
"Sayangnya aku tidak ingin anakmu berada di sekolah ini lagi. Terus juga, aku harus berterus terang jika gerak perusahaanmu akan sedikit terhalang. Aku tidak suka orang sombong, apa lagi orang yang menghina tunanganku," celetuk Alex.
Pak Andra melotot mendengar perkataan Alex. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau dia adalah tunangan Anda," pinta Pak Andra memohon.
"Pa, kenapa Papa seperti itu?" ucap Andini tidak suka.
"Saya akan melakukan apa saja, asal Tuan jangan membuat bisnis saya terhalang, Tuan. Saya mohon, maafkan saya." Pak Andra semakin mendekat dan mencoba bersujud di depan kaki Alex.
"Maaf, Pak. Ini sudah selesai, bukan? Saya masih ada urusan dan saya meminta izin untuk membawa Lamira hari ini," tutur Juan kepada kepala sekolah, menghiraukan Pak Andra.
"Iya, Tuan. Silakan," balas kepala sekolah.
Alex berdiri dan menarik pelan tangan Lamira. Dua teman Lamira yang sedari tadi diam ikut berdiri meski tampak bingung. Sedangkan Pak Andra masih berusaha mendekati Alex. "Tolong Tuan, maafkan saya," ucap Pak Andra.
"Papa kenapa sih? Kenapa Papa harus sampai seperti ini kepadanya?" pungkas Andini kesal.
"Perusahaan kita pasti sebentar lagi akan ada masalah, Andini. Kita bisa jatuh miskin," tutur Andra.
"Kenapa? Memangnya dia siapa sih?" tanya Andini tidak mengerti.
__ADS_1
Kepala sekolah menghela napas melihat interaksi ayah dan anak itu. "Saya sudah memperingatkan Anda tadi , Tuan. Tapi Anda malah menyahut angkuh," papar kepala sekolah.
"Saya tidak pernah menyangka jika Tuan Rowin adalah walinya," lirih Pak Andra. Sekarang dia hanya bisa pasrah, Juan dan Lamira sudah keluar dari sana sedari tadi. Pak Andra tidak memiliki keberanian untuk memaksa Juan memaafkannya. Yang ada nanti keadaannya malah semakin sulit.
"Pa," panggil Andini merasa pertanyaannya tadi belum mendapat jawaban.
"Dia adalah Tuan Rowin, pebisnis persenjataan ternama. Yang paling pasti, dia itu adalah wakil Death," ungkap Pak Andra.
Mata Andini melotot mendengar perkataan Papanya. "Wakil Death?" gumam Andini terkejut.
'Tunggu, aku ingat. Wakil Death bernama Alex Rowin, astaga … pantas saja aku sedari tadi merasa tidak asing dengan namanya. Ternyata dia memang tampan, aku menjadi penasaran dengan ketuanya. Katanya, ketuanya lebih tampan,' batin Andini.
Andini tersadar dari lamunannya. "Maksud Papa?"
"Aku yakin perusahaan berangsur bangkrut, apa kamu tidak dengar perkataan Tuan Rowin tadi?" ucap Pak Andra.
"Apa … bangkrut? Jadi kita akan hidup miskin, Pa?" pekik Andini terkejut.
...*****...
__ADS_1
"Aku ingin lihat, kira-kira sekarang posisi putra kita di mana ya, Kak?" ucap Cara di sela langkahnya. Hari ini Geo dan Cara akan melakukan cek up kandungan. Seharusnya sekarang sudah menjadi cek up terakhir bagi mereka. Sebab saat ini kandungan Cara sudah memasuki bulan ke sembilan. Tinggal menghitung hari sampai jadwal istri mafia itu untuk melahirkan.
"Aku juga, Sayang. Aku lebih tidak sabar ingin melihat sosoknya secara langsung. Bukan dari layar monitor lagi," balas Geo lembut.
Cara mendongak dan tersenyum senang ke arah Geo. Wanita berperut buncit itu memeluk erat pinggang suaminya yang saat ini juga sedang memeluk pinggang lebar wanita itu. Geo mengusap perut buncit Cara begitu lembut, merasa ada sengatan hangat di dalam hatinya saat melihat perut istrinya. "Sebentar lagi, Kak. Tinggal menghitung hari," ucap Cara.
"Baik-baik di sana, Sayang. Persiapkan diri kamu untuk bertemu dengan Daddy dan juga Mommy," tutur Geo pelan.
Cara yang mendengar itu tersenyum manis. "Iya, Daddy," balas Cara dengan menirukan suara anak kecil.
.
.
.
Hai, selamat libur lebaran meski aku sedikit telat ngucapinnya🤭
BTW pada masuk grup dong, ramein grup❤️di sana bisa bahas masukan untuk novel atau apa pun yang positif🥰
__ADS_1