Pembalasan Istri Mafia

Pembalasan Istri Mafia
145. Ke Dokter (lb)


__ADS_3

"Apa boleh aku mengurung kamu setiap hari seperti ini?" bisik Geo.


"Boleh, aku tidak masalah. Yang penting bersama Kak Ge," balas Cara.


Geo tersenyum mendengar perkataan Cara. "Kita ke dalam kamar ya, Sayang," ajak Geo.


"Ayo, aku juga serasa ingin berbaring. Sebelum nanti kita berangkat," sahut Cara.


Mendengar kalimat persetujuan istrinya, Geo menegakkan tubuhnya dan mulai membawa sang istri ke dalam kamar. Secara perlahan dan begitu hati-hati, Geo menidurkan tubuh Cara di atas kasur kingsize itu. "Aku ambil laptop dulu ya, Sayang. Farel mengirimkan berkas penting, jadi harus aku periksa hari ini. Tidak apa-apa?"


Cara tersenyum sambil mengangguk menatap wajah tampan suaminya. "Iya, kasihan beberapa minggu ini Kak Farel sibuk sendirian karena mood kerja Daddy tidak bagus."


Geo terkekeh mendengar itu, laki-laki itu mendekat dan mel***t lembut bibir istrinya. Hanya beberapa detik, setelahnya laki-laki itu beralih ke leher Cara. Hanya sekedar mengecup, tidak lebih. "Setelah selesai dengan itu, aku ingin menjenguk baby kita," bisik Geo.


"Cepatlah," balas Cara.


...*****...

__ADS_1


"Kak," panggil Siera.


Farel menoleh dan menatap Siera dengan wajah datar seperti biasa. "Cara katanya ingin membuat akuarium dan ladang anggur mini. Bisa antarkan aku ke sana nanti? Cara menyuruhku ke sana," ungkap Siera.


Beberapa bulan bersama, membuat Siera mulai terbiasa dengan kehadiran Farel. Meski masih ada sedikit rasa gugup dan malu, setidaknya gadis itu sekarang sudah berani bersuara. "Baiklah, sekarang ingin apa?" tanya Farel.


'Ingin segera kamu persunting,' sahut Siera di dalam hati. Mengingat itu membuat pipi gadis itu merah dengan sendirinya.


Sedangkan Farel yang tidak mendapatkan jawaban menoleh ke arah Siera. Kening laki-laki itu berkerut saat melihat wajah Alisa berubah memerah. "Kamu kenapa? Sedang sakit? Kenapa wajah kamu memerah?" celetuk Farel.


Darah Siera berdesir saat merasakan tangan kekar Farel menyentuh kulit wajahnya. Telinga gadis itu memanas ketika tangan kekar itu tidak sengaja menyenggol telinganya. Mata Farel memicing saat melihat wajah Siera malah semakin memerah. "Ayo ke rumah sakit." Farel berdiri dan menarik pelan tangan Siera.


"Kamu, wajahmu semakin memerah," kata Farel datar.


'Astaga, untung dia kaku. Aku menjadi tidak perlu malu,' batin Siera.


"Aku tidak apa-apa, Kak. Ini hanya karena aku sedang gerah," kilah Siera.

__ADS_1


Kening Farel kembali mengernyit, setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah AC yang berada di ruangannya. "Apa aku kurangi suhunya?" tanya Farel.


"Eh, tidak usah, Kak. Ini sudah lebih baik, lihatlah … sudah tidak merah bukan?" cetus Siera.


Mendengar itu Farel membungkukkan tubuhnya dan menatap intens wajah Siera. Mata Siera melotot melihat itu, jarak antara dirinya dengan Farel sungguh sangat dekat. 'Kalau begini, pasti semakin merah,' batin Siera frustasi.


"Masih tidak berubah, aku kurangi saja suhunya." Tanpa bertanya lagi, Farel mengurangi suhu AC ruangan kerjanya.


'Bisa menggigil aku kalau di sini,' batin Siera panik.


"Ekhm … Kak, aku keluar dulu ya. Ingin mengambil air," kata Siera beralasan.


"Kamu haus, aku akan minta pelayan mengantarkan ke sini. Kamu ingin minum apa?"


"Bu-bukan, tidak usah. Aku … sebenarnya sedang suntuk di sini, iya begitu. Boleh aku jalan-jalan keluar?" papar Siera.


"Baiklah, ayo aku temani."

__ADS_1


"Bukannya pekerjaan Kakak banyak? Aku tidak apa-apa keluar sendiri, aku hanya akan duduk di pendopo halaman mansionmu."


"Aku bisa membawa pekerjaanku di sana." Siera menghela napas pelan mendengar jawaban Farel.


__ADS_2