Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
38. Hamil (lb)


__ADS_3

"Itu bukan urusanmu, minggrilah aku ingin pergi." Jesy yang ingin melangkahkan kakinya dihalangi oleh Cara.


"Aku ingin lihat benda ditanganmu itu," ucap Cara.


"Tidak usah menggangguku sekarang Cara, aku sedang tidak mood untuk bertengkar," sahut Jesy.


"Siapa yang mengajakmu bertengkar? Kau perlihatkan benda itu kepadaku, setelahnya kau boleh pergi," balas Cara santai.


"Siapa kau sehingga aku harus menuruti perkataanmu?" sinis Jesy.


"Aku Lavia Cara Vetro, Nyonya Vetro," jelas Cara.


Jesy tersenyum miring. "Huh, tidak usah menyombong kau," ujar Jesy.


"Aku tidak menyombong Nona Gerisam, bukankah tadi kau bertanya siapa aku? Aku hanya menjawab pertanyaanmu itu," tutur Cara santai.


"Sudahlah, aku ingin pergi." Setelahnya Jesy melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Pats …. Tepat saat Jesy sudah membelakangi Cara, Cara merebut benda kecil yang masih digenggam oleh Jesy. Jesy melotot terkejut. "Kembalikan." Jesy mendekat ke arah Cara sambil berusaha mengambil benda kecil itu lagi.


"Ternyata dugaanku benar." Cara tersenyum miring ke arah Jesy yang sudah menegang ditempatnya. Jesy dengan cepat mengambil benda yang berada di tangan Cara kemudian menyimpannya erat.


"Siapa bapaknya?" tanya Cara santai.


"Apa maksudmu?" Jesy menatap tajam Cara mencoba untuk berkilah.


Cara tertawa mendengar itu. "Kau pikir aku bodoh? Garis dua di testpack itu menandakan kau sedang hamil," ejek Cara.


Jesy terdiam dengan wajah panik. "Aku masih ingat betul beberapa bulan yang lalu kau bertanya hal yang sama kepadaku bukan? Tetapi sekarang malah aku yang balik bertanya, dunia selucu itu ya?" Cara tertawa mengejek ke arah Jesy.


"Apa pun itu, ini bukan urusanmu," tukas Jesy.


"Apakah itu anak Tuan Carves?" celetuk Cara tepat sasaran.


Jesy terkejut, wajahnya sedari tadi pucat. "Apa kau sudah membericarakan ini kepadanya?" tanya Cara lagi.

__ADS_1


"Tidak usah mengurusku bangsat, ini bukan urusanmu. Urus saja kehidupanmu itu." Jesy menatap tajam Cara isyarat akan permusuhan.


Cara terkekeh. "Keluarga Gerisam adalah urusanku, sebab permainanku belum selesai. Jangan kalian pikir karena beberapa bulan ini aku diam, berarti aku sudah melepas kalian? Oh tentu tidak Sayang … aku hanya ingin memberikan kalian waktu untuk bernapas santai sambil memikirkan rencana penyerangan. Namun, tidak aku sangka renacana penyeranganmu malah memakan tuannya sendiri. Ya ampun, padahal sedari dulu sudah aku ingatkan untuk lebih pintar lagi. Kau selalu termakan rencana sendiri ya, sudah tahu tidak bisa menggunakannya malah sok pintar ingin menjadi pendekar." Cara menatap Jesy dengan senyum remeh.


Jesy sudah mengepalkan tangannya merasa begitu terhina. "Aku memang akan membalasmu bangsat, kau lihat saja," geram Jesy.


Cara mengangguk kecil. "Aku bahkan sudah menunggu-nunggu itu semua terjadi, sudah dari lama aku ingin melihat penyerangan kalian. Tetapi sampai sekarang kalian malah tetap berjalan ditempat, oh … yang ada malah mundur. Ingatlah, jika kau mundur beberapa langkah lagi, maka … hidupmu benar-benar akan hancur." Cara bersuara sambil berbisik di ujung kalimatnya.


"Dulu kau memaki-maki aku, menyebutkan sebagai wanita murahan. Ternyata perkataan itu malah sesuai untukmu Nona Gerisam, kau sudah hamil di luar ikatan pernikahan. Kira-kira siapa ayahnya? Oh maksudku … ada berapa ayahnya?" Cara tersenyum miring sambil membalikkan perkataan yang sempat dilontarkan oleh Jesy kepadanya beberapa bulan yang lalu.


Jesy mengepalkan tangannya erat, napas gadis itu memburu merasa begitu marah. Jesy membuang kasar benda kecil yang berada di tangannya saat melihat Cara pergi dari sana dengan tampang mengejeknya. "Wanita sialan," umpat Jesy.


Sedangkan Cara yang sudah berada di pintu toilet dapat melihat keberadaan supirnya yang sedang menunggu di dekat mobil. Langkah Cara terhenti saat tiba-tiba Jesy membisikkan sesuatu kepadanya. "Tidak apa-apa jika aku hamil di luar ikatan pernikahan, aku senang karena sudah jelas aku bisa hamil. Sedangkan kau, sudah tiga bulan menikah tetapi masih belum hamil juga. Wanita itu tidak sempurna jika tidak bisa hamil. Aku rasa ujung-ujungnya Tuan Vetro akan membuangmu karena tidak bisa memberinya keturunan." Jesy tersenyum miring ke arah Cara.


Cara terdiam mendengar perkataan Jesy. Kalimat Jesy kali ini mampu membuat hati Cara was-was, takut dan khawatir. Sebab, memang sampai saat ini wanita itu belum juga hamil. 'Apa yang dikatakan Jesy … benar juga,' batin Cara takut.


Jesy tersenyum miring melihat keterdiaman Cyra. "Bersiap-siaplah dimadu oleh Tuan Vetro, Nyonya Vetro," ejek Jesy.

__ADS_1


Cara menatap datar Jesy, setelahnya wanita itu tersenyum manis ke arah Jesy. "Aku sungguh berterima kasih atas perhatianmu itu Nona Gerisam. Tetapi sepertinya kau lupa jika mamamu itu dulunya juga susah hamil, bukankah mereka mendapatkanmu di saat umur pernikahan mereka sudah berjalan empat tahun?" Cara tersenyum ke arah Jesy yang sudah mengepalkan tangnnya marah sebab Cara selalu bisa mematahkan perkataannya.


Cara berlalu dari hadapan Jesy, mendekat ke arah mobil dengan langkah anggun. Sang supir membukakan pintu mobil, kemudian Cara masuk ke dalam mobil tersebut. Cara membuka kaca jendela mobil itu kemudian tersenyum miring ke arah Jesy yang sedang menatapnya benci.


__ADS_2