
Lamira masih berjalan kaku. "Pantas saja di sini sangat banyak penjaga, ternyata ini kediaman pemimpin Death. Astaga Lamira, kenapa kamu bisa begitu bodoh?" gumam Lamira.
Wajah Lamira berubah sendu saat mengingat pertemuannya tadi dengan Alex. Gadis itu menghela napas panjang. "Hah … pertama kali suka kepada laki-laki, malah yang seperti ini. Ck, selera kamu terlalu tinggi Lamira. Mana bisa menggapai laki-laki seperti Bang Alex. Tampan, mapan, baik, dan tegas. Andai ayah menjodohkan aku dengannya, pasti aku tidak akan kabur seperti ini," sambung Lamira.
Gadis itu tidak sadar jika sedari tadi, kalimatnya itu didengar oleh seorang laki-laki yang sempat tertegun di belakang gadis itu. Alex yang berniat memanggil Lamira, terhenti kala mendengar gadis itu bergumam dengan wajah sedih. 'Bocah ingusan ini,' batin Alex. Laki-laki itu terkekeh tanpa suara menatap Lamira yang berjalan sambil menunduk.
"Sekarang aku harus ke mana? Kalau berkeliaran aku pasti bisa tertangkap, masih sekolah menengah atas malah keluyuran," lanjut Lamira.
"Itu kau tahu."
"Setan!" Lamira terlonjak kala mendengar suara bass seseorang dari belakangnnya.
"Kau mengataiku setan?" tanya Alex.
Lamira melotot melihat keberadaan Juan di belakangnya. "Bu-bukan begitu, Bang. Maaf, aku terkejut. Em … Abang sudah lama di sini?" ucap Lamira gugup.
Alex tersenyum miring. "Kenapa?" tanya Alex.
Lamira menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak kok, Bang," sahut Lamira. 'Semoga saja dia tidak mendengar gerutuanku tadi,' sambung Lamira di dalam hati.
__ADS_1
...*****...
Cara memeluk erat tubuh Geo yang sedang berbaring di atas ranjang. Seperti biasa, istrinya akan menyuruh Geo untuk membuka baju. Cara sesekali memainkan delapan kotak yang berada di perut sang suami. "Kira-kira, anak kita laki-laki atau perempuan, Kak?" tanya Cara.
"Apa saja, Sayang. Apa yang diberi saja," jawab Geo.
"Iya juga, aku tidak masalah mau itu laki-laki atau perempuan," tutur Cara.
"Tapi … entah mengapa aku merasa kalau dia laki-laki," papar Geo.
Cara mendongak menatap wajah tampan sang suami. "Kenapa begitu, Kak?" tanya Cara.
"Melihat sifat kamu saat ini, sepertinya sifat dia akan mirip denganku, Baby," kata Geo.
"Kalau dia perempuan, jelas akan begitu cantik. Secantik Mommynya," sambung Geo.
Cara terkekeh kecil saat Geo mulai menciumi seluruh wajahnya gemas. "Ayo berdiri Kak, aku ingin digendong," ujar Cara.
Dengan patuh, pemimpin Death itu duduk dan berdiri membawa tubuh Cara. Cup …. Geo mengecup pelan bibir sang istri yang sedang bergelayut manja di tubuhnya. "Aku ingin mandi, Sayang," kata Geo.
__ADS_1
Cara mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin tetap seperti ini," ujar Cara.
Geo tersenyum tipis, laki-laki itu sudah memaklumi sifat Cara yang mungkin akan berubah dalam hitungan detik. Sampai saat ini hormon ibu hamil itu membuat Cara semakin manja dan selalu ingin menempel kepadanya. "Tapi aku gerah, Baby," tutur Geo.
Cara menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Geo. "Ya sudah, ayo masuk ke kamar mandi," ucap Cara santai.
Geo mengernyit, setelahnya laki-laki tersenyum. "Kamu yakin?" tanya Geo.
"Iya," sahut Cara.
"Biasanya susah sekali aku ajak mandi bersama," goda Geo.
Cara mendongak dan tersenyum. "Sepertinya anak kita tidak ingin melepaskan Daddy tampannya ini," papar Cara.
Geo terkekeh mendengar itu. "Kalau begitu, sebagai Daddy yang baik. Aku akan menengoknya ke sana," bisik Geo.
Geo melenguh kecil kala Cara menggigit leher putihnya. Laki-laki itu memejamkan matanya kala Cara mulai semakin nakal. Setelahnya Cara mengangkat kepalanya dan menatap Geo bingung. "Menengoknya ke mana, Kak?" tanya Cara.
"Ke dalam, Baby," bisik Geo.
__ADS_1
Cara mengeryit saat masih belum bisa memintas maksud perkataan suaminya. "Kata Dokter, hamil muda boleh main. Tapi, pelan-pelan dan jangan keseringan. Sekarang ayo kita jenguk dedeknya," sambung Geo.
Kalimat itu membuat Cara melotot, wanita itu mengerti sekarang maksud dari perkataan Geo. Belum sempat bersuara, Cara terkejut kala suaminya itu membawa tubuhnya ke dalam kamar mandi. Sepertinya pertempuran mereka akan segera dimulai.