
Siera sedang sibuk di dapur mansion milik Farel. Gadis itu tampak begitu serius memasak sop ayam permintaan Farel. Hampir satu tahun mereka bersama, sekarang Siera dan Farel sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Hubungan mereka itu sudah berjalan selama empat bulan. "Cara akan ke sini nanti, katanya Kak Geo mengidam sate cumi," ucap Siera di sela kegiatannya.
"Kamu juga menyuruh Lamira dan Helen ke sini?" tanya Farel.
"Iya, tidak apa-apa?" Siera berbalik badan melihat Farel yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Farel ikut menoleh saat merasakan Siera menatapnya. "Tidak apa-apa." Farel tersenyum begitu tipis.
Siera ikut tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatan memasaknya. Siera yang memang merupakan anak dari pemilik kafe yang cukup ternama, membuat gadis itu juga sangat pandai dalam bidang memasak. Terus kenapa gadis itu malah mengambil jurusan bisnis? Alasannya karena Siera memiliki cita-cita sebagai pebisnis hebat dalam bidang kuliner. Bukan hanya memiliki kafe, tetapi hal lain yang lebih besar dari pada itu.
Tak …. Siera meletakkan sebuah mangkok berisi sop ayam di atas meja makan. Farel mengalihkan tatapannya dari laptop ke arah mangkok itu. Siera terkekeh kecil saat melihat tatapan tidak sabar dari mata Farel. Ini memang bukan pertama kalinya bagi Siera membuat makanan untuk Farel. Siera yang memang begitu hobi memasak, tidak pernah keberatan membuatkan menu sarapan atau pun makan siang untuk sang kekasih.
"Ingin makan sekarang?" tanya Siera. Farel menoleh dan mengangguk kecil. Melihat itu, dengan segera Siera mengambilkan sarapan pagi untuk Farel.
.
.
__ADS_1
.
"Pekerjaan Kakak sudah selesai?" tanya Siera.
"Sedikit lagi, kenapa?" balas Farel balik bertanya.
"Tidak, aku hanya ingin keluar sebentar," jawab Siera.
"Perlu aku temani?" tanya Farel lagi.
Setelah mendapat izin dari Farel, gadis itu berjalan menuju halaman utama mansion luas itu. Baru saja gadis itu akan melangkah dari teras utama. Kedatangan sebuah mobil mengalihkan perhatian Siera. Mobil itu berhenti tepat dihadapan gadis itu.
Klap …. Seorang laki-laki dengan setelan khusus baru saja keluar dari pintu kemudi. Bisa Siera tebak, sepertinya laki-laki itu adalah seorang supir. Siera terus memperhatikan gerakan laki-laki itu membuka pintu penumpang. Seorang wanita paruh baya keluar dari pintu penumpang. Siera terkesima sejenak, meski sudah paruh baya, wajah wanita itu masih tampak begitu cantik dengan gaya yang elegan.
"Hei kau … kenapa kau diam saja di sana? Ayo bawakan barangku, pelayan tidak tahu diri." Lamunan Siera terputus saat mendengar suara angkuh dari wanita paruh baya itu.
Siera menoleh dan menatap wanita paruh baya itu sopan. "Maaf, Nyonya. Tapi saya bukan …."
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara, cepat bawakan koperku." Kalimat Siera terputus saat dengan tiba-tiba wanita paruh baya itu berjalan melewati Siera dengan begitu angkuh.
Sedangkan Siera yang melihat itu mendengus kesal. "Siapa sih dia, main suruh-suruh saja." Meski kesal dan tidak terima, Siera dengan terpaksa membawakan koper yang cukup besar itu.
"Astaga, ini apa isinya. Kenapa seberat ini? Apa dia membawa mayat?" celetuk Siera kesal.
Siera berjalan mengikuti kaki wanita paruh baya yang ternyata masih tidak terlalu jauh. 'Apa dia mengesot?' batin Siera tidak habis pikir.
"Farel … Sayang …." Siera menutup telinganya saat dengan tiba-tiba wanita itu berteriak keras. Hal yang membuat Siera bingung adalah panggilan sayang yang dilontarkan wanita itu kepada kekasihnya.
'Sayang? Dia siapa sebenarnya?' Siera kembali membatin.
Sedangkan Farel yang sedang sibuk dengan pekerjaannya terkejut saat mendengar suara yang sudah cukup lama tidak didengarnya. Laki-laki itu bergerak ke arah sumber suara dan terkejut melihat keberadaan wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik. "Mama?" gumam Farel.
"Sayang, Mama rindu sekali kepada kamu. Bagaimana kabarmu, Sayang?" Siera melotot saat mendengar perkataan wanita paruh baya, yang saat ini sudah memeluk erat Farel yang masih nampak terdiam.
'Mama? Jadi, dia … Mamanya Kak Farel?' batin Siera terkejut.
__ADS_1