marah.


"Apa pun kau tetap harus bertanggung jawab, aku bukan seperti wanita yang sebelumnya kau tiduri bangsat. Kau yang mengambil keperawananku, dan kau pun tahu itu," murka Jesy.


"Heh, kau saja yang bodoh. Kau jelas tahu siapa aku, tetapi kau malah semakin gencar mendekatiku. Berarti kau sama saja seperti para wanita itu, ja***g," hina Rical.


"Aku bukan ja***g bangsat, kau harus bertanggung jawab. Orang tuaku tidak tahu ini semua, kau harus menjelaskannya kepada mereka dan nikahi aku!" teriak Jesy.

__ADS_1


Rical tertawa mendengar perkataan Jesy, setelahnya laki-laki menatap Jesy dengan pandangan dingin. "Kau salah mencari sasaran Nona Gerisam, aku bukan orang yang tepat jika kau ingin menjebakku hanya dengan sebuah kasus pelecehan atau pun pemerkosaan seperti ini. Kau sepertinya belum tahu siapa aku." Rical mendesis sambil menatap tajam Jesy.


Aura Rical yang mulai berubah membuat Jesy mulai merasakan takut. Jesy meringis saat dengan kasar Rical menekan pipinya dengan tangan kiri laki-laki itu. "Kau pikir aku akan jatuh begitu saja kepadamu? Wajahmu yang kau anggap cantik ini, sudah begitu banyak aku temui di mana-mana. Jadi … tidak usah terlalu percaya diri kau bisa menggodaku dengan wajah pasaran ini. Untu bodimu … lumayanlah." Rical melepaskan tangannya dari pipi Jesy sambil tersenyum miring ke arah gadis itu.


__ADS_2