
Jesy menatap makanan di atas meja makan dengan tatapan tidak nafsu dan tidak suka. 'Kenapa perutku begitu mual melihat semua makanan ini? Padahal aku biasanya begitu menyukainya ini semua,' batin Jesy.
"Sayang, kenapa masih dilihat? Ayo makan," ucap Sasdia.
"Em … iya Ma," sahut Jesy ragu.
"Mau Mama ambilkan? Kamu ingin makan apa?" tanya Sasdia.
"Aku … tidak nafsu Ma, apa ada menu yang lain?" tanya Jesy.
Sasdia mengernyit. "Tumben kamu tidak nafsu dengan omelet keju? Biasanya malah minta ini terus," tutur Sasdia bingung.
Jesy terdiam, dia pun juga merasa bingung. 'Apa karena aku sedang hamil ya?' batin Jesy bertanya.
"Apa kamu sudah bosan? Tidak apa-apa, kamu mau apa? Biar Mama pesankan," sambung Sasdia.
"Aku ingin kol orak arik bakso Ma," celetuk Jesy.
Sasdia mengernyit sambil menatap Torih yang sedari tadi diam tak menanggapi pembicaraan anak dan istrinya itu. "Kamu yakin Sayang? Bukannya kamu tidak suka bakso?" papar Sasdia bingung.
__ADS_1
Jesy terdiam, apa yang dikatakan Sasdia memang benar. Jesy tidak menyukai bakso, sebab menurutnya makanan itu adalah makanan yang sesuai dengan Cara. Cara adalah pecinta bakso, bahkan dulu untuk membeli makanan itu saja Cara harus menabung selama kurang lebih satu bulan. "Aku hanya ingin mencobanya saja Ma," kilah Jesy.
"Tidak usah banyak permintaan, makan saja apa yang sudah tertera di atas meja ini. Masih syukur kamu bisa makan setelah menghancurkan semuanya," ucap Torih tiba-tiba.
"Mas, jangan begitu," tegur Sasdia.
Sedangkan Jesy sudah menunduk, sepertinya hormon ibu hamil membuatnya begitu sensitif. "Tidak apa-apa Ma, apa yang Papa katakan benar. Aku makan omelet saja," ucap Jesy."
"Kalau kamu memang ingin kol orak arik bakso, Mama pesankan dulu Sayang. Tidak usah dengarkan perkataan Papa," ujar Sasdia.
"Sudah aku katakan jangan terus memanjakannya Sasa, hidup kita ke depannya masih belum jelas. Tidak lihat kepalaku hampir botak karena berusaha memperbaiki semuanya? Kalian malah enak-enak di sini, tetap berfoya-foya tanpa tahu bagaimana sulitnya keuangan di kantor," geram Torih. Sasdia dan Jesy terdiam mendengar itu, mereka merasa tidak terima jika harus hidup dengan harta serba kekurangan.
Sasdia dan Jesy terdiam, apa yang dikatakan oleh Torih ada benarnya. Keadaan Gerisam Group sampai sekarang masih tidak jelas. Cyra memang masih mempertahankan sedikit saham VT Group di sana. Mereka was-was jika Cara tiba-tiba menarik saham VT Group dari Gerisam Group. Seperti yang Torih katakan, Gerisam Group bukan hanya hancur tetapi hilang dari peradapan bisnis negara. Sebegitu berpengaruhnya VT Group di negara itu.
Glek …. Jesy meneguk ludahnya kasar melihat makana di atas piringnya. Wanita itu terpaksa memakan omelet keju itu, karena tidak ingin memancing kemarahan Torih. Secara perlahan Jesy membawa garpu berisi sepotong omelet ke dalam mulutnya. Mata Jesy melotot saat merasakan gejolak aneh dari dalam perutnya.
Wlek …. Jesy menutup mulutnya dan berlari ke arah westafel di dekat dapur. Sasdia yang melihat itu mengikuti Jesy dengan wajah panik. "Kenapa Sayang?" tanya Sasdia.
Wlek … wlek … wlek ….
__ADS_1
Wajah Jesy pucat setelah wanita itu memuntahkan isi mulut dan isi perutnya yang hanya ada air. Sasdia mengurut tengkuk Jesy dengan wajah khawatir. "Kamu kenapa Sayang? Kamu masuk angin?" tanya Sasdia.
Jesy menggeleng pelan, setelahnya Sasdia membawa tubuh Jesy kembali ke kursi makan. Torih menatap Jesy dengan tatapan aneh. "Kamu tidak enak badan, nanti Mama telepon dokter untuk ke sini mengecek kondisi kamu," papar Sasdia.
Jesy melotot terkejut. "Tidak usah Ma," sahut Jesy cepat.
"Kenapa? Wajah kamu pucat sekali Sayang, tidak mungkin didiamkan saja," ujar Sasdia bingung.
"A-aku hanya kelelahan, cukup dengan tidur nanti akan hilang sendiri," kilah Jesy.
"Tapi Mama khawatir Sayang," balas Sasdia.
Tring … tring … tring …
Suara ponsel Torih mengalihkan perhatian mereka. Torih terkejut saat melihat nama penelepon yang terpampang di layar ponselnya. "Diam, Cara menelepon," ucap Torih.
Deg …
Seakan disambar petir, jantung Jesy tiba-tiba berdetak lebih cepat. Nama Cara mampu membuat wanita itu tidak tenang. Perasaan tidak enak singgah di dalam hati Jesy, wanita itu menebak sepertinya Cara ada maksud tertentu menelepon Torih. 'Kenapa wanita sialan itu menelepon Papa? Bagaimana kalau dia memberi tahunya?' batin Jesy khawatir.
__ADS_1