Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
138. Lelah (lb)


__ADS_3

"Kak, aku tadi liat ada orang gendong anak. Aku jadi enggak sabar ingin seperti itu juga," tutur Cara.


Geo menunduk dan tersenyum. "Sabar, Sayang. Anak Daddy masih proses pertumbuhan di dalam sana." Geo mengusap perut Cara lembut, setelahnya laki-laki itu mengecup pelan perut sang istri.


"Aku lihat di internet, ada juga senam ibu hamil, Kak. Aku ingin ikut, coba carikan aku tempat yoga ibu hamil. Sepertinya seru," ucap Cara antusias.


Geo kembali tersenyum menatap wajah cantik sang istri. "Iya, Sayang. Tapi kita tanya dokter dulu, ya. Besok kan kita pergi konsul," papar Geo.


"Eh, iya ya? Wah udh dua bulan berarti, Kak." Cara menatap Geo dengan pandangan penuh binar.


Melihat itu Geo tersenyum tulus, laki-laki dingin itu mengusap rambut Cara lembut. "Tinggal beberapa bulan lagi, kita tidak akan berdua lagi, tapi jadi tiga," ucap Geo.


"Iya, aku malah berharap jadi empat," tutur Cara.


Kening Geo berkerut. "Maksud kamu?" tanya Geo.


Cara terkekeh kecil. "Aku ingin punya anak kembar, tapi enggak menuntut juga. Apa dikasih aja, tahu sedang hamil aja … aku sudah senang sekali," jelas Cara.

__ADS_1


Geo mengangguk pelan. "Biasanya keturunan kembar, memiliki peluang hamil kembar yang lebih besar. Tapi ada juga yang enggak keturunan, bisa hamil kembar. Semoga nanti aku juga begitu," sambung Cara.


"Iya, Sayang. Sekarang, waktunya minum susu. Hari ini ingin minum yang rasa apa?" pungkas Geo lembut.


"Aku ingin rasa vanila, tapi Kak Ge yang buat," balas Cara.


"Okey, My Quee. Ayo kita ke bawah," ajak Geo.


"Aku sedang ingin berjalan, Kak. Tidak perlu digendong," ucap Cara.


"Tidak akan kelelahan?" tanya Geo.


"Iya, ya? Tapi aku pernah lihat, katanya hamil itu melelahkan, Sayang," ungkap Geo.


"Memang benar, sih. Aku akhir-akhir ini memang sering mudah lelah. Tapi bukan karena merasa berat atau apa pun itu. Hanya karena hormon malas yang lebih mendominasi," terang Cara.


"Jadi sekarang tidak malas?" tanya Geo.

__ADS_1


Cara menggeleng cepat. "Aku sedang semangat," balas Cara antusias. Geo terkekeh kecil sambil menepuk kepala sang istri yang sepantaran dengan dada bidangnya.


...*****...


"Ma, aku lelah," keluh Jesy.


Sasdia dan Torih menoleh ke arah sang putri. Jesy hanya duduk di dekat mereka yang sedang membersihkan kolam berenang. "Apa kamu ingin berbaring, Sayang? Pergilah ke kamar, tidak usah menunggu kami di sini," ucap Sasdia.


Jesy menghela napas panjang sambil menoleh ke arah Sasdia dan Torih. "Aku lelah dengan semua ini, Ma, Pa," terang Jesy pelan.


Mendengar keluhan Jesy, membuat Sasdia dan Torih terdiam. Sepasang suami istri paruh baya itu ikut menghela napas. "Papa juga bingung, tidak ada satu pun orang yang bersedia membantu kita. Karena VT Group yang meletakkan nama perusahaan kita di daftar blacklist, semuanya menjadi tidak berani membantu kita," jelas Torih lesu.


"Apa kita haru meminta maaf kepada Cara?" celetuk Jesy putus asa.


"Memang hanya dia yang bisa membantu kita, hanya saja … Papa tidak yakin dia bersedia membantu," sahut Torih.


"Sudahlah, tidak usah berharap kepada dia. Kita jalani saja hidup di sini, setidaknya kita bisa makan dan tidur nyenyak di sini," kata Sasdia.

__ADS_1


"Tapi akan sampai kapan, Ma? Aku lelah," lirih Jesy.


__ADS_2