Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
201. Merajuk (lb)


__ADS_3

Setelah kepergian Rical dari kediaman Alex. Laki-laki pemilik mansion itu berjalan menuju ke arah kamar tunangannya. Secara perlahan Alex membuka pintu kamar Lamira. Satu pemandangan yang ditangkap mata laki-laki itu, adalah posisi tidur Lamira yang selalu sukses membuatnya terbahak. 'Astaga, posisi tidur macam apa yang selalu saja bisa membuat aku terbahak seperti ini?' batin Alex tidak habis pikir.


Lamira memang memiliki satu kebiasaan tidur yang cukup unik. Terkadang gadis itu akan tidur dengan gaya bokong ke atas atau disebut dengan menungging. Terkadang pula, Lamira tertidur dengan posisi, di mana seluruh bantal ditumpuk ke atas. Sedangkan yang berada di atas bantal itu adalah kakinya bukan kepalanya.


Alex menutup mulutnya merasa begitu gemas dengan posisi tidur tunangan imutnya itu. Secara perlahan laki-laki itu bergerak mendekat kearah ranjang dan duduk di tepian ranjang. Alex merangkak naik dan secara perlahan mengambil satu persatu bantal yang sedang ditumpuk di bawah kaki gadis itu.


'Astaga, andai aku bisa menerkamnya sekarang. Untung kau masih bocil, kalau sudah sedikit dewasa aku giring kau ke KUA,' ucap Alex di dalam hati.


"Enghh …." Lamira yang merasa tidurnya terusik melengkung kecil. Sedangkan Alex yang melihat Lamira mulai terusik tersenyum puas.

__ADS_1


Alex memang tidak memiliki sifat seperti Geo kepada pasangannya. Jika Geo tidak akan tega mengganggu tidur Cara. Berbeda dengan Alex yang malah begitu senang mengganggu tidur Lamira. Alex memang memiliki sifat jahil khusus untuk Lamira. Namun, jika dibilang manis dan romantis, ada kawannya Alex juga memiliki sifat itu.


Alex tersenyum saat melihat mata Lamira secara perlahan mulai terbuka. Sedangkan Lamira yang sudah melihat keberadaan tunangan tampannya itu, hanya bisa mendengus kesal. Sudah sangat biasa bagi dirinya, Alex mengganggu tidurnya. "Apa sih, Bang?"


Alex terkekeh gemas mendengar suara serak Lamira. Laki-laki itu mencubit gemas kedua pipi Lamira yang kembali memejamkan matanya. "Ayo bangun, ini sudah jam berapa? Masa anak gadis masih tidur," tutur Alex.


Mata Alex melotot mendengar gumaman Lamira yang masih begitu jelas terdengar di telinganya. Laki-laki itu secara kesal menarik kerah baju Lamira dan mengangkat gadis itu seperti anak kucing. "Apa kamu bilang? Siapa yang tampan?"


Mata Lamira yang tadinya begitu lengket seperti diberi lem, sekarang sudah melotot sempurna. Glek …. Gadis itu menelan salivanya kasar, saat menyadari kalimat yang tadi digumamkannya. "Oh, itu … tadi aku masih bermimpi, Bang. Iya, aku memimpikan wajah tunangan tampanku ini. Iya, tampan … sekali."

__ADS_1


Lamira berucap sambil tertawa bodoh menatap wajah kesal Alex. Sedangkan Alex mendengus kesal saat melihat ekspresi tunangannya. Laki-laki itu masih saja mengangkat kerah baju Lamira, sehingga gadis itu masih tergantung di atas ranjang. "Turunkan aku, Bang. Masa aku seperti anak kucing seperti ini?" bujuk Lamira.


"Yah kau anak kucing. Anak kucing si aktor tampan mu itu." Alex menyahut sambil menekan kata aktor tampan di dalam kalimatnya.


Sedangkan Lamira yang mendengar itu hanya bisa meringis sambil tersenyum bodoh ke arah Alex. Merasa kesal, Alex akhirnya menurunkan tubuh Lamira di atas ranjang. Laki-laki itu menatap sinis ke arah Lamira yang saat ini masih saja tersenyum bodoh kepadanya. Tinggi Lamira saat ini sepantaran dengan Alex karena dia berdiri di atas ranjang.


Gadis itu memeluk leher Alex dan mengecup pipi kanan tunangannya seakan sedang membujuk laki-laki yang sedang merajuk itu. Sedangkan Alex hanya diam, seakan dirinya tidak mudah untuk dibujuk. "Tampan sekali tunanganku ini, ingin sekali aku kurung."


Lamira memainkan pipi Alex yang saat ini masih memperlihatkan wajah kesalnya. Gadis itu terkekeh melihat pandangan Alex masih begitu sinis menatapnya. "Tidak baik merajuk lama-lama," bisik Lamira nakal.

__ADS_1


__ADS_2