
Jesy berjalan cepat ke tempat sekumpulan pelayan. "Pelayan sebanyak ini malah santai-santai tidak jelas di sini," gumam Jesy.
"Hei, kenapa kalian malah santai-santai di sini. Ayo ikut aku, bersihkan kamarku," ucap Jesy angkuh.
Para pelayan itu menatap ke arah Jesy sejenak. Namun, setelahnya mereka kembali sibuk dengan urusan masing-masing menghiraukan keberadaan Jesy. Sedangkan Jesy yang melihat itu semua sudah melotot marah. "Dasar pelayan tidak tahu diri, kalian itu dibayar di sini untuk bekerja. Bukan untuk bersenang-senang seperti ini, tidak sopan," murka Jesy.
Para pelayan itu menatap tidak suka ke arah Jesy. "Pekerjaan kami sudah selesai, kami sudah biasa seperti ini. Bahkan Tuan Carves saja tidak melarang asal pekerjaan kami semua selesai," sahut seorang perempuan.
"Sekarang bersihkan kamarku," tutur Jesy.
"Tidak usah sok berkuasa di sini, Anda hanya pendatang baru," sahut seorang pelayan yang paling cantik.
Jesy menatap tajam pelayan itu. "Kau yang tidak usah sok ja****ng, hanya pelayan rendahan saja kau berani berbicara seperti itu kepadaku. Aku ini istrinya Rical, kau tahu," desis Jesy.
__ADS_1
Pelayan itu tersenyum sinis, begitu pula dengan lima pelayan lainnya. "Terus kalau kau istri Tuan Carves kenapa? Merasa bangga, padahal pernikahan itu hanya hasil paksaan dan ancaman. Kami semua tahu kalau Tuan Carves terpaksa menikahimu, dia sama sekali tidak peduli denganmu," ejek pelayan itu.
"Benar, malah sok berlagak seperti ratu di sini. Kau belum tahu siapa kami, kami memang hanya pelayan di sini. Tapi … kami bukanlah pelayan pada umumnya. Aku rasa kalau otakmu berisi, kau bisa memintas apa saja pekerjaan kami di sini." Seorang pelayan berucap sambil tersenyum miring ke arah Jesy.
Jesy menatap enam pelayan itu tajam. Namun, otaknya sedang berpikir apa maksud dari perkataan mereka. "Seorang laki-laki seperti Tuan Carves tidak akan pernah bisa terikat dengan seorang wanita, Nyonya. Kau lihat dia." Satu pelayan lagi bersuara sambil menunjuk pelayan yang paling cantik.
"Dia Melani, pelayan yang paling disayang oleh Tuan Carves. Kau tahu maksud disayang dalam artian ini?" Pelayan menyambung kalimatnya sambil tersenyum miring.
Jesy mengernyit, beberapa detik berpikir Jesy melotot sambil menatap tajam enam pelayan wanita itu. 'Apa maksud mereka … tentang itu?' batin Jesy.
Jesy melotot terkejut, ternyata dia benar-benar belum mengetahui keseluruhan tentang Rical. Jesy tidak menyangka kalau sifat Rical bahkan lebih parah dari dugaannya. 'Sepertinya ini tidak akan mudah,' batin Jesy lesu.
...*****...
__ADS_1
"Ya ampun, akhirnya adikku kembali," ujar Alex senang.
Baru saja Alex akan mendekat ke arah Cara, suara dingin Geo menghentikannya. "Jangan bergerak," peringat Geo.
Alex yang sudah begitu biasa menuruti perkataan Geo, berhenti mendadak secara spontan. Hal itu membuat Cara tertawa, sedangkan Alex yang baru menyadari itu sudah mendengus sambil menatap Geo kesal. "Aku hanya ingin menguapkan rinduku," tutur Alex.
"Cukup dari sana," balas Geo.
Alex melotot sambil berdecak kesal. "Posesif dan pencemburu sekali," ejek Alex.
Cara terkekeh, setelahnya wanita itu menoleh ke arah Farel yang sedari tadi diam ditempatnya. "Siera aman Kak?" tanya Cara.
Farel menoleh dan mengangguk singkat. "Aman Ra," ucap Farel.
__ADS_1
"Kakak tidak membuatnya pipis di celana bukan?" goda Cara.
Alex tertawa mendengar itu. "Kau membuat anak perempuan orang ketakutan? Cobalah untuk lebih ramah Tuan Jhons," ledek Alex.