
Siera berjalan kesal, semua mata tertuju kepadanya sebab gadis itu terus diikuti oleh dua orang laki-laki. Siera berhenti dan berbalik badan, terlihat dua laki-laki itu juga berhenti melangkah. Siera menarik napasnya dalam dan mencoba tersenyum meski sangat terlibat bahwa itu adalah senyum terpaksa. "Maaf abang-abang berdua, tidak bisakah kalian untuk tidak mengikutiku? Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian seperti ini, keberadaan kalian menarik perhatian mahasiswa lainnya," tutur Siera frustasi.
Selama beberapa hari ini, gadis itu selalu diikuti oleh dua orang laki-laki itu. Termasuk jika gadis itu kuliah dan masuk kelas, entah bagaimana caranya mereka bisa diizinkan masuk oleh dosen. "Maaf Nona, ini adalah perintah. Jadi, kami tidak bisa mengabulkan permintaan Anda kali ini. Kemarin Anda sudah meminta kami untuk tidak memakai seragam Death, kami sudah memakai setelan santai. Jadi, Anda bisa lebih santai Nona," sahut salah satu laki-laki.
"Ya, kalian memang tidak memakai pakaian Death lagi. Tapi, mau pakai pakaian apa pun itu, jika kalian tetap mengikutiku. Kalian tetap menarik perhatian dan aku tetap tidak bisa santai," lesu Siera.
"Maaf Nona, kami hanya menjalankan tugas," balas seorang laki-laki lagi.
"Ya, aku tahu," sahut Siera.
Setelahnya Siera menunduk mencoba manahan rasa kesalnya. "Astaga Cara, perbuatanmu ini sungguh terlalu," gumam Siera lesu. Siera membalikkan badannya lesu dan kembali memulai langkahnya.
.
.
__ADS_1
.
Siera menatap kesal dua laki-laki yang masih mengikutinya bahkan saat gadis itu ingin ke toilet. "Astaga, apa kalian akan terus mengikuti aku sampai ke kamar mandi wanita?" jerit Siera kesal.
Dua laki-laki itu sempat terkejut, mereka menggaruk kepala belakang yang tidaklah gatal. "Kami hanya akan menunggu di depan pintu masuk Nona," papar seorang laki-laki.
Siera mengusap wajahnya kesal. "Ya ampun, aku rasanya ingin pingsan saja." Siera menghentakkan kakinya kembali memacu langkah kesal ke arah toilet mahasiswa.
Siera terus menggerutu kesal. "Awas saja Nyonya Vetro itu, saat dia pulang dari bulan madu romantisnya itu. Aku akan memberinya perhitungan sudah membuat aku malu seperti ini. Dia pikir aku masih anak kecil apa? Yang harus diikuti ke mana-mana," gerutu Siera kesal.
Siera melotot, setelahnya gadis itu menatap tajam wanita itu. Siera mendekat ke arah wanita itu dan berkacak pinggang angkuh. "Apa kau bilang? Coba ulang," ucap Siera.
"Kau sengaja membawa mereka ke toilet, sebab ingin melakukan hal yang aneh kan. Modus sekali kau," sahut perempuan yang satunya.
Siera tertawa. "Ya, aku memang sedang ingin melakukan sesuatu sekarang. Sebab aki sedang merasa begitu kesal, sepertinya kalian boleh mejadi pelampiasan." Siera tertawa sinis.
__ADS_1
Dua perempuan itu melotot. "Apa maksudmu?" sanggah seorang perempuan.
"Aku sedang ingin mematahkan tangan seseorang. Aku kemarin mendapat gerakan baru dari pelatihku untuk akademi nanti. Apa kalian ada yang bersedia menjadi percobaan?" bisik Siera.
Dua perempuan itu meneguk ludahnya kasar. "Tidak usah sok karena kau seorang atlet karate kampus, kami bisa melaporkanmu dan membuatmu ditendang dari kampus ini," balas salah satu perempuan.
Siera tertawa keras sambil bertepuk tangan senang. "Itu kalau seandainya aku yang mematahkan tangan kalian bukan? Bagaimana kalau aku menyuruh mereka?" Siera menunjuk dua laki-laki yang masih setia di belakangnya.
Dua perempuan itu melotot terkejut. "Jangan macam-macam kau Siera. Orang tuaku bisa marah besar kalau kau bermain-main denganku. Bisnis kafe kecilmu itu tidak akan mampu bersaing dengan perusahaan orang tuaku," papar seorang wanita sombong.
"Sayangnya aku tidak peduli itu," ejek Siera, "hei, abang-abang … patahkan tangan mereka berdua," ucap Siera santai.
Dua perempuan itu melotot terkejut, wajah mereka memucat saat dua laki-laki itu mulai mendekat ke mereka. "Jangan gila Siera, suruh mereka berhenti," teriak dua perempuan itu.
Siera tertawa melihat wajah takut dua perempuan itu. "Aku beri kalian waktu tiga menit untuk melarikan diri. Jika dalam waktu tiga menit aku masih dapat melihat tubuh kalian meski seinci pun … bersiap-siaplah untuk hidup tanpa tangan." Siera bersuara santai sambil melihat kuku jari tangannya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba dua perempuan itu berlari kencang mencoba menyembunyikan tubuh mereka dari jangkauan mata Siera. Aksi dorong mendorong antara dua perempuan itu membuat Siera tertawa bahkan sampai mengeluarkan air mata. Siera memegang perutnya merasa begitu terhibur oleh aksi ketakutan dan penyelamatan diri dari dua perempuan itu. "Astaga, perutku sakit," ucap Siera disela tawanya.